
Tepat jam 18.55 wib, Mumu kembali ke tempat keluarga Pak Aripin.
"Bagaimana, Pak?" Tanya Mumu untuk memastikan.
"Masuk dulu, Mumu!" Pak Aripin tak langsung menjawab. Ia mempersilahkan Mumu untuk naik ke atas.
Setelah Mumu masuk, dia langsung menutup pintu bilik agar tak ada yang melihat sehingga bisa menganggu proses pengobatannya nanti.
Melihat tindakan Mumu, Buk Yanti, istri Pak Aripin sedikit khawatir, tapi Pak Aripin segera tersenyum dan menganggukkan kepalanya ke arah istrinya untuk menenangkan.
Lewat kekuatan spiritualnya Mumu tahu sikap Buk Yanti terhadapnya tapi ia tak berusaha untuk menjelaskan.
Setelah menutup pintu, Mumu menoleh ke arah Pak Aripin meminta kepastian.
Setelah melirik ke arah istrinya sebentar, Pak Aripin memganggukkan kepalanya dan berkata, "Lanjut saja, Mumu. Kami berdua setuju."
Buk Yanti tersenyum mengiyakan. Walaupun dia masih ragu dan tak tahu bagaimana cara mengobatan Mumu, tapi karena suaminya sudah setuju tak mungkin pula dia akan membantahnya
Mumu segera mengeluarkan sebanyak 108 jarum akupunturnya. Selama ini jarang ia mengeluarkan sebanyak itu ketika menyembuhkan seseorang.
Demi melihat cedera yang dialami anak gadis yang didepannya ini, Mumu hanya bisa melakukannya yang terbaik.
"Berbaring dengan tenang saja ya, Tiara. Jangan lihat ke sini. Kamu ingin bermain sama teman-teman di sekolah seperti mana biasanya kan?" Tiara mengangguk.
"Kalau begitu, kamu fokus saja pikiran kamu ke sana." Mumu lalu melirik Buk Yanti dan berkata, "Apa pun yang terjadi, ibuk tak boleh membuat gerakan yang bisa menganggu proses pengobatan saya. Jika hal itu sampai terjadi maka kaki Tiara benar-benar tidak punya harapan lagi."
Mumu sengaja mewanti-wanti Buk Yanti, karena dia meragukan Mumu.
Sebenarnya Mumu tak masalah akan hal tersebut.
Cuma takutnya dia tiba-tiba menganggu proses pengobatan Mumu.
__ADS_1
Hal ini tentunya bukan berita baik baginya dan juga bagi Tiara.
Jika ini di tempat biasa Mumu lebih suka Buk Yanti tidak berada di ruangan yang sama ketika ia mengobati seseorang, tapi tentu saja dalam kondisi saat ini, hal tersebut mustahil untuk dilakukan.
Setelah menusuk sebanyak 108 jarum akupuntur di berbagai titik saraf sepanjang ibu jari hingga lutut, Mumu segera berkonsentrasi dan mulai menyuntikkan tenaga dalamnya melalui 108 jarum akupuntur tersebut untuk mulai memasuki jaringan saraf, urat, daging dan tulang Tiara dan mulai memperbaikinya perlahan-lahan.
Pak Aripin menyaksikan proses pengobatan yang dilakukan oleh Mumu dengan dada yang berdebar-debar.
Walaupun dia percaya dengan Mumu, selama hidupnya baru kali ini dia melihat proses pengobatan seperti itu sehingga wajar saja dia menjadi sedikit takut.
Berbeda dengan Pak Aripin, Buk Yanti hampir saja menjerit, ingin memprotes tindakan Mumu saat melihat satu per satu jarum akupuntur dicucukkan di kaki anaknya yang cedera.
Tapi untunglah dia masih bisa menahan dan menutup mulutnya rapat-rapat, takut jika anaknya bertambah cedera.
Apa lagi saat melihat tatapan keras dari suaminya sehingga Buk Yanti hanya bisa terdiam.
Tiara merasakan ada aliran dingin yang memasuki setiap sel-sel dalam kakinya membuat dia merasa sangat nyaman. Dia merasakan aliran tersebut mampu merangsang kekuatan dan memperbaiki dan meregenerasi tulangnya yang sebagian besar telah hancur.
Pada hal semenjak dia mengalami cedera jarang dia bisa tidur dengan nyenyak karena rasa nyeri yang terus menerus menyerang kakinya.
