
Begitu juga dengan Agus Deka, dia tak bisa menutupi kegembiraan dan menghembuskan nafas lega karena Mumu sudah datang ke sini.
Dia lebih yakin lagi bahwa Mumu pasti mampu mengeluarkan racun dalam tubuh Niken.
'Sedangkan Randi yang dalam keadaan sekarat saja bisa disembuhkan apa lagi Niken' begitulah yang dipikirkan oleh Agus Deka.
Agus Deka bukan hanya percaya kepada Mumu tapi dia sudah membentuk semacam sikap fanatisme, bahwa apa pun yang Mumu lakukan pasti akan berhasil, makanya dia yang bersikeras memujuk Buk Larasati untuk meminta bantuan dari Mumu dan segera meninggalkan RSUD.
Agus Deka adalah orang yang cerdas dalam membaca situasi, sehingga dia yakin Mumu tak akan mau menolong Niken jika mereka masih berada di RSUD.
Satu-satunya kekurangan Agus Deka adalah dia tidak bisa membaca isi hati dan sikap Niken terhadapnya selama ini.
Setelah meneguk teh yang telah disajikan, Mumu meminta izin untuk segera memeriksa dan mengobati Niken karena ada hal penting yang harus ia lakukan malam ini.
Sebenarnya kata-kata itulah yang ditunggu Buk Larasati dari tadi. Cuma dia malu untuk menanyakan.
"Silahkan, Nak Mumu." Buk Larasati membawa Mumu ke tempat Niken yang diikuti oleh Pak Rustam dan Agus Deka.
Mumu segera memindai tubuh internal Niken, memang masih terdapat racun dengan jumlah yang lumayan di dalam lambung Niken.
Walaupun sudah berkali-kali dikeluarkan secara paksa oleh petugas medis, nyatanya masih terdapat banyak racun yang mengendap di lambungnya. Jadi wajar saja kondisi Niken masih sangat lemah.
Setelah selesai memindai dan mengambil kesimpulan, Mumu berkata kepada Buk Larasati, "Tolong siapkan sebuah mangkok besar dan air minum hangat, Buk."
Mendengar hal itu, Buk Larasati bergegas menuju dapur.
Kali ini Mumu tidak serta merta menggunakan tenaga dalamnya untuk menetralisir racun yang ada di lambung Niken. Ia memilih cara biasa yaitu dengan menotok beberapa bagian saraf di punggung Niken, segera setelah itu Niken pun memuntahkan sebagian besar racun tersebut.
Setelah itu, tanpa kentara, Mumu membuat gerakan seujung kuku jaraknya dari perut Niken, membersihkan sisa-sisa racun di lambungnya.
Tak lama kemudian, wajah Niken pun mulai berubah agak kemerahan, tidak pucat lagi.
__ADS_1
Bahkan dia sudah mampu untuk duduk.
"Beri dia minuman air hangat sedikit demi sedikit, Buk! Insya Allah dia sudah sembuh. Nanti kasi dia makan bubur dan buah-buahan yang lembut dan tidak mengandung asam."
'Hanya seperti itu saja?' Mulut Agus Deka ternganga lebar tanpa sadar.
Dia sangat tercengang, 'Apakah mengobati keracunan hanya semudah itu?'
Dia jadi ragu sebenarnya Niken telah menenggak racun atau hanya sekedar meminum syrup.
Agus Deka ingat benar, dari mulai saat Mumu menekan punggung Niken, lalu disertai dengan muntah dan yang terakhir Niken sudah bisa duduk sambil minum air putih hangat waktu yang telah dihabiskan tidak lebih dari empat menit.
Empat menit yang singkat sudah bisa mengeluarkan racun yang membuat orang bisa ma*i.
Bahkan Agus Deka menduga, jika ada kolak durian di hadapan Niken sekarang, mungkin dia sudah mampu untuk melahapnya.
Buk Larasati menekan dadanya melihat kemampuan Mumu dalam mengeluarkan racun dari dalam tubuh anaknya, Niken.
Tapi dia dengan cepat dapat mengatasi rasa terkejutnya.
Dalam hati, dia sangat bersyukur atas kesembuhan putri mereka. Di samping itu juga dia sangat beruntung karena mau mendengarkan pendapat Agus Deka untuk meminta pertolongan kepada Mumu.
