
Jika tidak, Mumu tak ingin membayangkan saat jarum tersebut menusuk lebih dalam ke dalam tubuh wanita itu dan pada saat bersamaan juga akan ikut menusuk Pak Ketua saat mereka berpelukan dengan erat.
Mumu berjalan seperti biasa. Tidak nampak kelelahan sedikit pun. Mumu sendiri pun heran melihatnya.
Tak ada penjelasan lain selain tenaga dalamnya dengan ajaib telah bertambah.
Hanya saja masih ada timbul pertanyaan di dalam pikirannya. Bagai mana? Seberapa besar?
Mumu menggelengkan kepala. Ini bukan waktu yang tepat untuk menganalisisnya.
Ia mendekati drg. Saloka yang masih terpana melihat istri Pak Ketua yang benar-benar masih hidup bahkan tampak sehat wal afiat.
Ditepuk bahu Pak Dokter dengan perlahan sambil berkata dengan nada pelan, "Pak Dokter, saya keluar ruangan dulu."
Drg. Saloka kaget, dengan pandangan separuh linglung, separuh terkesima dia menatap Mumu, "Apa yang kamu katakan tadi, Mumu?"
"Saya mau ke luar ruangan dulu. Lama-lama di sini jadi sesak melihat berbagai macam peralatan medis."
"Oke, saya ikut kamu. Kita ngopi dulu di luar." drg. Saloka berjalan ke arah stafnya langsung menepuk punggungnya seraya berkata, "Ayo ngopi dulu di luar."
Dokter spesialis penyakit dalam tersebut bukannya menjawab ajakan atau mengikuti drg. Saloka, dia malah mengangkat tangan kanannya, tak lama kemudian terdengar bunyi, "Pakkk!!"
Ternyata dia telah menampar dirinya sendiri dengan cukup keras sehingga ada tanda jari yang tercetak di pipinya.
Drg. Saloka kaget, dia berbalik "Hei, apa yang kamu lakukan??!!!" Teriaknya dengan suara tertahan.
__ADS_1
"He he anu, Pak, saya kira tadi saya sedang bermimpi sehingga saya ingin membuktikan hipotesa saja." Ujarnya sambil meringis dan mengusap-usap pipinya yang masih terasa panas.
Ternyata tamparan tadi terlalu bersemangat sehingga hampir merontokkan gigi-giginya.
Drg. Saloka hanya bisa menggelengkan kepala seraya menghela nafasnya berkali-kali.
Tapi dia tidak menyalahkan stafnya karena tak pernah mendapat informasi tentang kehebatan Mumu sebelumnya.
Dia saja yang pernah tahu, keahlian Mumu dalam mengobati pasien yang keracunan masih sangat syok melihat sisi lain kehebatan Mumu yang ternyata juga mampu mengobati penyakit selain akibat keracunan.
Untung saja dia cepat sadar. Mentalnya sudah sedikit siap dibanding stafnya ini.
"Kamu tidak sedang bermimpi. Ini memang nyata. Senyata emas batangan yang berwarna kuning. Ayo kita keluar dulu."
"Tolong dirahasiakan tentang saya ya, Pak Dokter." Timpal Mumu.
Berapa banyak orang yang akan mengetuk pintu rumahnya sehingga menganggu ketenangan hidupnya jika berita ini tersebar? Yang drg. Saloka takutkan adalah Mumu ditarik dari sisinya, bagaimana RSUD yang dipimpinnya akan maju dan terkenal jika Mumu tidak lagi menjadi mitranya?
"Kamu dengar apa yang dikatakan oleh Mumu kan?!" drg. Saloka mendelik ke arah stafnya.
"Siap, Pak, saya dengar, Pak." Dokter spesialis penyakit dalam itu sedikit cemberut. Pada hal dia sudah merencanakan untuk menyebar berita ini biar menjadi viral. Apa lagi dia akan menjadi salah satu orang yang terkenal tersebut karena ikut bagian walau pun hanya sekedar menyaksikan peristiwa yang menakjubkan ini terjadi.
Dia hanya bisa menundukkan kepala sambil mengikuti langkah drg. Saloka dan Mumu keluar ruangan.
