TABIB KELANA

TABIB KELANA
41.


__ADS_3

Walaupun nyeri didadanya sudah hilang bukan berarti anggota tubuh yang lain juga sama.


Masih terdapat luka memar di sekujur tubuhnya. Belum lagi tulang-tulangnya serasa patah. Oleh karena daya tahan tubuh Mumu yang lain dari pada yang lainlah membuat ia masih bisa menahan rasa sakit tersebut.


Ia sengaja tidak menekan saraf perasa ditubuhnya selama pertarungan tadi. Biar tubuhnya berangsur-angsur bisa beradaptasi dengan rasa sakit.


Walau pun tubuhnya cedera tapi Mumu banyak mendapat pelajaran dan pemahaman. Ada satu pencerahan yang perlu ia buktikan nanti.


Saking lelahnya Mumu, begitu selesai makan dan istirahat sebentar, ia langsung tertidur dengan pulas.


Nafasnya turun naik dengan teratur. Wajahnya damai. Dilihat sekilas, wajahnya tampak lebih dewasa dibandingkan umurnya.


Kata orang jika ingin melihat penampilan asli seorang lelaki maka lihatlah ketika dia tertidur.


Tapi.....


Jika ingin melihat penampilan asli seorang wanita, maka lihatlah ketika dia baru bangun tidur.


Mentari sore mulai condong ke arah barat. Tapi sinarnya masih mampu membakar kulit.


Tapi hal itu tidak berlaku bagi anak-anak.


Begitu pulang sekolah mereka segera menuju tanah lapang untuk bermain layangan.


Sekarang sudah pertengahan bulan Juli. Angin bertiup dari arah utara. Musim bermain layang-layang.


Makanya tidak peduli panas mentari yang bisa menghitamkan kulit, bagi anak-anak tersebut yang penting main layang-layang.


Jika ada layangan yang putus, mereka berebut mengejarnya tidak peduli harus masuk ke semak-semak, tidak memandang motor yang hampir menabrak mereka, karena fokus pandangan mereka hanya tertuju pada layang-layang yang terombang-ambing di udara.


Mumu membuka matanya. Walau masih ada rasa sakit dan pegal, tubuhnya sudah terasa segar.


Ia menggeliat, ah...badannya jadi tambah segar, tidak kaku.


Menggeliat atau ngulet yang dilakukan saat bangun tidur adalah cara alami sistem saraf untuk membangunkan sistem motorik dan sensorik pada tubuh agar siap untuk beraktivitas kembali.


Setelah selesai menunaikan ibadah dan minum segelas air putih Mumu kembali ke kamar. Ia ingin membuktikan hipotesanya.


Mumu mengambil posisi meditasi lalu memulai teknik pernafasannya.


Nafasnya mengalir teratur memasuki tubuhnya melalui hidung dan berhenti di sekitar perutnya.

__ADS_1


Setelah itu Mumu mengedarkan pernafasan yang Mumu duga semacam energi tenaga dalam itu ke bagian-bagian tubuhnya yang sakit. Tak beberapa lama kemudian tanda memar disekujur tubuhnya mulai menghilang sedikit demi sedikit.


Tak hanya sampai di situ, Mumu juga memindahkan aliran energi itu ke arah tulang-tulangnya yang serasa remuk.


Tak membutuhkan waktu yang lama tulang-tulangnya kembali normal. Tidak ada lagi rasa sakit yang menyiksa.


Mumu sangat senang.


Ia menghentikan meditasinya.


Ternyata memang benar, energi yang dihasilkan dari metode pernafasannya mempunyai fungsi penyembuhan. Ini sungguh luar biasa. Mumu sangat bersyukur karenanya.


Mumu melanjutkan analisisnya. Ia mengambil sebuah pisau kecil dan menorehkan ke lengannya. Walau tidak terlalu besar tapi yang namanya luka tetaplah luka yang akan mengeluarkan darah.


Mumu tak mencoba menghentikannya. Ia lalu memutar metode pernafasannya dan mengalirkan ke arah luka.


Ajaib! Luka itu mulai menutup sedikit demi sedikit sehingga hanya menyisakan semacam garis halus.


Jika tidak diperhatikan dengan seksama, orang tak akan tahu bahwa tadi terdapat luka di sana.


Jantung Mumu berdebar semakin kencang, ia mencoba menekan kegembiraannya.


Jika ini memang nyata maka kesempatan menolong dan mengobati orang lain semakin terbuka lebar. Ia bisa memadukan teknik, urut, jarum akupuntur dan energi dari teknik pernafasannya ini.


