
Mumu menatap jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah setinggi 23 meter itu dengan penuh rasa kagum.
Jembatan yang mulai dibangun pada tahun 2002 itu membentang di atas sungai Siak yang menghubungkan antara kecamatan Siak dan kecamatan Mempura.
Mumu melayang mengitari jembatan sepanjang seribu meter lebih itu. Dari sini Mumu dengan bebas melihat Kabupaten Siak Sri Indrapura dengan sudut pandang yang lebih jelas dan menyeluruh.
Setelah puas menikmati pemandangan dari atas jembatan tersebut, Mumu kembali ke arah selatan jembatan yaitu sebelah kecamatan Mempura.
Ia turun dari ketinggian 23 meter itu dengan perlahan-lahan sambil terus menikmati pemandangan kota Siak tanpa rasa bosan.
Tubuhnya seakan tak berbobot saat ia melayang turun. Wajahnya dingin diterpa angin, rambutnya pun ikut bergoyang-goyang mengikuti seirama arah angin bertiup.
Mumu mendarat di sebuah dataran yang tak jauh dari sungai Siak. Di sini terdapat makam para Panglima dan Hulubalang kerajaan Siak pada masa kerajaan dahulu.
Mumu berjalan di pinggir sungai untuk berwudhu ketika tanpa sengaja pandangannya mengarah ke depan.
Nun di sana, di seberang sungai Siak jauh di depan sana, ia melihat seorang tua yang mengenakan pakaian serba putih, kopiah putih dan memakai sorban sedang melambaikan tangan ke arahnya.
Awalnya Mumu tidak memperdulikan sama sekali. Selain jarak antar sungai sangat jauh, Mumu pun tidak merasa mengenali pria tua tersebut.
Walaupun Mumu tidak memperdulikannya sama sekali tapi pria tua itu tidak berputus asa. Dia kembali melambai ke arah Mumu sambil mengunggingkan senyum ramahnya.
Mumu menjadi ragu, 'apakah pria tua itu memang memanggilnya?'
Karena penasaran, akhirnya ia mencoba bertanya walaupun ia tidak yakin apalah suaranya akan sampai ke telinga pria tua itu atau tidak. Selain itu juga Mumu tidak menyadari keanehan yang terjadi pada dirinya, bahwa matanya bisa melihat orang tua itu dengan jelas pada hal jaraknya sangat jauh.
"Apakah Atuk memanggil saya?" Tanya Mumu dengan sopan.
Pria tua itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan.
"Ada perlu apa ya, Tuk? Kalau boleh tahu, siapakah Atuk ini?"
"Jika kamu datang ke sini, kamu akan tahu siapa saya. Ke sini lah anak muda." Suara pria tua itu bergaung seolah-olah berasal dari kejauhan.
__ADS_1
"Baiklah, Tuk." Mumu pun melangkah kakinya di atas air, berjalan dengan tenang menyeberangi sungai siak dengan langkah lebar.
Baru berjalan sebanyak tujuh langkah, Mumu tiba-tiba terperosok dan terdengar bunyi, "Buk!" yang sangat keras.
Mumu kaget sambil mengusap kepalanya. Dia terjatuh dari kasur. Ternyata tadi hanya mimpi. Cuma mimpinya terasa jelas sekali seakan-akan hal itu adalah nyata.
Mumu berusaha mengingat bentuk jembatan tadi, rasanya ia belum pernah pergi ke tempat itu. Jembatan luar biasa panjang dan tinggi.
Apa maksud mimpi tersebut? Mumu tak bisa menafsirkannya. Dia melihat jam yang terpasang di dinding kamar, jam 03.45 Wib.
Sudah masuk dini hari. Mau tidur sudah tanggung rasanya.
Mumu segera bangkit, dengan pelan membuka pintu kamar dan berjalan ke luar rumah.
Ia masih di rumah Pak Narto.
Di sini rata-rata kamar mandi dan WC berada di luar rumah kecuali beberapa rumah warga yang sudah terbuat dari tembok sehingga mereka bisa menikmati fasilitas kamar mandi dan WC di dalam rumah.
