
Menjelang dini hari kapal Jelatik merapat di pelabuhan Siak, tapi Mumu tak jadi naik ke pelabuhan.
Saat ini ia masih berada di bilik 403 menyalurkan tenaga dalamnya untuk mengusir serbuk yang telah disebarkan oleh kedua orang pemuda itu sebelumnya.
Serbuk itu memang tidak terlalu berbahaya bagi tubuh selain membuat penderitanya merasa ngantuk sekali sehingga tidak bisa berbuat apa-apa bagaikan orang pingsan.
Mumu tak tahu apa nama dan terbuat dari apa serbuk tersebut, yang jelas jika tidak diobati segera maka penderitanya akan tidur sepanjang hari tanpa bisa dibangunkan sama sekali hingga efek dari serbuk tersebut hilang.
Karena telah diobati dengan tenaga dalam sehingga serbuk yang awalnya memenuhi paru-paru dan jalan darah kini perlahan-lahan menjadi sirna.
Setengah jam menjelang waktu subuh, Mumu telah menyelesaikan pekerjaannya.
Setelah menyelimuti wanita cantik itu dengan selimut, Mumu segera keluar, menutup pintu bilik lalu berlalu dari sana.
Ia yakin tak ada lagi yang berani menganggu atau pun mencuri barang gadis tersebut karena sebentar lagi di pasti terbangun dengan sendirinya.
Mumu tak ingin dikenali sehingga ia cepat-cepat pergi dari sana.
Seperti dugaan Mumu sebelumnya, baru saja lima menit berlalu, wanita itu membuka matanya dengan perlahan.
Dia kaget saat mendapati dirinya tertidur. Seingatnya sewaktu dari kamar mandi dia sedang memegang handphone untuk menelpon temannya tapi bagaimana bisa dia malah tertidur?
Apakah dia dihipnotis? Atau diberi obat tidur?
Tapi tak mungkin, dia tidak ada berinteraksi dengan seseorang belum lama ini dan dia tidak ada makan dan minum sesuatu dalam beberapa jam terakhir.
Dia memeriksa semua barangnya tapi tak ada yang hilang, handphone, dompet semuanya masih utuh.
Saat pandangannya melirik ke tubuhnya wajahnya sontak berubah.
Diraih kain yang tadi menyelimutinya, dia tahu ini memang kainnya yang tersimpan rapi di dalam tas.
Sejak kapan dia mengambil dan menyelimutinya. Apakah tadi dia benar-benar ingin tidur?
Dia hanya bisa memijit keningnya tanda bingung memikirkan apa yang telah terjadi.
Handphonenya berdering. Tanpa melihat siapa penelponnya, dia langsung menekan tombol jawab dan menyelipkan handphone tersebut di sebalik jilbab kuping kiri.
"Wulan, kamu sudah sampai di mana?" Wanita cantik itu kaget, dia sangat mengenal suara si penelpon.
__ADS_1
"Kurang tahu, nampaknya sudah melewati Siak dari tadi. Mungkin sebentar lagi sampai." Ujar wanita cantik yang ternyata adalah Wulan adanya setelah dia melihat keadaan sekitar melalui jendela yang memang ada di setiap bilik penumpang.
"Maafkan aku, Wulan, aku tak bisa mengantar kamu sampai ke Pekanbaru. Soalnya ada urusan mendadak semalam tu." Ucap Lisa dengan nada bersalah.
Dia awalnya ingin mengantar Wulan sampai ke Pekanbaru, bagaimana pun juga dia khawatir dengan keamanan Wulan selama di kapal Jelatik. Kalau kita lalai biasanya ada saja orang yang iseng mengambil barang-barang saat bilik ditinggal atau saat tertidur.
Oleh karena itu lebih aman jika berangkat berdua jadi tidurnya bisa bergantian.
Tapi mendadak pula ada tugas dari dosen yang tak bisa dicancel, sehingga dengan terpaksa dia melepaskan Wulan berangkat sendirian.
"Tak apa-apa, Lisa. Biasa aja, jangan terlalu dipikirkan, Lagi pula aku pun sudah hampir sampai. Tak ada apa-apa yang terjadi. Jadi kamu tenang saja."
Setelah menutup telponnya, Wulan kembali merenung.
