
Jefri membanting handphonenya dan memijit kepala. Untuk menggerakkan sepuluh orang melakukan sesuatu, dia terpaksa mengeluarkan uang yang tidak sedikit.
Biasanya untuk mengurus sesuatu seperti itu dia hanya cukup menggerakkan orang-oranya sebanyak tiga orang atau paling banyak lima orang. Itu sudah lebih dari cukup untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan tingkat kesuksesan seratus persen.
Tapi kali ini dia tidak yakin dengan jumlah sebanyak itu. Dia menduga seorang tabib yang masih muda tapi sudah mempunyai ilmu pengobatan yang luar biasa pasti bukan orang sembarangan. Walaupun kelihatan sendiri, pasti pendukung yang di belakangnya akan mengawasi dan melindunginya secara diam-diam. Tak mungkin permata yang begitu berharga dilepaskan begitu saja tanpa perlindungan sama sekali.
Tidak mungkin! Itu pasti tidak mungkin!!
Oleh karena itu dia perlu menyiapkan orang-orangnya dua kali lipat untuk memastikan usahanya akan berhasil.
Walaupun gara-gara hal tersebut, dia harus menyemburkan darah karena harus merogoh sakunya lebih dalam.
Bagaimana pun juga orang tuanya hanyalah salah seorang yang kaya untuk ukuran kampungnya. Jika dibandingkan dengan kekayaan orang-orang se kecamatan saja, kekayaan orang tuanya tidak layak untuk disebutkan.
Sementara itu, Haniah sedang duduk termangu di perpustakaan kampusnya.
Tangannya kembali memencet tombol play handphonenya. Sudah berpuluh kali dia melakukan hal tersebut, tapi dia tidak bosan-bosan juga melihat dan mengulang video itu.
Untunglah ruang baca perpustakaan dalam keadaan sepi saat ini sehingga tidak ada yang merasa terganggu dengan tindakannya.
Sekarang adalah jam kuliah. Karena dosennya berhalangan hadir sehingga jam kuliahnya kosong untuk saat ini.
Mau pulang ke kost tanggung, karena setelah ini dia masuk lagi dengan dosen mata kuliah statistik.
Untuk mengisi waktu luang sehingga dia memutuskan untuk membaca buku di ruangan perpustakaan.
Haniah baru saja membaca buku sebanyak dua lembar saat handphonenya berbunyi. Sebuah pesan baru masuk. Dia meliriknya, Sapta, adiknya yang kelas tiga SMA mengirimnya sebuah video.
'Mengapa Sapta mengirimnya sebuah video? Macam tak ada kerjaan saja adiknya ini.' Haniah malas membukanya.
__ADS_1
Haniah kembali membolak balik bukunya. Kembali handphonenya berbunyi. Kali ini pesan teks dari Sapta. Kata-katany cukup singkat. 'Video Rudi.'
Haniah sedikit penasaran. Tak biasanya adiknya membahas tentang Rudi kecuali tentang keburukan dan kekurangan Rudi.
Walau bagaimana pun keluarga dulu sangat mewanti-wanti agar dia menjauh dari Rudi. Mengapa sekarang Sapta tiba-tiba mengirim video Rudi.
Haniah menekan layar hanphonenya untuk mendownload video. Dia sengaja mengatur handphone agar tidak mendownload foto dan video secara otomatis sehingga foto dan video tidak akan terdownload jika dia tidak menekan layar hanohonenya untuk mendownload.
Jantung Haniah berdebar kencang saat melihat suasana rumah yang sangat dikenalnya. Ini rumah mantan pacarnya, Rudi.
Kemudian dia melihat wajah seorang pemuda yang tidak dikenalnya sedang duduk menghadap seorang pria yang sangat dikenalnya, seorang pria yang selalu menghiasi mimpi-mimpinya.
Walaupun dua tahun telah berlalu, ternyata wajah Rudi tak banyak berubah selain tampak lebih kurus dan sedikit pucat.
Tanpa sadar dua butir air mata muncul dari matanya yang bening. Dia terus menonton video tersebut hingga selesai.
Selama menonton jantungnya tak berhenti-hentinya berdetak dengan cepat. Apa lagi saat pemuda tak dikenal itu menyabut dan menyimpan kembali jarum-jarumnya. Saat dia melihat jari kaki Rudi mulai bisa digerakkan, Haniah membekap dadanya. Seolah-olah kakinya lah yang disembuhkan saat itu. Dia terharu sekali. Dia sangat senang melihat kaki Rudi akhirnya bisa sembuh seperti sedia kala.