Bagi seorang yang penakut, WC di luar rumah menjadi tragedi tersendiri. Bagai mana tidak? Saat mau buang air besar di malam hari mereka harus bisa melawan rasa takutnya terhadap hantu yang tentu saja bentuk hantu itu sesuai dengan daya khayal dan imajinasi mereka.
Air sumur yang dingin menyegarkan wajah Mumu. Badannya menjadi segar kembali sedangkan rasa ngantuk sudah hilang tak bersisa.
Setelah menunaikan sholat tahajud, Mumu kembali memulai meditasi memutar metode pernafasannya.
Ia langsung masuk ke dalam konsentrasi yang tinggi. Hal ini tentu saja karena dipicu oleh dua hal. Yang pertama tentu saja karena Mumu sudah semakin mahir mempraktekkan metode pernafasannya sedangkan penyebab yang kedua adalah suasana malam yang tenang, jauh dari hiruk pikuk kebisingan akibat ulah manusia.
Nafas Mumu turun naik dengan tenang dan stabil.
Tenaga dalamnya semakin bertambah dari hari ke hari. Sedangkan setiap panca indranya semakin tajam juga bagaikan pisau yang terus diasah tanpa kenal lelah.
Menjelang subuh, Mumu menyudahi meditasinya.
Setelah itu ia melakukan peregangan dan mengulang-ngulang jurus tata bela dirinya dengan perlahan takut didengar oleh keluarga Pak Narto.
__ADS_1
Kokok ayam dan kicauan burung menambah semarak suasana pagi.
Mumu sedang minum kopi di ruang tamu bersama Pak Narto saat beberapa warga kembali datang bertamu ke rumah Pak Narto. Selain Pak RT, turut hadir pula Pak Kades Mahardi.
Tentu saja kedatangan mereka selain ingin melihat proses pengobatan Mumu yang katanya sangat menakjubkan dengan mata kepala mereka sendiri, tentu saja tujuan mereka adalah untuk mengenal lebih dekat tabib muda ini.
Bukankah menambah kawan lebih baik dari pada memperbanyak lawan?
Ternyata dalam semalam Mumu sudah menjadi viral.
Memang mereka sudah melihat video saat Mumu mengobati Rudi. Walaupun mereka takjub tapi juga masih banyak yang ragu. Apa mungkin seseorang bisa mengobati penyakit yang sudah tidak ada harapan untuk sembuh? Lagi pula pengobatannya pun sangat cepat, hanya dalam hitungan beberapa jam saja kaki kanan Rudi sudah bisa digerakkan. Jangan-jangan video tersebut hanya rekayasa. Hanya editan.
Buk Tuti sampai kewalahan membikin kopi dan teh untuk para tamu yang datang. Untunglah Pak Kades telah berbaik hati membawa persediaan kopi, teh dan kue kering sehingga tidak membebankan kepada tuan rumah.
Tak lama kemudian, ibuk-ibuk tetangga pun mulai berdatangan membantu Buk Tuti di dapur.
Mumu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat antusias warga desa.
Begitulah kehidupan di desa, rasa pedulinya lebih kuat.
"Maaf, Pak Kades dan Bapak-bapak sekalian, saya permisi dulu." Ucap Mumu sambil berdiri.
"Silahkan! Silahkan, Mumu."
Ia tidak mengobati Rudi di dalam kamar sebagaimana yang ia lakukan tadi malam.
Hari ini ia mengobati di ruang tamu depan sehingga para warga bisa mengobati rasa penasaran mereka.
Hal ini juga menghindari warga supay tidak berdesak-desakan di depan pintu kamar sehingga bisa menganggu konsentrasinya saat memulai proses pengobatan.
Mumu memulai proses pengobatan. Ia mengalirkan tenaga dalamnya menyembuhkan keretakan diujung tulang. Kali ini tindakannya bisa lebih cepat karena tenaga dalamnya sudah lebih halus dan kuat. Setengah jam berlalu ternyata prosesnya sudah selesai.
Sehingga tanpa beristirahat terlebih dahulu, Mumu langsung melanjutkan proses penyambungan tulang kaki Rudi.
__ADS_1
Nafas Mumu tetap stabil mengalirkan tenaga dalamnya sedikit demi sedikit sedangkan tangannya dengan cekatan bergerak mengepaskan posisi tulang.