
Walau pun mereka berdua berkonsentrasi untuk menjaga Mumu dan orang di sekitarnya saat dimulainya proses pengobatan, tapi tak bisa dipungkiri bahwa mereka berdua masih penasaran dengan ilmu dan cara pengobatan Mumu.
Terus terang mereka sama sekali belum mengetahui sedikit pun tentang ilmu pengobatan Mumu.
Oleh karena itu tanpa mengurangi kewaspadaan mereka, mata Tuk Udin dan Nenek Kam masih sempat melirik tindakan Mumu.
Mereka hanya melihat Mumu mengeluarkan jarum akupuntur, walaupun tidak lazim, hal tersebut tidak lah membuat mereka terkejut karenanya. Setelah menusukkan jarum akupuntur ke sekitar kepala dan punggung cucu mereka, Tuk Udin dan Nenek Kam tahu bahwa Mumu sedang menggunakan ilmunya untuk melanjutkan pengobatan, tapi mereka berdua hanya bisa mendesah kecewa karena tak mampu untuk mendeteksi jenis ilmu yang digunakan oleh Mumu.
Tentu saja mereka tidak bisa berlama-lama mengamati Mumu, karena saat ini entah mengapa tiba-tiba cuaca mendadak menjadi gelap.
Angin bertiup makin lama semakin kencang. Dedaunan beterbangan ditiup angin, langit mendadak gelap. Lampu di ruangan berkedip-kedip dan bergoyang seakan mau copot dari pitingnya.
Wajah Pak Lukman dan istrinya pucat pasi. Jantung mereka gemetar. Sedangkan Tuk Udin dan Nenek Kam tampak komat kamit membaca sesuatu berusaha mengusir angin yang tak wajar ini.
Dalam pada itu Mumu terus menyalurkan tenaga dalamnya melalui jarum akupuntur untuk memperbaiki sistem saraf yang tidak pada tempatnya dan yang tidak aktif pada bagian kepala dan punggung Siti Aisyah. Jika dalam keadaan normal, Paling-paling Mumu hanya memerlukan waktu sekitar setengah jam untuk melakukan hal tersebut. Tapi kini ia sudah melakukan hampir dua jam tapi tingkat keberhasilan baru mencapai 60%.
Ada sesuatu yang menghalangi tenaga dalam Mumu untuk memasuki tubuh Siti Aisyah dan mencegah tenaga dalamnya supaya tidak bisa mengobati.
Saat Mumu menggunakan kekuatan spiritualnya untuk memantau energi apa yang menghalangi tenaga dalam tersebut, ia mendapati ada semacam energi berwarna hitam pekat yang terus menerus menggerus tenaga dalamnya sehingga sedikit demi sedikit tenaga dalamnya berkurang sehingga tidak stabil.
Keringat mengalir dari tubuh Mumu karena memaksanya untuk mengeluarkan energi yang melebihi kapasitas.
Apa lagi saat ini ia telah membagi tenaga dalamnya menjadi tiga bagian.
Sepertiga digunakan untuk terus mengobati Siti Aisyah melalui media jarum akupuntur, sebagian lagi ia arahkan untuk mencoba melawan energi hitam yang mencoba menganggu untuk membatalkan usahanya dan sepertiga lagi ia gunakan untuk mempertahankan dirinya dari berbagai kemungkinan.
Cuaca semakin buruk, angin berubah menjadi ribut, menerbangkan apa yang bisa digapainya.
Satu jam lagi waktu berlalu dengan sekejap. Jika hal ini terjadi kemaren, mungkin Mumu sudah kehabisan tenaga seperti saat ia mengobati di kapal Jelatik.
Tapi kini, tenaga dalamnya telah bertambah, sehingga walau pun banyak yang terkuras tapi Mumu masih bisa bertahan.
__ADS_1
Tiba-tiba Mumu memuntahkan darah segar, walau pun tidak terlalu banyak, tetap saja wajahnya menjadi pucat.
Pak Lukman dan istrinya menjadi panik saat melihat Mumu memuntahkan darah segar.
Saat mereka bingung tak tahu mau berbuat apa, mereka melihat Mumu mengangkat tangannya sebagai isyarat supaya tetap tenang.
Mumu mengelap darah di sudut bibirnya dan melambai ke arah Tuk Udin.
Tuk Udin bergegas mendekat. "Kamu kenapa, Mumu? Apa yang bisa saya bantu?"
