
Apakah ia jatuh cinta? Mumu tak tahu. Yang jelas ada ruang khusus dihatinya untuk sosok bernama Wulan terlepas dari sikap Wulan yang kini membencinya tidak akan mempengaruhi sedikit pun perasaan itu terhadapnya.
Semilir angin laut menerpa wajah Mumu, membelainya dengan lembut. Mumu merasa segar.
Di sepanjang bibir pantai Ia melihat ada beberapa pasangan muda-mudi yang bercanda ria. Mereka sangat gembira.
Kata orang, mereka yang sedang berpacaran akan mengeluarkan energi yang positif sehingga pandangan mereka terhadap dunia pun menjadi semakin indah.
Mumu sendiri tak tahu akan kebenaran kata-kata tersebut karena ia memang belum pernah pacaran he he...
Sempat terjadi percekcokan kecil di sana. Biasa....masalah pemuda yang mencari perhatian dari para gadis.
Ada beberapa pemuda yang iri melihat kebahagian pasangan muda-mudi itu sehingga mereka mencoba menganggu untuk merusak suasana.
Mumu tidak berniat mendekat, ia hanya memperhatikan dari kejauhan. Itu pun hanya sebentar, setelah itu ia kembali melihat laut, menatap pantai.
Pikirannya tidak di sini. Pikirannya melayang jauh di sana. Melayang di antara awan.
Saat matahari semakin rendah, Mumu pun pulang setelah terlebih dahulu mampir di kedai makan membeli lauk pauk.
Hari berganti hari, Minggu pun datang dan pergi silih berganti.
Tak terasa sudah hampir satu bulan sejak Mumu pulang dari Siak.
Ia jarang keluar rumah selain belanja kebutuhan sehari-hari di pasar atau saat ia melakukan marathon setiap pagi.
Sejak Mumu pulang dari Siak, baru dua kali ia ditelpon oleh drg. Saloka untuk mengobati pasien di RSUD.
Alhamdulillah kedua pasien tersebut bisa disembuhkan tanpa harus dirujuk ke propinsi atau ke kabupaten lain.
Ada ruangan khusus tempat Mumu praktek. Tak ada yang diizinkan masuk ke sana selain drg. Saloka dan keluarga terdekat pasien. Itu pun hanya boleh satu orang, entahkan si suami atau pun si istri. Mumu tak ingin sosoknya dikenal sewaktu mengobati pasien di RSUD ini.
Sekarang Mumu menjadi tenaga ahli di sana. Tak ada lagi para Dewan Direksi yang keberatan semenjak berita kesehatan istri Pak Dewan sampai ke telinga mereka.
__ADS_1
Bahkan atas saran para Dewan Direksi, kontrak Mumu dirubah, nominalnya bertambah, sehingga orang akan melelehkan air liur saat mengeja nominal tersebut.
Tentu saja tanggung jawabnya juga bertambah. Mumu tidak hanya akan mengobati pasien kritis akibat keracunan, tapi juga pasien kritis akibat penyakit yang lain.
Ini tentu saja drg. Saloka yang menginginkannya sejak dia tahu keahlian Mumu tidak hanya terbatas pada keracunan saja.
Awalnya drg. Saloka memang agak ragu, takut Mumu akan menolaknya. Betapa senangnya dia saat bertemu dengan Mumu dan menyatakan niatnya, ternyata Mumu langsung setuju tanpa pertanyaan.
Drg. Saloka sampai berteriak senang saat mendengar jawaban yang memuaskan hatinya tersebut.
...****************...
Di sebuah kantin yang terletak dalam kawasan salah satu kampus kedokteran yang terkenal di Jogjakarta, Wulan meletakkan sendok baksonya kembali ke dalam mangkok saat seorang gadis yang duduk di hadapannya berkata, "Bulu mata mu jatuh, Wulan. Di pipi kanan mu."
"Benarkah?" Wulan merogoh tasnya, selain dipenuhi oleh buku-buku kuliah, ada juga peralatan make up sederhana seperti cermin kecil, lipstik dan bedak. Dia segera mengambil cermin kecil dan menghadapkan wajahnya yang rupawan ke arah cermin.