Mumu dijamu dengan beraneka ragam makanan dan buah-buahan hasil dari desa seperti durian, rambutan dan cempedak saat sarapan di rumah Pak Kades Mahardi.
Setelah selesai sarapan, mereka langsung menuju ke Kantor Desa yang tak terlalu jauh jaraknya dari rumah Pak Kades.
Sampai di sana, Kantor Desa sudah dipenuhi oleh orang-orang yang ingin mengadu keberuntungan mereka untuk berobat dengan tabib muda yang tersohor itu.
Di tangan mereka masing-masing tergenggam secarik kertas, bukan jimat bukan tangkal tapi berupa nomor antrian yang sebelumnya telah dibagikan oleh petugas keamanan desa.
Agar tidak membuat para warga menunggu lebih lama, Mumu meminta izin kepada Pak Kades untuk segera memulai proses pengobatan umum itu.
Karena kebanyakan penyakit mereka adalah terkilir dan salah urat saraf sehingga Mumu bisa mengobati mereka dengan cepat.
__ADS_1
Tanpa perlu mengeluarkan jarum akupunturnya, rata-rata penyakit masyarakat tersebut sudah bisa diobati dan langsung sembuh.
Mereka sudah tidak mempunyai kata-kata yang ingin mereka ucapkan lagi untuk menggambarkan proses pengobatan Mumu yang sangat efektif dan efisien ini.
Menjelang tengah hari semuanya sudah mendapat bagian sehingga Aula Kantor Desa kembali menjadi sepi karena tidak ada lagi warga desa yang datang untuk berobat.
Karena kegiatannya sudah selesai, akhirnya Mumu pun minta izin untuk langsung pulang ke Selatpanjang. Walau bagaimana pun juga ia sudah beberapa hari tidak pulang.
Untunglah sekarang ada Bik Esah dan cucunya di rumah sehingga rumahnya tidak sepi karena sering ditinggal olehnya.
"Bagaimana kalau besok saja baru pulang ke Selatpanjang, Mumu? Kebetulan saya besok mau ke Selatpanjang juga, jadi kita bisa bareng." Kata Pak Kades berusaha memujuk Mumu lebih lama tinggal di sini. Bagaimana pun juga, membuat Mumu kerasan di sini tak ada rugi baginya.
"Maaf, Pak Kades, saya sudah lama meninggalkan rumah. Lagi pula sudah ada beberapa orang yang menelpon dari kemaren, ingin berobat." Ujar Mumu dengan senyum minta maaf.
Karena tidak bisa lagi memujuk Mumu untuk tinggal lebih lama, Pak Kades hanya bisa berkata, "Kalau begitu lepas zuhur saja kamu pulang ya, Mumu. Tengah hari ini kamu makan siang dulu di rumah saya. Bagaimana?" Tanya Pak Kades penuh harap. Dia ada misi rahasia. Dia sengaja ingin mendekatkan Mumu dengan kedua anak gadisnya, mana tahu Mumu berkenan dengan salah satu di antara mereka. Kan tak ada salahnya mendapatkan calon menantu yang mempunyai ilmu pengobatan yang mumpuni.
"Baiklah, Pak Kades." Mumu tak tau apa yang ada dalam pikiran Pak Kades. Ia hanya tak mau mengecewakan sosok panutan warga desa itu saja.
Mereka pun langsung menuju ke rumah Pak Kades.
Ternyata niat Pak Kades tidak kesampaian. Saat mereka tiba di rumah, kedua anak gadisnya belum pulang sekolah. Pak Kades hanya bisa menepuk jidatnya.
Dari rumah Pak Kades, Mumu singgah sebentar di rumah Pak Narto, mereka ternyata telah menunggunya dari tadi. Bahkan Buk Tuti sudah membungkus berbagai masakan untuk Mumu bawa pulang ke Selatpanjang.
Mumu pun kembali menambah barang bawaannya di motornya yang sudah penuh itu.
Di bagian belakang satu karung penuh bermacam buah-buahan yang telah disiapkan oleh Pak Kades untuknya. Belum lagi dua kardus barang yang disiapkan oleh Pak Narto dan Buk Tuti.
Mumu tak kuasa menolaknya.
__ADS_1
Setelah berpamitan, Mumu segera melanjutkan perjalanannya melewati bulak-bulak sawah yang sepi.