
Itu masih lah sebatas rencana. Mengenai kapan realisasinya hanya bisa melihat situasi dan kondisinya dahulu.
Setelah mandi, Mumu segera menuju pelabuhan Pasar Juling. Pelabuhan tempat persinggahan motor laut yang membawa penumpang dari pulau-pulau sekitar Kabupaten Meranti ini bukanlah termasuk pelabuhan resmi.
Pelabuhan atau tempat persinggahan ini seyogyanya hanyalah berupa dapur atau bagian belakang toko-toko milik orang Cina yang langsung menghadap ke arah laut.
Awalnya Mumu berencana menitipkan barang-barang untuk orang tuanya kepada Kep. Kep adalah panggilan bagi mereka yang membawa atau mengemudi motor tambang tersebut.
Tapi rencananya berubah seiringan waktu.
Saat ia melewati Pasar Pagi, tempat orang jualan segala macam ikan, sayur dan perlengkapan memasak lainnya, tanpa sadar sudut matanya melihat Jufri, teman sekampungnya yang mempunyai perawakan tinggi besar sedang berbelanja di sebuah toko sebelah kiri pasar.
Toko tersebut menjual berbagai macam alat-alat pertukangan dan pertanian. Seperti ketam listrik, chainsaw, pompa racun untuk tanaman dan berbagai jenis alat pertukangan lainnya.
Pekerjaan Jufri memang menebang kayu untuk diolah menjadi papan dan beluti.
Mumu pun segera memarkirkan motornya dan mendekati Jufri dengan diam-diam.
Saat itu ia mendengar Jufri berkata dengan nada memujuk, "Bisa lah Bar Senso ini aku ambil dengan harga dua ratus sembilan puluh ribu, Bos, aku kan sering juga belanja di sini." Rupanya Jufri sedang menawar harga barang.
"Mana bisa! Ini Bar 22 Inci punya. Asli lagi. Harga pas tiga ratus lima puluh ribu. Tak bisa kurang lagi. Itu pun aku hanya ambil untung sedikit punya." Pemilik toko itu bertahan.
"Tapi di toko sebelah harganya bisa dua ratus sembilan puluh ribu, Bos."
Mendengar tokonya dibanding-bandingkan dengan toko orang lain membuat alis pemilik toko naik sebelah. Setelah menarik napas dalam-dalam, dia segera menyemburkan kata-katanya dengan berapi-api, "Barang itu tidak asli kalau kamu mau tahu. Aku bisa jamin, baru pakai sebentar saja sudah baling dia punya Bar. Aku juga ada barang seperti itu. Kalau kamu mau, kamu cukup bayar dua ratus tujuh puluh ribu. Cincailah..."
Jufri hanya bisa nyengir kuda, "Tak usah lagi, Bos. Aku mau beli yang asli saja."
Pemilik toko itu mendengus mendengar jawaban Jufri.
"Aku sudah buka toko bertahun-tahun. Barang di toko ini memang agak mahal dibanding toko lain. Tapi dari segi kualitas, aku bisa jamin jika barang di toko kami nomor satu punya. Kamu bisa tanya sama orang-orang yang sudah pernah belanja di sini. Mereka pasti puas. Aku tak bohong. Coba saja kalau kamu tak percaya." Mendengar pidato pemilik toko, Jufri hanya bisa mundur teratur. Dengan kepala tertunduk lesu dia meninggalkan toko.
Dia tahu barang di toko sebelah itu tidak asli bahkan dia sudah pernah membelinya. Baru seminggu yang lalu Bar tersebut sudah rusak, baling, tidak lurus lagi.
Makanya dia terpaksa berutang sama Tokehnya untuk membeli Bar baru, yang asli, tapi harganya terlalu tinggi. Uangnya cuma ada tiga ratus ribu.Belum lagi mau beli makanan pesanan orang tuanya. Dia jadi galau. Di mana dia bisa dapatkan pinjaman uang di kota Selatpanjang ini. Tak ada orang yang dikenalnya.
__ADS_1
Jika pun ada, belum tentu orang tersebut mau ngasi pinjaman.
Saking kalutnya hatinya sehingga dia tidak memandang kiri kanan lagi. Mumu yang berdiri tak jauh darinya tak jadi untuk menyapanya.