Benar saja, sehelai bulu matanya yang lentik, melekat erat di pipinya yang bening itu.
Wulan dengan hati-hati membungkuskan bulu mata itu dengan tisu dan memasukkan ke dalam tasnya. Lalu dia memandang wajah teman barunya ini dan berkata, "Mana aku tahu, Mirna. Lagi pun siapa juga yang merindukan aku. Aku kan sudah bilang ke kamu bahwa aku tidak punya pacar. Lagian mengapa kamu percaya hal-hal yang seperti ini, Mirna? Nanti dianggap khurafat lho".
" He he...apa salahnya, Wulan. Itu kan hanya kepercayaan orang-orang tua dulu berdasarkan pengalaman yang tentunya telah mereka buktikan kebenarannya sehingga hal ini tidak termasuk khurafat, Wulan." Gadis itu tertawa dengan pelan.
Gadis itu bernama Mirna Safitri, mahasiswi pindahan dari Riau.
Mereka tidak satu lokal tapi sejak pertama kali berjumpa, mereka berdua langsung merasa cocok antara satu sama lain sehingga mereka pun berteman dengan akrab.
Teman satu hari bagaikan teman satu abad. Itu lah gambaran mengenai hubungan pertemanan mereka.
Walau pun belum lama kenal, mereka langsung akrab, saling pengertian, saling membantu dan saling mengalah bagaikan orang yang sudah lama kenal, paham akan sifat dan tabiat masing-masing sehingga tidak ada terjadi perselisihan di antara mereka.
"Mari kita kembali kepada topik utama. Coba ceritakan siapa pria beruntung yang telah berhasil mencairkan hati teman aku yang cantik dan baik hati ini."
"Hmmm...." Wulan tersipu. "Sudah, ah...jangan menggoda orang. Mereka pun kembali meneruskan makan sambil sesekali bersenda gurau.
__ADS_1
Mirna melihat jam di ponselnya. Dia berkata, "Wulan, aku masuk dulu. Aku masih ada mata kuliah hari ini. Kamu masuk apa?" Dia memeriksa tasnya dan berdiri.
"Aku kosong. Dosennya tidak bisa datang. Ada seminar mendadak katanya. Jadi aku mau langsung pulang saja. Kapan-kapan main ke rumah aku, Mirna."
"Siap,.Bos.....Aku masuk dulu ya." Wulan memperhatikan kepergian sahabatnya hingga hilang di balik kampus.
Setelah membayar ke kasir, Wulan berjalan dengan langkah gemulai, dia langsung menuju parkiran kampus.
Wulan menekan tombol kunci. Sebuah mobil Honda Jazz pun berbunyi sembari memancarkan cahaya kuning lewat lampu sein.
Luar biasa! Seorang mahasiswi kuliah dengan mengendarai mobil seharga hampir tiga ratusan juta rupiah.
Jika Mumu tahu, apa ia tidak langsung minder ya?
Wulan tiba dengan aman di rumahnya. Setelah meletakkan tas di meja belajar, hanya membuka jilbabnya tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu, Wulan langsung berbaring di kasurnya yang empuk.
Dia merenung.
Walau pun di kantin tadi dia tidak terlalu menanggapi obrolan Mirna, sesungguhnya dalam hatinya tidak seperti itu.
Diam-diam dia meresapi perkataan Mirna.
'Apa benar ada yang sedang merindukan aku? Tapi siapa? Apakah dia?' Bisik hatinya saat terbayang seraut wajah laki-laki yang ganteng, gagah, hidung mancung dan berkulit putih.
Tapi wajah pria ganteng tersebut langsung sirna dan digantikan dengan wajah pemuda yang biasa-biasa saja tapi mampu menyihir hatinya.
Jika saja pemuda itu tidak membohonginya, mungkin saja dia akan membuka hatinya, memberi peluang pada pemuda sederhana itu untuk mengisi hatinya.
Wulan mendesah. 'Tapi sudah lah!' Pikirnya.
Untung saja dia sudah tahu status pemuda itu sebelum dia mencoba membuka hatinya.
Jika tidak, dia hanya bisa menyesali kebodo*annya karena mencoba menerima pemuda yang penuh dusta itu.
__ADS_1