TABIB KELANA

TABIB KELANA
43.


__ADS_3

Saat dokter datang, Sanusi sudah lama diam tak bergerak.


Dokter Hamdan memeriksanya tapi tak menemukan lagi denyut nadi maupun detak jantung. Tapi dia tak mau membuat kesalahan. Dia menelpon ambulance.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" Tanya salah seorang teman Sanusi.


Dokter Hamdan menggelengkan kepala, "Kita tunggu hasil pemeriksaan dari RSUD saja."


Tak lama kemudian Ambulance datang. Sanusi segera di bawa masuk.


"Kalian berdua ikut saya ke RSUD." Kata Dokter Hamdan kepada kedua teman Sanusi.


Lalu Dokter Hamdan menoleh ke supirnya, "Kamu pulang saja dulu, kemungkinan saya membutuhkan waktu yang agak lama di RSUD nanti. Jika urusannya sudah selesai saya akan menelpon."


"Baik, Pak."


Mereka pun langsung menuju ke RSUD meninggalkan pelanggan Coffe Shop yang penasaran dan sedikit ketakutan.


Sambil melanjutkan makan minum mereka yang sempat tertunda, para pelanggan kembali duduk ke tempatnya semula sambil berbisik-bisik membahas peristiwa yang baru saja terjadi.


Mereka mencoba menganalisa apa yang sebenarnya terjadi kepada pria tadi. Berbagai tanggapan dan hipotesis mereka keluarkan satu demi satu.


Saat para pelanggan masih membahas peristiwa tadi, mereka kembali dikejutkan oleh teriakan amarah dari pasangan laki-laki tampan dan wanita muda yang ingin membayar pesanan mereka di meja kasir.


"Mengapa kami tidak boleh keluar dari sini? Kami sudah selesai makan dan minum, kami sudah membayar dengan lunas. Masalahnya apa sampai kami tidak diperkenankan pergi dari sini. Aturan dari mana itu?" Teriak pria tampan itu dengan penuh emosi.


Mendengar teriakan laki-laki itu para pelanggan serentak berdiri dan berkerumun di meja kasir. "Apa yang terjadi? Mengapa kami tak boleh pergi ha? Apakah Coffe Shop ini mau diviralkan dengan aturan yang nyeleneh itu?" Geram seseorang dari kerumunan pelanggan.


Seorang wanita cantik berusia tiga puluh lima tahun datang menghampiri, "Mohon maaf atas ketidaknyamanan Bapak, Ibuk. Kami mohon pengertiannya. Sebenarnya kami juga tak mau menganggu kenyamanan Bapak-Ibuk sekalian tapi karena sesuatu hal maka terpaksa ini kami lakukan.


Percayalah! Tidak akan lama, Pak, Buk."


"Jangan pedulikan dia! Mari kita pergi saja."


"Jangan-jangan kita mau dijadikan tersangka karena kematian pria tadi?" Mendengar itu para pelanggan jadi panik. Mereka saling dorong ingin cepat keluar dari sana.


Bukan karena mereka merasa bersalah, tapi tak nyaman saja jika harus berurusan dengan pihak yang berwajib. Apa lagi di antara pelanggan yang datang sebenarnya mereka bukan pasangan yang sah.


Mereka sama-sama sudah punya suami dan istri di rumah, cuma karena merasa cocok antara satu sama lain sehingga mereka ingin mempererat lagi hubungan mereka.

__ADS_1


Tak sangka akan mengalami peristiwa seperti ini.


Sebelum para pelanggan berhasil keluar, sebuah mobi polisi berhenti di depan Coffee Shop.


"Mohon tenang Bapak-Ibu! Dan tolong kembali ke tempat! Kami hanya sekedar ingin meminta nama dan alamat Bapak-Ibuk sekalian guna pemeriksaan jika hal itu diperlukan." Mendengar kata-kata komandan polisi yang berwibawa tersebut mau tak mau para pelanggan kembali ke tempatnya masing-masing dengan setengah menggerutu.


Dalam pada itu Dokter Hamdan sudah menjelaskan kronologis pasien yang dia tangani di IGD. Mulai ketika dia dipanggil ke Coffee Shop hingga dia tiba di sini.


"Bagaimana hasilnya, Dok?" Tanya dokter Hamdan kepada dokter Hadi, dokter yang bertugas saat ini.


"Pasien sudah meninggal. Sama seperti diagnosa dokter Hamdan tadi. Kami sudah melakukan pemeriksaan awal tapi tidak ditemukan apa penyebab kematiannya." Jawab dokter Hadi.


