
Mumu mengangguk, mengiyakan.
"Ayo masuk kalau begitu." Rio langsung masuk ke dalam ambulance diikuti Mumu. Sedangkan polisi yang seorang lagi menuju mobil patwal yang berkapasitas 2.488 cc tersebut.
"Bang, ayo jalan!" Ucap Rio kepada sopir yang masih berdiri termangu di samping pintu mobil.
"Tapi, Pak...?" Dia melirik ke arah Mumu, pertanda keberatan jika Mumu harus ikut serta.
"Tak apa-apa. Jalan saja. Tapi pelan-pelan saja ya." Perintahnya.
Tidak mempunyai pilihan lain, sopir itu segera masuk dan menjalankan ambulance dengan perlahan.
Orang-orang yang berkerumun di situ ternganga.
"Apa maksud semuanya ini?"
"Mengapa anak muda yang tak berempati itu ikut bersama polisi?"
"Apa yang dia katakan sehingga polisi kelihatan percaya sama dia."
Semakin ramailah diskusi mereka yang mengiringi kepergian ambulance dan mobil patwal tersebut.
Di dalam ambulance, tanpa membuang waktu, Mumu langsung menyalurkan tenaga dalamnya ke dalam tubuh tubuh wanita tersebut.
Sebagian tenaganya disalurkan ke arah kepala untuk mengurangi pendarahan. Sedangkan sebagian lagi menuju pusat jantung, untuk merangsang kinerja jantung supaya bisa memompa darah dan menyalurkan ke seluruh tubuh.
Tak lama kemudian tubuh wanita malang itu mulai memperlihatkan tanda-tanda kehidupan.
Nafasnya kembali bergerak dengan normal, tidak seperti tadi kadang hilang kadang timbul.
Mumu menarik kembali tenaga dalamnya.
"Sebentar lagi dia akan siuman, Pak. Masa kritisnya sudah lewat." Lapor Mumu kepada Rio yang masih terpana.
Memang dia sudah banyak menyaksikan pengobatan alternatif seperti ini, tapi baru kali ini dia menyaksikan pengobatan yang semenakjubkan seperti yang diperlihatkan oleh anak muda yang sederhana di depannya ini.
Sebelum dia bisa merespon, ambulance tiba-tiba berhenti. Anak muda yang di sampingnya langsung meloncat turun lalu menghilang di kegelapan malam.
Dia belum sempat mengucapkan terima kasih. Bahkan dia belum sempat bertanya nama anak muda tersebut.
__ADS_1
Rio melongok, tapi anak muda itu sudah pergi entah ke mana.
"Mengapa kamu hentikan ambulancenya, Pak?" Tanya Rio seperti ingin menyalahkan sopir ambulance yang tampak ketakutan itu.
Sedari tadi Pak Sopir itu sering melihat tindakkan Mumu dari kaca spion. Mulai dari awal hingga saat melihat kondisi pasien itu sudah kembali membaik.
Saking takjubnya dia, saat terdengar suara memintanya untuk menghentikan ambulance, tanpa pikir panjang dia langsung menepi dan menghentikan ambulancenya.
Tak disangka ternyata anak muda itu dengan cepat membuka pintu ambulance dan meloncat turun dengan cepat.
Dia hanya melihat bayangan anak muda itu berjalan dengan cepat lalu bayangannya pun hilang entah ke mana.
Dia merasa bersalah. Dia telah menyinggung anak muda tadi dan membentaknya tapi dia belum sempat meminta maaf.
Dia lagi galau ditambah lagi Pak Polisi itu seperti menyalahkan tindakan menghentikan ambulance tanpa perintahnya.
Ya...sudah lah. Mari kita melanjutkan perjalanan." Melihat wajah Pak Sopir yang memelas itu membuat Rio tak sampai hati untuk memarahinya. Jika dipikir-pikir tak sepenuhnya salah dia.
Saat mereka sampai di IGD, dua orang perawat IGD dengan sigap menyeret berangkar kosong. Begitu sampai di belakang ambulance, salah seorang perawat itu dengan sigap membuka pintu ambulance untuk segera memindahkan pasien ke berangkar.
