
Jangankan orang lain, sedangkan Tuk Udin dan istrinya yang kelihatan sebagaimana orang tua kebanyakan jika dilihat dari sudut pandang panca indra biasa.
Tapi saat Mumu diam-diam memindai mereka berdua dengan kekuatan spiritualnya, mau tak mau Mumu hanya bisa berdecak kagum.
Bagaimana tidak, saat ia memindai mereka berdua, ia melihat aliran tenaga yang sangat besar dari tubuh mereka berdua yang menyatakan bahwa sebenarnya mereka berdua ini adalah termasuk tokoh kawakan dalam ilmu tata bela diri.
Sungguh pandai keduanya menyembunyikan ilmu mereka dari pandangan mata biasa.
Mereka benar-benar menerapkan ismi padi, semakin berisi semakin menunduk.
Memang kota Siak ini benar-benar sesuatu.
Banyak ahli-ahli tersembunyi yang tak mau menunjukkan kedigdayaannya jika tidak dalam keadaan darurat.
Ba'da Asar, Tuk Udin mengemudikan mobil Avanza hitam metaliknya menuju pusat kota. Dari kejauhan Mumu melihat jembatan yang megah itu. Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah.
Walau pun sudah berusia tujuh puluhan tahun ternyata Tuk Udin masih tangkas dan sigap dalam mengemudikan mobilnya.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah bertingkat, mobil langsung memasuki halaman dan diparkir tepat di depan pintu masuk.
Seorang gadis dua puluhan tahun langsung keluar dari rumah untuk menyambut Tuk Udin dan Nenek Kam dengan wajah yang berseri-seri.
Gadis yang tak lain adalah Siti Aisyah segera menyalami keduanya dan menanyakan kabar menggunakan bahasa isyarat yang dijawab langsung oleh Nenek Kam.
Saat dia menggandeng tangan Nenek Kam untuk membawa masuk ke rumah, pandangan matanya melirik ke arah Mumu yang kebetulan baru keluar dari mobil.
Raut wajah Siti Aisyah berubah, matanya terbelalak tak percaya. Dia ingin mengatakan sesuatu, bahwa ini lah pemuda yang dia temui dalam mimpinya selama tiga malam berturut-turut, karena dia memang gagu, tak bisa bicara sehingga tak ada kata yang keluar.
Hanya ada suara seperti geraman sambil tangannya menunjuk-nunjuk ke arah Mumu.
Tuk Udin dan Nenek Kam tentu saja mafhum apa yang ingin disampaikan oleh Siti Aisyah sehingga Nenek Kam mengelus-elus pundak Siti Aisyah dan berkata, "Memang dia lah yang bernama Mumu, Cu. Kebetulan Atuk mu bertemu dengannya. Ayo persilahkan dia masuk!"
__ADS_1
Siti Aisyah menunduk. Malu. Dia agak ragu tapi kemudian dengan kaku dia memberi isyarat kepada Mumu supaya masuk ke rumahnya.
Mumu mengangguk dan tersenyum.
Dalam pada itu dua orang pria dan wanita berjalan keluar dan menyambut tamunya dengan ramah.
"Pak, Buk apa kabar?" Suami istri itu menyalami Tuk Udin dan Nenek Kam dengan ta'zim. "Oh ya, ini siapa ya?" Mereka juga menyalami Mumu dengan ramah.
Tak ada kesan dibuat-buat.
"Saya Mumu, Pak, Buk. Kebetulan ketemu Tuk Udin dan diajak jalan-jalan ke sini." Ucap Mumu sambil menyambut salam mereka berdua.
Suami istri tersebut saling pandang sebentar lalu mempersilahkan para tamunya untuk masuk.
Tak biasanya orang tua mereka membawa orang secara acak ke rumah mereka. Walaupun orang tua mereka adalah orang yang baik dan ramah, tapi mereka berdua juga selalu bersikap hati-hati dan agak pemilih.
Mumu pun ikut masuk. Ia berjalan paling belakang. Sambil berjalan, ia dengan hati-hati menyebarkan kekuatan spiritualnya untuk memeriksa keadaan sekitar.
Sejak melahirkan Siti Aisyah, Buk Juwita tidak pernah hamil lagi pada hal dia tak pernah KB.