"Pihak kepolisian sudah meminta kepada keluarga korban untuk dilakukan visum demi penyelidikan lebih lanjut."


"Hmm," Dokter Hamdan mengangguk.


...****************...


Saat Mumu tersadar dari meditasinya waktu sudah menunjukkan jam 04.00 dini hari.


Mumu merasa ada sesuatu yang beda. Ia merasakan bahwa tubuhnya jauh lebih kuat, nafasnya terasa lebih tenang.


Hal ini biasanya hanya terjadi jika ia mengedarkan teknik pernafasannya.


Selain itu visinya menjadi lebih tajam.


Dengan mengatur pernafasannya, Mumu bisa melihat langsung ke dalam tubuhnya. Ia bisa melihat aliran darahnya yang mengalir teratur. Ia bisa melihat hati dan jantungnya yang bekerja dengan sangat baik.


Jika sebelumnya ia bisa mengetahui keadaan dalam tubuh seseorang dengan cara menekan titik nadinya, itu pun hanya merasakan bukan melihat secara nyata.


Tapi sekarang ia bisa melihat keadaan dalam tubuh seseorang hanya dengan cara mengatur pernafasannya.


Ini sungguh ilmu yang luar biasa.


Tanpa harus menyentuh, dengan sekali pandang ia akan mengetahui apakah tubuh seseorang sedang mengalami penyakit tertentu di dalam tubuhnya atau tidak.


Mumu tak bisa berkata apa-apa saking senangnya atas ilmu yang ia miliki semakin hari semakin bertambah.


Mumu bangkit. Ia langsung ke kamar mandi. Menurut ilmu kesehatan yang pernah ia baca dulu, mandi sebelum fajar menyingsing sangat bagus untuk kesehatan.

__ADS_1


Oleh karena itu ia sudah membiasakan mandi sebelum subuh semenjak ia tahu akan hal itu.


Hari ini Mumu berencana mau ke pasar Juling, ingin mengirim barang belanjaan untuk orang tuanya.


Mengenai uang, sekarang ia sudah bisa langsung transfer ke rekening tetangganya.


Tinggal bayar biaya admin lima belas ribu untuk penarikan uang dibawah dua juta.


Sekalian Mumu ingin berkunjung ke toko obat 'Maju' milik pria tua yang bernama Hou Shi itu.


Mumu belum pernah berkunjung ke toko itu lagi semenjak ia mendapatkan jarum akupuntur untuk pertama kalinya.


Walau bagaimana pun ia tetap merasa terhutang budi dengan pria tua itu yang telah memberikan jarum akupuntur perak dengan gratis.


"Mana uang keamanan untuk minggu ini hah?" Seorang laki-laki menggebrak meja. Tampangnya sangar. Di belakangnya lima orang pria berdiri dengan angkuh.


"Tapi baru semalam aku sudah bayar itu punya uang perlindungan. Hari ini kamu orang sudah datang lagi. Ini macam aku bisa bangkrutlah."


"Brak!" Pria itu menggebrak meja. "Kamu orang tua berani mempertanyakan kebijakan kami hah?! Kalau kamu tak mau bayar, aku hancurkan toko kecilmu ini!" Ancamnya.


Hou Shi panik, "Jangan...jangan diapa-apakan aku punya toko. Tolong kasi tempo. Hari ini aku belum punya itu uang. Kalau sudah ada nanti aku pasti akan aku bayar."


"Banyak alasan kamu ya." Pria sangar itu mengangkat tangannya.


"Plak!" Jari-jari besar pria sangar itu bersarang di pipi Hou Shi meninggalkan jejak kemerahan.


Tubuh tua Hou Shi terjajar ke belakang menabrak dinding.


"Itu sebagai pelajaran bagi kamu pria tua! Jika siang nanti kamu tidak membayar uang keamanan, maka siap-siap saja toko ini berganti pemiliknya."


Pria sangar itu langsung pergi diikuti kelima anak buahnya.


Hou Shi mengusap pipinya yang masih sakit. Dia berusaha untuk bangkit.


"Ahhh," Pinggang dan punggungnya ternyata jauh lebih sakit. Dia kesulitan untuk bangkit.


"Ternyata enak kerja di toko, pagi-pagi lagi sudah bisa santai sambil berbaring." Tiba-tiba terdengar sebuah suara.


"Bang*at! Siapa juga yang sedang bersantai. Kamu orang tak merasa tubuh tua ini tak bisa bangun karena sakit ha!" Hou Shi yang sedang menahan sakit di pinggang dan punggungnya reflek memaki sambil menoleh ke arah pintu.

__ADS_1


"Itu kamu ternyata!"


__ADS_2