"Maaf Bapak-bapak, Pak Direktur kami ingin bertemu untuk meminta penjelasan dan pertanggungjawaban." Seorang pria yang berprofesi sebagai petugas keamanan dilihat dari pakaiannya sedang berdiri di depan pintu saat rombongan drg. Saloka keluar dari ruangan.
__ADS_1
"Silahkan tunjukkan jalannya." drg. Saloka hanya mengajak stafnya tanpa melirik sedikit pun ke arah Mumu biar petugas keamanan ini tidak curiga.
Tanpa membuang waktu Mumu pun segera menyelinap pergi. Tapi ia tak tahu harus ke mana. Ternyata sudah jam 22.10 wib. Ia tak menyangka rupanya ia sudah sangat lama berada di ruangan ICU tersebut.
Mumu berjalan mencari petunjuk arah musholla, biasanya setiap RSUD pasti ada mushollanya. Ia memutuskan untuk beristirahat di musholla saja malam ini. Ada yang perlu ia amati terkait tenaga dalamnya yang bertambah dengan tiba-tiba saat pengobatan tadi berlangsung.
Dalam pada itu, Siti Aisyah dengan wajah cemberut menatap neneknya, "Dari tadi Aisy nelpon tak dijawabnya, Nek. Pesan Aisy pun tidak dibacanya. Apa mungkin dia sengaja, Nek. Tak ingin Aisy menanyakan kabarnya. Mungkin dia merasa terganggu dengan Aisy. Tapi mengapa dia tidak jujur, bilang saja langsung kepada Aisy jika dia tak suka dan tak ingin diganggu, bukannya langsung diam seperti ini."
Nenek Kam hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah cucunya yang uring-uringan.
"Aisy, kamu tak boleh bilang seperti itu. Bagaimana jika Mumu mendengar tuduhan kamu yang tidak berdasar tersebut, dia pasti akan sangat kecewa. Nenek yakin, dia pasti ada alasan sehingga belum bisa menjawab telpon mau pun membaca pesan darimu." Nenek Kam mencoba menasehati cucunya dengan bijaksana. Pengalamannya yang sudah melebihi setengah abad menunjukkan kepadanya bahwa cucunya sedang jatuh hati walau pun Siti Aisyah sendiri belum menyadarinya tapi dari sikapnya sangat jelas menunjukkan ke arah itu.
"Tapi, Nek sesibuk apakah dia sampai tak sempat melihat handphone walau hanya sesaat?"
"Aisy, kamu masih sangat muda. Kamu harus tahu sifat seorang laki-laki. Ada orang yang suka mendapatkan perhatian dari seorang gadis, tapi sebagian lain lagi mereka menjadi risih jika terlalu diperhatikan.
Namun ada satu kesamaan di antara pemuda tersebut, biasanya mereka tidak suka diatur! Kamu harus tahu itu. Maka dalam menjalin sebuah hubungan sangat diperlukan rasa percaya dan pengertian di antara kedua belah pihak. Tidak boleh terlalu banyak menuntut. Kita tunggu saja, nanti jika Mumu sudah melihat panggilan dan pesan-pesan dari mu, dia pasti akan menghubungi kembali. Itu pun jika Nenek tidak salah menilai tentangnya."
Wajah Siti Aisyah agak memerah. Dia langsung menyubit tangan neneknya dengam gemas, "Nenek ini bagai mana sih? Bicara yang tidak-tidak. Sejak kapan Aisy punya hubungan yang spesial dengan Mumu sampai-sampai Nenek bilang harus saling pemgertian di antara kami. Aisy kan hanya ingin tahu kabar dia saja, sudah sampai di Selatpanjang atau belum. Itu saja."
"Hmmm...." Nenek Kam melihat cucunya dengan pandangan geli. 'Dasar bocah! Dikiranya bisa membohongi orang tua ini. Walau pun bibirnya menolak dengan keras, tapi matanya tak bisa berbohong. Mata adalah pancaran dari hati'. Mata tidak akan mengkhianati hati.
Apa yang terbersit di hati maka itu lah yang akan dipancarkan oleh mata.
Mata tidak suka berbohong sebagaimana lidah dan bibir. Makanya ada istilah bersilat lidah tapi tidak ada bersilat mata.
__ADS_1
...****************...