
"Lha kok balik nanya. Jangan menilai karena aku hanya duduk di rumah saja sehingga dianggap tak tahu bagaimana perkembangan kehidupan di kota. Kalau itu yang kamu pikirkan, Mumu, kamu salah besar."
Mumu semakin bingung mendengar perkataan Rudi yang nyeleneh itu. Apakah ada masalah juga di kepalanya selain kakinya yang lumpuh.
Tapi sebelum ia sempat memeriksanya dari jarak jauh, terdengar suara dua pasang langkah kaki yang menghampiri mereka.
Amelia dan emaknya datang membawa minuman dan berbagai makanan.
Mumu segera menyalami wanita paro baya itu yang disambut dengan senyum tulus dan pengharapan.
"Makan dulu, Mumu nanti baru kita mulai prosesnya. Kata Amelia. Kuping Rudi langsung tegak mendengar kata proses.
Dia diam-diam mem*ki Mumu di dalam hati karena telah bersikap blo*n tadi.
"Kamu makan juga ya, Dik. Biar Kakak ambilkan nasinya. Sekalian nemankan Mumu."
"Tidak ah, Kak. Masih kenyang. Aku mau istirahat sebentar." dia langsung memutar kursi roda menuju kamarnya di bagian depan.
Amelia tertegun. Tak biasanya adiknya bersikap seperti itu di hadapan tamu. Kecuali dia menganggap tamu yang datang adalah musuhnya.
Tapi kan dia baru pertama kali berjumpa dengan Mumu, mana mungkin mereka pernah berselisih paham.
Mumu makan dengan lahap, walaupun masakannya sederhana ternyata sangat nikmat.
Apa lagi Mumu memang berasal dari kampung sehingga makanan seperti itu tak ada masalah baginya.
"Ibuk sudah mendengar dari Amel bahwa dia meminta tolong kepadamu untuk mengobati Rudi. Kata tukang urut kemungkinan akan sembuh sudah tidak ada lagi, tapi jika kamu memang bisa, tolonglah obati si Rudi, kasihan dia. Apa pun hasilnya nanti kami tetap akan sangat berterima kasih kepada mu." Suara Buk Tuti lembut, santun dan tanpa tergesa-gesa. Seakan-akan dia adalah seorang yang terpelajar. Mumu menilai, Buk Tuti pasti pernah mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dari sekolah dasar.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin, Buk. Mengingat cederanya sudah lama terjadi, saya kira tidak cukup satu hari untuk menyelesaikan pengobatannya. Apa lagi cederanya itu berkaitan dengan urat saraf serta tulang yang patah."
"Ibuk tidak masalah. Jika kamu harus menginap di sini selama sebulan pun ibuk tidak keberatan." Ucap Buk Tuti sambil tersenyum.
"Cuma, Amelia tidak bisa lama-lama karena dia masuk kuliah."
__ADS_1
"Ya, Buk, Saya kira, Kak Amelia bisa langsung pulang ke Selatpanjang tak apa-apa.
Rasa-rasanya saya sudah hafal jalannya sehingga saya bisa pulang sendiri jika sudah selesai nantinya."
"Jika memang begitu, menjelang asar nanti aku balik lagi ke Selatpanjang ya, Mak. Tak apa-apa kan, Mumu?" Ujar Amelia sambil memandang emaknya dan Mumu.
Menjelang sore Mumu memulai proses pengobatannya. Awalnya Rudi keberatan karena ternyata dia telah salah sangka terhadap Kakaknya dan Mumu. Tapi dia terlalu malu untuk mengakui dan meminta maaf kepada keduanya. Maka jadilah dia lebih banyak diam saat Mumu mengobati kakinya.
Ternyata tulang yang patah mulai ada yang retak di ujungnya, sehingga Mumu hanya bisa memperbaiki dengan mengalirkan tenaga dalam secara perlahan untuk menutupi tulang yang retak tersebut.
Prosesnya lumayan lama.
Menjelang maghrib Mumu baru selesai memperbaiki keretakan tulang tersebut.
Rencananya nanti malam ia akan menyambung kembali tulang kaki yang patah itu dan mengaktifkan kembali urat dan sarafnya agar bisa berfungsi kembali.
