TABIB KELANA

TABIB KELANA
48.


__ADS_3

Saat Mumu mendekati pembaringan, telinganya yang tajam melebihi orang kebanyakan mendengar suara ribut-ribut di kejauhan. Saat suara itu sampai di luar rumah baru lah orang-orang yang di ruangan itu ikut mendengarnya pula.


"Amran, coba lihat ada apa di luar!" Berkata Pak Saim.


"Baik, Yah..."


Belum sempat Amran keluar, seorang penjaga datang dengan tergesa-gesa. Wajahnya panik saat berkata, "Banyak orang di luar ngamuk ingin bertemu dengan mu, Amran."


"Siapa mereka? Apa masalahnya?"


"Mereka dipimpin oleh si Tendangan Seribu, Andre.


Raut wajah Amran berubah. Dia sangat kenal dengan si sombong Andre itu. Dia adalah tangan kanan Abangnya. Sikapnya beringas, kejam, tanpa belas kasihan.


Dia sangat berambisi untuk menguasai para preman yang ada di Selatpanjang, tapi Abangnya kurang setuju. Sudah cukup bagi mereka untuk menguasai wilayah Pasar Juling saja.


Andre menguasai bela diri semacam karate. Tendangannya sangat cepat dan keras.


Dalam kumpulan mereka tak ada yang bisa menahan serangan tendangannya yang beruntun itu lebih dari tiga jurus. Hanya Abangnya seorang yang bisa menundukkannya sehingga Ande memilih takluk pada Handoko.


Tak tau dalam urusan apa dia tiba-tiba datang ke sini.


"Siapa mereka, Amran?" Tanya Pak Saim.


"Teman-teman Bang Handoko, Yah. Biar aku temui mereka dulu. Pintu ini dikunci saja. Jangan biarkan sesiapa pun masuk ke sini, Yah." Setelah berkata begitu, Amran segera keluar. Dia mengatur beberapa orang untuk berjaga di depan pintu, setelah dirasa cukup, dia pun langsung keluar.


Di halaman lebih kurang dua puluh orang pria berkumpul yang dipimpin oleh seorang laki-laki tinggi dan atletis.


Otot-ototnya tampak menonjol terbentuk dengan sempurna. Dia lah Andre, orang kanan abangnya dulu.


"Mengapa kamu membawa orang-orang ke sini, Ndre? Kamu kan tahu setiap urusan perkumpulan dibahas dan diselesaikan di markas."


"Urusan perkumpulan tak ada hubungannya dengan kamu, Amran. Kamu adalah orang luar, tak berhak ikut campur. Jadi simpankan saja segala omong kosong mu itu?" Sembur Andre dengan nada sinis.

__ADS_1


Walaupun Amran sesekali ikut andil dalam urusan perkumpulan, hal itu karena pengaruh Handoko yang bertindak sebagai Ketua, sedangkan Amran memang belum masuk ke perkumpulan itu secara resmi.


"Jadi kenapa kamu ingin menemuiku dengan membawa orang-orang ke sini?" Secara tak langsung Amran sudah mengakui bahwa dia memang tak punya hak untuk ikut campur dalam urusan perkumpulan.


"Ha ha jangan merasa sok penting, Amran! Aku ingin bertemu denganmu bukan karena akan membahas urusan perkumpulan. Kami ingin bertemu Handoko."


Mendengar perkataan Andre, semua pria yang ikut dengannya juga tertawa serempak seolah-olah mengejek sikap Amran yang kekanak-kanakan itu.


Wajah Amran memerah campuran antara marah dan malu.


Ada keganjilan dari perkataan Andre. Biasanya dia memanggil Abangnya dengan panggilan ketua tapi sekarang dia hanya menyebut nama abangnya secara langsung.


Perasaan Amran semakin tak enak.


"Abangku lagi istirahat jadi dia tak bisa menemukan kalian untuk saat ini!" Amran berusaha menguatkan hatinya saat mengingat kondisi Abangnya. Jangan sampai orang-orang ini tahu perkara yang sebenarnya. Bisa kacau urusan.


Andre menatap Amran dengan pandangan meremehkan. "Aku tidak sedang minta izin dengan mu untuk menemui Handoko." Dengusnya.


"Abangku lagi butuh istirahat sehingga memang tak bisa diganggu. Bagaimana jika kalian menemui Abangku di Markas seminggu lagi?"