"Saya baik-baik saja, Tuk. Jangan risau! Sekarang Atuk fokus untuk membentengi Siti Aisyah setelah isyarat yang akan saya berikan nanti."
"Baik lah! Benar kamu tak apa-apa?" Tuk Udin masih khawatir dengan kondisi Mumu.
Mumu tak menjawab, ia hanya tersenyum lalu kembali fokus ke arah Siti Aisyah.
Pengobatannya sudah hampir selesai.
Saat ini Siti Aisyah masih dalam keadaan antara tidur dan terjaga.
Hal ini membuat dia merasa sangat ingin tidur. Belum pernah dia merasa senyaman ini sebelumnya.
Sementara itu, Tuk Udin bersedia di samping Mumu menunggu isyarat yang akan diberikan.
Sepuluh menit berlalu, saat dia melihat anggukan yang diberikan oleh Mumu, dia langsung menggunakan ilmunya untuk memagari cucunya agar terhindar dari serangan atau kiriman penyakit dari luar.
Mulut Tuk Udin terus membaca mantra sembari tangannya menarik sesuatu dari ketiadaan dan memasukkan ke dalam tubuh Siti Aisyah.
Dia juga menulis semacam rajah di punggung cucunya menggunakan jari telunjuk.
Lama juga dia melakukan hal tersebut.
__ADS_1
Saat pekerjaannya selesai, Tuk Udin langsung jatuh terduduk di lantai.
Ternyata tenaganya sudah terkuras habis.
Dalam pada itu, angin ribut kembali menyerang semakin kencang membuat perabotan di dalam ruangan tersebut berterbangan entah ke mana.
Mumu tidak membuang waktu sedikit pun, setelah Tuk Udin selesai memagari cucunya dengan segenap kemampuan, tanpa menghiraukan angin ribut yang melanda, sekali lagi Mumu memasukkan tenaga dalamnya ke tubuh Siti Aisyah.
Karena pekerjaannya sudah selesai 99% sehingga ia hanya perlu menyelesaikan 1% lagi.
Kedengarannya memang hanya 1%, tapi tenaga yang dipergunakan mencapai dua kali lipat dibandingkan dengan yang sebelumnya.
Bagaimana pun jua, akhirnya pekerjaannya selesai juga.
Mumu segera mencabut semua jarum akupunturnya bersamaan dengan menghilangnya angin ribut dengan serta merta seolah-olah memang tak pernah terjadi sebelumnya.
"Bangunkan Siti Aisyah dan ajak dia bicara. Mudah-mudahan dia sudah sembuh dan sudah bisa bicara seperti semula." Ucap Mumu kepada Pak Lukman dan istrinya dengan nada pelan.
Setelah itu tanpa menunggu jawaban dari Pak Lukman atau istrinya, Mumu langsung berjalan ke sudut ruangan untuk memulihkan tenaganya serta menyembuhkan luka dalam yang dialaminya.
Setelah mengatur posisi meditasi dengan duduk bersila di lantai, Mumu mulai mengatur nafasnya menggunakan metode pernafasan sembari memeriksa organ tubuhnya bagian dalam menggunakan kekuatan spiritual.
Melalui kekuatan spiritual, Mumu seakan-akan bisa melihat ada noda biru di sudut jantungnya.
Memang kelihatan kecil tapi ternyata membawa dampak besar. Dadanya terasa nyeri.
Mumu langsung mengalirkan tenaga dalamnya ke arah jantung dan memulai proses pengobatan, sedikit demi sedikit lukanya menjadi semakin kecil hingga akhirnya sembuh sama sekali seolah-olah memang tak pernah ada luka di sana.
Dalam pada itu di saat Pak Lukman membangunkan Siti Aisyah, Siti Aisyah membuka matanya dengan perlahan, saat dia terpandang wajah Pak Lukman dan Buk Juwita, Siti Aisyah dengan otomatis memanggil mereka berdua, "Ayah! Ibu!"
Siti Aisyah terkejut, "Eh, aku sudah bisa bicara lagi..."
__ADS_1
Pak Lukman dan istrinya tak kalah terkejut, "Aisy....kamu...suara kamu....kamu bisa ngomong sekang..." Suara mereka terbata-bata dan langsung memeluk anaknya dengan penuh haru.
Mereka bertiga menangis haru, hingga tak menyadari saat Nenek Kam sudah berdiri tak jauh dari mereka dengan mata berkaca-kaca.