Walaupun dia dalam keadaan tidur, sepertinya dia bermimpi ada seseorang yang datang kepadanya, menemaninya.
Dia tak tahu siapa itu karena wajahnya tidak kelihatan, tapi Wulan merasa dia merasa akrab dengan sosok tersebut.
Baru sekarang dia menyadari mimpinya.
Wulan mengernyit dahinya sekali lagi.
Jika itu memang mimpi bagaimana dia menjelaskan tentang selimut yang kini menutupi sekujur tubuhnya.
Jika tadi memang ada orang yang membuka biliknya mengapa barang-barangnya masih ada tanpa berkurang sedikit pun.
Apa maksud orang tersebut?
Jika hanya mimpi, mengapa seperti nyata?
Wulan tak sempat merenungnya lebih jauh saat melihat pelabuhan Sungai Duku sudah di depan mata.
Dia kembali mengemas barang-barangnya, setelah yakin tak ada satu pun yang tertinggal, dia segera turun dan mengikuti arus para penumpang yang sudah tak sabar ingin segera naik ke pelabuhan.
Para Portir pelabuhan dengan sigap mengangkat barang-barang dari atas tenda ke pelabuhan.
Beruntung Wulan dan Mumu hanya membawa tas ransel sehingga tak perlu jasa Portir untuk membawanya.
Mumu melihat Wulan yang berjalan keluar kapal dari kejauhan.
__ADS_1
Ada rasa ingin mendekatinya tapi saat terkenang kemarahan Wulan sewaktu di depan rumahnya dahulu sehingga Mumu menjadi ragu.
Terkadang melihat orang yang anda sukai tidak kurang suatu apa pun walaupun hanya dari kejauhan sudah lebih dari cukup untuk menghibur hati yang merindu.
"Sini, Bang!" Wulan melambai gojek yang dipesan via handphonenya.
Saat naik gojek Wulan tiba-tiba berpaling ke belakang.
Barusan dia seperti melihat orang yang dikenalnya. Orang yang ingin dia temui dan juga dia benci dalam waktu yang bersamaan.
Tapi mungkin hanya perasaannya saja karena saat dia mencari-cari sosok tersebut tapi tidak ada.
Pada hal waktu itu Mumu dengan cepat berlindung di sebalik tiang saat melihat Wulan berpaling ke belakang.
'Tak mungkin dia melihatku' Desis Mumu.
Setelah memastikan Wulan naik gojek dan menghilang dari pandangan, Mumu langsung menuju kedai makan untuk sarapan sambil beristirahat menunggu loket penjualan tiket buka.
Mumu merasa tak perlu lagi mengikuti Wulan hingga ke bandara. Ia yakin Wulan akan baik-baik saja.
Jam 07.00 wib agen tiket mulai buka, setelah membeli tiket speed boat yang berangkat jam 07.30 wib, Mumu langsung beristirahat di ruang tunggu.
Ia sengaja memilih kursi paling belakang dan paling sudut.
Setelah mengatur posisi duduknya, Mumu langsung melakukan meditasi dan menyalurkan pernafasannya mengikuti cara yang telah ditentukan.
Waktu terus berlalu, tanpa terasa jam 07.20 wib, para penumpang disuruh untuk memasuki speed boat.
Setelah memperlihatkan tiketnya di depan petugas yang menunggu di pintu masuk, Mumu langsung mencari nomor kursinya dsn langsung duduk di sana.
Kebetulan kursinya pas di sudut, di dekat jendela.
"Minggir kawan, saya tak bisa duduk di tengah, biarkan saya di tepi jendela." Sebuah suara dengan nada dalam terdengar di kuping Mumu.
Saat ia mendongak, ia melihat seorang pemuda ganteng, tinggi dan berbadan atletis berdiri di sampingnya. Pandangannya terlihat meremehkan.
"Maaf, saya juga tidak bisa duduk di tengah." Jika pemuda itu minta secara baik-baik, Mumu akan memberikan posisi di samping jendela tanpa banyak pertimbangan.
"Jangan mempersulit diri, kawan!" Pemuda itu terlihat tidak senang.
__ADS_1
Dia tak menyangka ada orang kampung yang berani tidak menuruti keinginannya.
Apakah orang kampung ini sudah bosan hidup?