Ini baru kaki yang sebelah kanan. Sedangkan kaki yang sebelah kiri, besok pagi baru bisa diolahnya.
Karena sebelumnya Mumu sudah melapor ke Pak RT prihal ia menginap di rumah Pak Narto, Bapaknya Amelia dan Rudi, sehingga Pak RT dan warga sekitar pun berkunjung ke rumah Pak Narto. Selain bersilaturahmi dengan Pak Narto sekeluarga, mereka penasaran dengan tabib muda yang datang ke kampung mereka untuk mengobati Rudi.
Para warga pun berdesakan melongokkan kepalanya ingin menyaksikan bagaimana proses pengobatan tabib muda yang datang datang dari kota itu.
Walaupun pengobatan berlangsung lama, ternyata Pak RT dan para warga sekitar enggan untuk pulang.
Mereka asyik menyaksikan pengobatan yang dilakukan oleh Mumu.
Rasa takjub dan kata-kata pujian mengalir dari mulut mereka saat menyaksikan Mumu memasang kembali tulang kaki yang patah.
Bahkan ada beberapa warga yang mengabadikan peristiwa tersebut dengan merekam menggunakan video hanphonenya.
Kaki kanan Rudi yang awalnya terkulai lemah, mulai tersambung kembali menjadi satu kesatuan.
Yang membuat para warga tak habis pikir adalah saat Mumu memegang kaki Rudi, raut wajah yang empunya kaki sedikitpun tak pernah mengernyit seolah-olah tidak merasakan sakit sama sekali. Bagaikan bukan kakinya yang sedang dipegang dan diurut oleh Mumu tapi kayu.
__ADS_1
Yang lebih menakjubkan adalah saat Mumu mengeluarkan jarum akupunturnya dan menancapkan di sekitar kaki kanan Rudi.
Mereka pun terpana hingga mulut mereka ternganga saking herannya melihat jari-jari kaki Rudi mulai bisa digerakkan satu per satu.
Ini adalah sebuah keajaiban. Seperti mimpi. Mereka sangat beruntung bisa menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri kehebatan ilmu pengobatan yang ditunjukkan oleh Mumu.
Tak kalah takjub dan terkejut tentu saja Pak Narto dan Buk Tuti. Mereka terkesiap dengan penuh kekaguman hingga tak mampu berkata-kata melihat keajaiban terpampang di depan mata.
Mengenai penyakit Rudi, mereka berdua lah yang paling paham separah apa luka di kaki anaknya.
Awalnya mereka sudah tidak punya harapan apa-apa lagi. Mereka sudah pasrah atas apa yang terjadi.
Hingga akhirnya, putri mereka telah membawa seorang pemuda yang luar biasa. Seorang tabib muda yang mempunyai ilmu sundul langit.
Mereka tak henti-hentinya bersyukur atas karunia ini.
Yang paling bersyukur tentu saja Rudi. Dulu dia memang tak memperdulikan musibah yang menimpanya karena kecewa ditinggal Haniah.
Tapi seiring waktu berlalu, terdapat sedikit keinginan di dalam hati untuk bisa sembuh dari penyakitnya ini. Saat kesadaran itu datang tidak dalam masa yang tepat. Dia sudah sangat terlambat. Kakinya sudah tak bisa disembuhkan lagi.
Oleh karena itu, dia tak pernah menampakkan keinginan untuk sembuh di hadapan keluarganya.
Benarlah pepatah mengatakan 'dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati siapa yang tahu.'
Hal ini sesuai sekali dengan keadaan Rudi.
Mumu mengemas jarum akupunturnya. Sambil menyeka keringat yang mengembun di dahi, ia pun berdiri keluar.
Rupanya Pak RT dan para warga belum juga pulang pada hal sudah jam sepuluh malam.
Saat ini pandangan semua orang tertuju kepadanya.
Seandainya pandangan mata bisa mencabik dan mengiris-iris tubuh seseorang, mungkin tubuh Mumu sudah sedari tadi tercincang-cincang akibat pandangan semua orang.
__ADS_1
Ingin rasanya mereka merobek tubuh Mumu agar bisa melihat hatinya. Bagaimana orang semuda ini bisa mempunyai ilmu pengobatan yang luar biasa. Ilmu pengobatan di luar nalar akal mereka.
...****************...