Mereka berdua bekerja sebagai guru di sekolah yang berbeda dan masing-masing sudah pegawai dan mempunyai kebun sawit yang berhektar-hektar.
Sepanjang pembicaraan, baik Tuk Udin mau pun Nenek Kam tidak ada membahas tentang rencana pengobatan cucunya, tampaknya mereka menyerahkan semua keputusan itu kepada Mumu.
Mumu memang masih muda dari segi umur, tapi ia bukan lah orang yang tidak berpengalaman, ia tahu maksud Tuk Udin yang tak mau memaksanya untuk mencoba mengobati Siti Aisyah.
Pada hal dari raut wajah Tuk Udin, sebenarnya dia mengharap betul akan pertolongan Mumu, karena dia merasa yakin bahwa Mumu mampu mengobati cucunya.
Mumu juga menilai sikap Pak Lukman dan istrinya Buk Juwita, walaupun ada rasa penasaran dihati mereka terkait kunjungan kedua orang tua mereka dengan membawa tamu asing yang masih sangat muda, tapi mereka berdua tidak ingin mendahului dengan bertanya langsung akan maksud dan tujuan orang tua mereka membawa Mumu ke sini.
Mereka memutuskan untuk menunggu saja. Walau pun hingga kini orang tua mereka belum juga mengatakan, mereka masih tetap sabar menunggu.
__ADS_1
Sedangkan Siti Aisyah, menurut penilaian sekilas Mumu, dia adalah gadis yang baik, tidak sombong walau pun dia adalah anak orang kaya.
Dibalik kekurangannya karena tidak bisa bicara tapi dia tetap tampil ceria. Baginya penyakit yang dideritanya bukanlah sebuah beban tapi dia menganggapnya sebagai ujian.
Tuk Udin melirik sekilas ke arah Mumu, saat melihat Mumu masih tetap diam saja, ada sedikit kekecewaan di mata Tuk Udin, tapi dia dengan cepat menghapusnya.
Mengobati seseorang tidak boleh dipaksakan, jika tidak maka hasilnya tidak akan maksimal.
"Hmmm." Mumu menghela nafasnya. Apa yang harus ia lakukan. Di satu sisi ia ingin menolong orang yang membutuhkan pertolongannya. Di sisi lain ia merasa tidak akan mudah melakukannya.
Saat memasuki rumah ini tadi, lewat kekuatan spiritualnya, ia bisa merasakan semacam energi aneh dari suatu benda yang disembunyikan di sekitar rumah ini.
Mumu yakin, baik Tuk Udin mau pun Pak Lukman pasti tidak menyadarinya, karena benda tersebut menyebarkan energi yang bersifat negatif bagi penghuni rumah, jadi mustahil Tuk Udin dan Pak Lukman tidak mengingkirkannya jika memang mereka mengetahuinya.
"Mumu!" Panggil Tuk Udin memecah lamunan Mumu. "Bagaimana jika kita pulang sekarang, malam ini kamu menginap di rumah Atuk saja."
"Tapi, Tuk..." Mumu merasa tak enak, Tuk Udin tetap bersikap baik terhadapnya walau pun dia tahu Mumu keberatan untuk mengobati cucunya.
"Jangan terlalu dipikirkan. Betul kata kamu, bahwa mungkin ada jalan lain. Ayo kembali dulu." Tuk Udin tersenyum tulus. Tak nampak sedikit pun tanda-tanda kekecewaan di wajahnya lagi.
"Bagai mana jika selepas maghrib baru kita pulang ke rumah Atuk?" Mumu tahu permintaannya ini kedengarannya kurang sopan, seharusnya Tuk Udin atau tuan rumah yang menawarkan hal yang demikian.
Tapi ia terpaksa melakukan hal tersebut.
Bagaimana pun juga setelah melihat Siti Aisyah dan sikap keluarganya, Mumu perlu menelaah keputusannya lagi.
Bagaimana pun juga mereka adalah orang yang baik menurut Mumu.
Oleh karena itu ia perlu menenangkan pikirannya sebentar sebelum membuat keputusan.
Ada ekspresi terkejut di wajah Tuk Udin saat mendengar permintaan Mumu.
__ADS_1