Biasanya patah tulang begini bisa ia sembuhkan dengan cara mengurut. Tapi kali ini ia mencoba cara lain.


Sekali lagi ia mengedarkan teknik pernafasannya lalu dialirkan ke arah jari kelingking. Tak lama kemudian jari kelingkingnya kembali sembuh seperti sedia kala.


Tapi cara ini telah menguras banyak tenaga sehingga tak mungkin bisa ia gunakan sesuka hatinya.


Walau bagaimana pun juga, Mumu tetap bersyukur atas karunia yang semakin bertambah ini. Ia bertekad hanya akan menggunakan ilmu ini untuk kebajikan.


"Assalamu'alaikum....!"


Mumu menajamkan pendengarannya. Seperti ada yang mengucapkan salam.


Mumu bergegas keluar. Matahari semakin condong ke barat. Sudah hampir malam.


Seorang wanita empat puluhan tahun berdiri di depan pagar rumah.


"Wa'alaikum salam, ada apa ya, Buk?" Mumu menghampiri wanita itu dan segera membuka pintu pagar.

__ADS_1


"Ini ada sedikit rezeki, kebetulan tadi masak lebih." Wanita itu menyodorkan sebuah mangkok yang ditutupi dengan daun pisang.


"Ooo terima kasih banyak, Buk." Mumu menyambut mangkok gulai tersebut dan menarohnya di atas meja. Di teras rumah memang ada meja dan kursi bagi tamu Pak Wahab dulu.


"Silahkan duduk, Buk. Maaf saya belum kenal nama Ibuk." Mumu tersenyum malu.


"Nama saya Yola, panggil saja Buk Yola. Kita bertetangga. Rumah saya itu di seberang jalan sana." Buk Yola menunjuk rumah beton bewarna crem bergaris putih.


"Saya Mumu, Buk, yang menjaga rumah ini. Maaf jarang bersosialisasi dengan para tetangga."


"Tidak masalah, lama-lama juga akan terbiasa."


Setelah berbasa-basi sebentar, Buk Yola pun pamit.


Dari ceritanya tetangga-tetangga sekitar sini memang biasa memberi makanan. Cuma karena Mumu orang baru dan jarang nampak di rumah, tetangga yang lain jadi sungkan mau bertamu.


Mumu membawa mangkok gulai ke dalam rumah.


Ternyata gulai ayam kampung. Mumu jadi lapar melihatnya. Jadi ia langsung makan saja dengan lahap.


Jam sepuluh malam. Bagi sebagian besar orang-orang di kampung, waktu ini sudah sangat malam.


Berbeda dengan kehidupan di kota. Jam Sepuluh masih dianggap belum terlalu malam. Orang-orang masih sibuk ke sana ke mari dengan berbagai urusan yang tak sempat dikerjakan di siang hari.


Bagi Mumu jam sepuluh malam sudah sangat malam. Tandanya ia sudah tidur dari tadi.


Bedanya tidurnya kali ini tidak terlalu nyenyak. Hal ini bisa dilihat dari posisi tidurnya yang kelihatan resah. Sebentar-sebentar pindah. Raut wajahnya terkadang mengernyit seperti menahan rasa sakit. Bahkan tanngannya tanpa sadar memegang dada seolah-olah disitulah sumber rasa sakitnya.


Pada hal sakit akibat pertarungannya dengan Ijal dan teman-temannya sudah sembuh. Jangankan sebuah luka, bintik-bintik bekas memar saja sudah tidak kelihatan lagi sama sekali.


Ataukah Mumu sedang bermimpi buruk?


Bisa jadi ia sedang mimpi bertarung atau mimpi sedang diterkam binatang buas.


Terkadang hal-hal yang sudah kita alami akan terbawa kembali ke dalam mimpi.


Tapi posisi tangannya yang tetap mencengkeram dada seperti bukan mimpi. Tampaknya Mumu memang benar-benar sedang kesakitan.


Yang jadi pertanyaannya sakit karena apa?


Mumu tiba-tiba terbangun. Dengan posisi tangan masih memegang dada, Mumu hanya mampu beringsut sedikit ketika tiba-tiba dari mulutnya menyembur darah segar.

__ADS_1


Untung ia sempat bergerak sedikit tadi sehingga darahnya tidak mengenai kasur.


Mumu menyeka sisa darah dibibirnya. Dadanya terasa sesak dan nafasnya sedikit ngos-ngosan.


__ADS_2