Setelah Jufri pergi Mumu segera mendekati pemilik toko, "Bos, kasi aku Bar yang 22 Inchi."
Pemilik toko menatap Mumu dari atas sampai ke bawah. Seolah-olah perkata, 'Kamu tak ada tampang seperti penyenso kayu'.
"Kamu mau yang beli yang asli apa yang kw? Aku beri tahu ya..."
"Yang asli saja, Bos." Mumu langsung memotong pidato pemilik toko. Ia sudah faham, jika ia mendengarkan pidato pemilik toko tersebut entah berapa lama lagi ia berada di toko ini.
"Bisa tolong antar ke pelabuhan nanti, Bos? Kasi sama sama Kep. Tolong tulis di situ untuk Jufri Pulau Merbau."
"Bisa....bisa...kami pun mau ngantar barang ke sana..."
"Berapa ongkosnya, Bos?"
"Harga Bar asli tiga ratus lima puluh ribu. Ongkosnya sepuluh ribu jadi totalnya tiga ratus enam puluh ribu rupiah."
Mumu mengeluarkan uang dan membayarnya. Setelah itu ia langsung menuju Jufri. Ia tahu di mana biasanya Jufri mangkal.
"Hei, Juf..." Sapa Mumu.
Jufri terkejut. Dia memandang sekeliling. Saat melihat Mumu memandang sambil menyunggingkan senyum, dia sontak berdiri dan melambaikan tangannya.
"Sini, Mumu! Ngopi...."
Setelah bersalaman Mumu segera duduk.
"Kak, kopi dua, lontong dua." Pesan Mumu.
"Aku dah sarapan, Mumu. Mengapa kamu pesan dua porsi?" Tanya Jufri dengan wajah agak memerah.
Mumu tahu Jufri belum sarapan. Cuma dia malu. Tak enak hati untuk mengusahkan kawan.
__ADS_1
Dia masih menganggap Mumu seperti dulu, yang selalu kekurangan uang seperti dirinya. Ini lah alasan Mumu tak mau langsung menyapa Jufri dan menawarkan bantuan saat di toko tadi.
"Kan tak masalah sarapan sampai dua kali kan, Juf." Jawab Mumu dengan enteng.
"Oh ya, Juf, aku minta tolong bawakan barang untuk Bapak dan Emakku. Apakah bisa?"
"Kamu anggap aku ini apa sampai harus bertanya-tanya lagi. Mana barangnya? Nanti aku bawakan."
"Oke, makasih, Juf."
Tak lama kemudian pesanan mereka pun datang. Mumu menemani Jufri sarapan walaupun ia masih kenyang. Sedangkan Jufri langsung menghabiskan bagiannya dengan cepat. Rupanya dia benar-benar lapar. Hal ini bertentangan dengan ucapannya tadi yang mengatakan bahwa dia sudah sarapan.
Tapi Mumu tak mempermasalahkan hal tersebut.
Itu apa kamu beli, Juf?" Mumu menunjuk sebuah barang dalam kantong plastik besar.
"Kipas angin, Mumu. Untuk Bapak ku. Baru-baru ini dia sulit tidur jika tak ada kipas angin."
"Berapa satu, Juf?"
"Dua ratus setengah, Mumu."
"Jadi kamu ke Selatpanjang karena mau beli ini saja?" Pancing Mumu.
"Hmm...Iya, Mumu. Minggu depan aku ke sini lagi mau beli peralatan Senso. Kalau kamu mau ngirim sesuatu datang saja ke sini."
"Belumlah, Juf. Mungkin lain kali saja. Terima kasih atas tawarannya."
Sungguh seorang pria yang berbakti kepada orang tuanya.
Dia lebih memilih membeli kipas angin untuk Bapaknya dari pada membeli Bar Senso.
Mumu sangat terenyuh dengan sikap Jufri.
Selain itu dia tak mau menceritakan kesusahannya kepada Mumu, walaupun dia sangat membutuhkan pertolongan itu saat ini.
__ADS_1
"Oh ya, kamu sudah dapat kabar belum tentang Marni? Mantan kamu dulu."
"Ada apa dengan Marni? Aku tak mendapat kabar apa-apa." Tanya Mumu dengan penasaran.