Dua orang keluarga pasien yang diduga sebagai orang tua dari wanita itu dengan tak sabar berdiri tak jauh dari berangkar. Setelah mendapat kabar tentang kecelakaan maut yang dialami oleh anaknya, mereka cepat-cepat menuju ke tempat kejadian. Setelah mendengar cerita dari para warga yang masih ada satu dua orang di tempat kejadian, mereka langsung mengikuti ambulance ke RSUD. Sehingga mereka pun sampai bersamaan dengan perawat itu membuka pintu ambulance.
Pasien yang meninggal sudah ditangani oleh teman-teman mereka sebelumnya yang sudah tiba duluan menggunakan ambulance yang satunya lagi.
Betapa kaget dan bingungnya mereka saat melihat tidak ada pasien yang tergeletak dalam keadaan koma di atas berangkar. Yang ada hanyalah seorang wanita yang sedang duduk di pinggir berangkar bersama seorang laki-laki berseragam polisi.
"Mana pasiennya, Pak?" Tanya mereka dengan bingung.
"Sewi, kamu tak apa-apa, Nak?" Seru kedua orang tua saat melihat anaknya sedang duduk di dalam ambulance.
Mereka tak sabar saat melihat polisi itu memimpin anaknya ke luar dari ambulance.
"Dia sudah siuman saat dalam perjalanan ke sini tadi. Walaupun begitu, dia masih memerlukan perawatan. Tangani dia segera." Kata Rio dengan tersenyum canggung.
"Siap, Pak."
Sementara itu, Mumu yang sengaja turun dari ambulance sebelum sampai di RSUD, melanjutkan langkahnya dengan santai melewati gang demi gang menuju jalan pulang.
Walaupun ia belum pernah melewati gang ini sebelumnya, tapi ia tahu bahwa gang ini tembus ke jalan Lintas Timur.
__ADS_1
Mumu sengaja tidak berlari-lari kecil di sepanjang gang, selain takut disangka maling, ia juga ingin menikmati berjalan kaki dalam suasana dini hari.
Ternyata berjalan di dini hari menyegarkan sekali. Udara masih bersih tanpa sedikit pun polusi. Sehingga Mumu berkali-kali menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan kembali dengan nyaman.
Saat Mumu melewati rumah petak yang kosong, pendengarannya yang tajam seperti mendengar sesuatu yang aneh. Sangat mencurigakan.
Dada Mumu berdebar penuh antisipasi.
Ia segera mengendap-endap menuju arah suara yang mencurigakan tadi.
Mumu melangkah dengan perlahan-lahan agar saat sandalnya menyentuh lantai rumah petak tersebut tidak menimbulkan suara.
Rumah petak ini lumayan panjang. Terdapat tujuh pintu. Semuanya tidak berpenghuni sehingga sangat gelap.
Untunglah cahaya bulan ditambah cahaya dari penerangan jalan sehingga Mumu mampu melihat keadaan sekitar sedikit lebih jelas.
Mumu melanjutkan langkahnya selangkah demi selangkah. Pelan tapi pasti.
Saat kakinya tanpa sengaja menginjak sampah plastik yang bertebaran di lantai, suara yang mencurigakan tadi mendadak berhenti.
Mumu sontak terdiam. Ia menahan posisi berdirinya dengan canggung. Tak berani melakukan gerakan sekecil apa pun.
Lima menit berlalu. Suara itu terdengar kembali.
Mumu menyeka keringat yang mendadak muncul di dahinya. Ia menghembuskan nafasnya dengan perlahan. Berdebar.
Setelah dirasa aman, Mumu pun melanjutkan alangkahnya. Kali ini lebih hati-hati dan lebih perlahan-lahan,sehingga waktu yang dihabiskan pun bertambah lama.
Akhirnya Mumu sampai di ujung rumah petak tersebut, tapi ternyata tidak ada apa-apa.
Apakah pendengarannya tadi telah salah?
Tidak mungkin!
Mumu bisa memastikan bahwa baik pendengaran, penglihatan maupun penciumannya lebih kuat dibandingkan dengan orang-orang pada umumnya. Jadi tak mungkin pendengarannya tadi salah.
Tapi tidak ada apa-apa pun di sini.
Mumu bingung.
__ADS_1
Saat ia akan membalik badan memutuskan untuk pulang, matanya tanpa sengaja melihat sesuatu yang mencurigakan di sebalik dinding.