Walaupun Amran tahu Mumu tidak mampu untuk mengobati Abangnya apa lagi nasib Abangnya saat ini entah masih hidup atau benar-benar telah meninggal dunia, tapi tak dapat dipungkiri di hati kecilnya masih terdapat secuil harapan supaya terjadi sebuah keajaiban.


"Ha ha ha, Amran....amran, kamu anggap kami ini apa hah? Kamu sangka kami ini anak kecil yang bisa kamu suguh dengan dongeng pengantar tidur? Andre tertawa sinis, tangannya menunjuk wajah Amran.


"Kamu pikir kami tak tahu kalau Handoko sekarang lagi sekarat? Bahwa dokter di RSUD pun tak mampu untuk mengobatinya. Ha ha jangan mimpi kamu, Amran....!!! Informasi sederhana seperti itu mana bisa kamu sembunyikan dari kami." Andre terkekeh senang. Dia puas melihat raut wajah Amran yang kusut dan cemas.


"Sekarang apakah kami sudah boleh mengunjungi Abang mu yang sedang sekarat itu? Atau apakah perlu kami membawa karangan bunga terlebih dahulu?"


"Jangan keterlaluan kamu, Ndre!" Amran benar-benar emosi. Perkataan Andre tepat sekali menusuk di pusat jantungnya. Perih.


Biar diri pribadi dihina dia masih bisa tahan tapi jika ini menyangkut Abangnya yang dia idolakan, dia tak bisa menerimanya itu. Tidak bisa!


"Kalau iya memangnya kenapa? Mau pukul? Silahkan pukul." Andre menyorongkan pipi kirinya memancing Amran supaya benar-benar memukulnya.

__ADS_1


Amran hanya bisa diam sambil menggertakkan giginya tanpa berani menyerang.


Kekuatannya tidak ada apa-apanya di hadapan Andre.


"Kenapa tak berani mukul hah? Cemen kamu, Amran!" Andre sengaja mengipasi Amran.


"Kalau kau tak berani, aku sarankan minggir. Aku hanya perlu stempel darah dari Handoko. Jadi aku tak peduli apakah dia mau istirahat atau dia sudah ma*i aku sama sekali tak peduli."


Stempel darah adalah tanda beralihnya kepemimpinan dari ketua lama dengan ketua baru dengan membubuhkan semacam tanda di sebuah lempengan dengan darah. Jika hal itu sudah dilakukan maka resmilah ketua baru yang telah ditunjuk dan semua anggotanya wajib patuh dan tunduk apa pun perintahnya.


Andre segera melangkah maju. Tapi langkahnya segera dihadang Amran dan anak buah abangnya yang masih setia.


Bukannya mundur. Andre malah tertawa sambil mengibaskan kaki kanan dan kiri dengan santai, akibatnya Amran dan anak buah Abangnya pun jatuh bergelimpangan dengan memegang bagian tubuh yang sakit.


Tapi mereka tidak jera sama sekali. Mereka kembali bangkit dan mencoba memblokir Andre.


Lama kelamaan Andre pun jadi emosi. Dia lalu memanggil anak buahnya untuk menyelesaikan perkara itu.


Akhirnya terjadilah baku hantam di rumah Amran. Perabotan, pintu dan jendela kaca sudah pecah menjadi serpihan akibat serangan kedua belah pihak.


Melihat Amran dan orang-orangnya sudah terikat dengan pertarungan tanpa ujung, Andre dengan tenang melangkah memasuki rumah bagaikan rumahnya sendiri.


Sampai di depan pintu, tanpa peringatan Andre langsung menyerang ke empat penjaga yang berdiri waspada di kiri kanan pintu.


Akhirnya terjadilah perkelahian yang tidak seimbang.


Walaupun dia sendiri melawan empat orang, tapi perkelahian itu selesai dengan cepat dengan hasil keempat pria penjaga itu meringkuk di lantai sambil memegang perut bekas tendangan Andre yang sangat kuat itu.


Saat Andre bersiap-siap ingin membuka pintu dengan tendangannya, mendadak pintu terbuka dari dalam.


Saat Andre melihat siapa yang berdiri dan yang membuka pintu tadi tanpa sadar dia mundur dua langkah ke belakang. Tubuhnya gemetar.


"Ka....kamu....??!!" Ucapnya dengan panik.

__ADS_1


__ADS_2