Pak Aripin dan istrinya tentu saja menyadari apa yang terjadi, apa lagi saat mendengar dengkur halus dari putri mereka, mereka berdua hanya bisa terpana dan berusaha menutup mulut mereka yang ternganga lebar.
Tanpa sadar mereka mengalihkan pandangannya ke arah Mumu. Kali ini pandangan mereka penuh dengan rasa hormat.
Ternyata tidak mudah untuk menyelesaikan pengobatan dalam sekali jalan. Tenaga dalam Mumu semakin menipis sehingga ia perlu mengentikan pengobatannya sebentar untuk mengisi ulang tenaga dalamnya yang terkuras.
Setelah mengelap keringatnya yang bercucuran, Mumu langsung meminum kopi yang disediakan oleh Buk Yanti bagaikan meminum air biasa, sekali teguk langsung habis.
"Maaf, Pak, Buk, saya perlu istirahat sebentar," Ujar Mumu dengan tersenyum malu. Lalu ia langsung mengambil posisi meditasi tanpa memperdulikan keduanya yang masih melongo melihat Mumu meminum kopi dalam sekali teguk.
Pak Aripin mencoba mencicipi kopinya, "Uh, panas," Desisnya. Bagaimana Mumu bisa tahan pada hal kopi dia dan kopi Pak Aripin dibuat dalam waktu yang bersamaan.
__ADS_1
Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya tak mengerti. Pemuda itu penuh dengan hal-hal yang misterius.
Setelah sepuluh menit berlalu, Mumu membuka matanya, ia melihat Pak Aripin dan istrinya masih duduk dalam diam sedangkan Tiara masih tidur dengan nyenyak.
Walaupun belum tahu hasil akhir pengobatan Mumu, melihat anaknya sudah bisa tidur dengan nyenyak tanpa terganggu dengan rasa nyeri pada kakinya sudah membuat Pak Aripin dan istrinya sangat senang.
"Saya akan melanjutkan lagi, Pak, Buk."
Silahkan, Mumu." Ucap mereka berbarengan.
Tanpa membuang waktu lagi Mumu langsung melanjutkan proses pengobatannya. Walaupun tenaga dalamnya belum pulih sepenuhnya tapi hal ini sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
Bagaimana pun juga proses pengobatan yang pertama tadi sudah mencapai hingga enam puluh persen.
Mumu kembali fokus menyuntikkan tenaga dalamnya sedikit demi sedikit melalui jarum akupuntur dan mulai memperbaiki tulang Tiara yang sudah mulai membaik.
Seperempat jam kemudian tulangnya kembali tumbuh dan memperbaiki sendiri.
Jika orang-orang bisa melihat, mereka pasti tak akan percaya.
Tulang yang seharusnya tidak punya harapan untuk disembuhkan sekarang mulai membaik kembali seperti semula.
Semua proses tersebut tidak bisa dikatakan lambat tapi juga tidak bisa disebut cepat.
Sambil terus menyuntikkan tenaga dalamnya, Mumu terus memantau dengan kekuatan spiritualnya.
Tanpa terasa satu jam lagi telah berlalu. Tenaga dalam Mumu sudah hampir habis kembali. Tapi ia tidak mencoba beristirahat kali ini, ia terus memaksa tenaga dalamnya hingga batas maksimal karena pengobatannya sudah hampir selesai.
Sepuluh menit kemudian dengan nafas yang terengah-engah dan tangan yang sedikit gemetar Mumu kembali mengumpulkan ke 108 jarum akupunturnya, lalu ia berkata kepada Pak Aripin, "Pengobatannya sudah selesai, Pak. Kaki Tiara sudah sembuh sepenuhnya. Tapi perlu waktu sekitar seminggu baru dia diperbolehkan untuk berjalan kembali.
Jadi saya kira Bapak dan Ibuk tak perlu lagi membawa Tiara ke Pekanbaru. Saya permisi dulu."
__ADS_1
Mumu lalu membuka pintu bilik dan dengan tertatih-tatih berjalan meninggalkan Pak Aripin serta istrinya yang masih bengong sehingga mereka berdua terlambat menyadari bahkan tanpa sempat mengucapkan apa-apa pun kepada Mumu, saat mereka menoleh, Mumu sudah tidak ada lagi.