Jika saja dia menolaknya, dia tak tahu sampai kapan anaknya akan terus menderita akibat racun yang telah diminumnya.
Di antara mereka bertiga, hanya Pak Rustam yang belum tahu kemampuan Mumu dalam ilmu pengobatan.
Dia baru mendengarnya saat istrinya minta izin untuk membawa putri mereka pulang dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan.
Dia akhirnya menyetujui keinginan istrinya bukan karena dia percaya kepada anak muda itu. Dia hanya tak ingin berselisih paham dengan istrinya yang mengakibatkan retaknya hubungan rumah tangga mereka.
Oleh karena itu dia tak terlalu banyak berharap saat melihat kedatangan Mumu ke rumah mereka. Sehingga dia lebih banyak diam, tak ada selera mau mengajak Mumu masuk ke dalam pembicaraan.
__ADS_1
Masalahnya sikap dan penampilan Mumu tidak mencerminkan sebagai seorang tabib yang mumpuni.
Mumu masih terlalu muda dan sikapnya sangat biasa sehingga di hati kecil Pak Rustam tidak mempercayainya sama sekali. Jika bukan karena ada istri dan Agus Deka, mungkin dia akan langsung mengusir Mumu saat melihat dia pertama kali datang.
Untunglah dia tidak berbuat seperti itu. Walau bagaimanapun juga di hati Pak Rustam kini terselip rasa malu karena telah dengan sengaja bersikap cuek terhadap Mumu tadi.
Saat melihat kelihaian pengobatan Mumu, Pak Rustam hanya bisa mendesah dalam hati, 'Apakah orang di luar sana tidak pernah belajar tentang ilmu pengobatan?' Tapi itu hanyalah penilaian sesaatnya saja.
Pada awalnya Niken sudah berniat untuk ma*i. Dia menyangka dengan menenggak seperempat botol racun maka dia akan langsung ma*i. Hidupnya sudah selesai. Tak ada lagi kesedihan, tak ada lagi rasa sakit dan tak ada lagi beban dalam menjalani hidup ini.
Semua bebas!
Tapi saat racun mulai memasuki tenggorokannya, dia tahu bahwa dia terlalu meremehkan rasa sakit dalam proses menuju kematian itu sendiri.
Dia ingin berteriak, dia ingin memuntahkan kembali racun tersebut tapi sudah terlambat untuk itu.
Dalam menahan sakit yang menyiksa dia hanya bisa menyesali kebod*hannya sendiri karena telah berpikir terlalu sempit. Seharusnya hidupnya masih panjang, tapi dia malah ingin mempersingkatnya. Karena tak tahan lagi menahan siksaan rasa sakit yang menyayat-nyayat tubuhnya, akhirnya dia pun pingsan.
Seandainya waktu bisa diputar ulang, Niken tak akan pernah mau melakukan tindakan konyol ini, sebuah perbuatan yang menyiksa diri sendiri.
Di RSUD dia dipaksa untuk memuntahkan semua racun yang telah dia telan, bukannya dia tak mau, tapi tak bisa. Rasanya semua organ dalam tubuhnya dipaksa untuk keluar. Sakit sekali.
Tubuhnya sangat lemah, dia tak berdaya. Sekujur tubuhnya sakit semua.
Sekali lagi rasa penyesalan muncul di hatinya. Tapi apa mau dikata.
Untunglah saat dia diambang ketidakberdayaan akibat rasa sakit yang menyiksa, seorang pemuda yang sederhana membalikkan tubuhnya dengan perlahan lalu menotok beberapa bagian di punggungnya.
Warna merah karena jengah sempat muncul di wajahnya yang pucat tapi hanya sebentar. Dia merasa malu karena tubuhnya dipegang oleh orang asing. Dia ingin protes, tapi dalam pada itu juga, entah mengapa dia merasa nyaman. Ini tak ada hubungannya dengan kenyamanan saat dia memuntahkan seluruh sisa-sisa racun yang masih mengendap di lambungnya. Rasa nyaman ini terasa agak lain.
Saat dia ingin mecerna penyebab rasa nyaman yang tidak bisa dia jelaskan itu, anak muda sederhana tadi telah menyudahi pengobatannya dengan menyuruh Niken dalam posisi duduk.
__ADS_1