TABIB KELANA

TABIB KELANA
Meninggal Dunia


__ADS_3

drg. Saloka menyantap makanannya dengan cepat. Ibarat motor, mulai saja distarter langsung digas hingga full. Hanya dalam waktu sebentar, dia sudah menyelesaikan acara makannya.


Mumu percaya, jika acara tujuh belasan ada pertandingan makan nasi tercepat, maka dapat dipastikan drg. Saloka lah orangnya.


Sambil menyeka keringat yang timbul akibat kepedasan dengan sehelai tisu, drg. Saloka menceritakan permasalahan yang menganggu pikirannya secara garis besar mengenai penyakit istri salah satu pejabat di Meranti. Hanya itu.


Dia tidak menceritakan tentang penolakan beberapa orang dewan direksi atas kebijakannya yang telah merekrut Mumu karena dia merasa bukan hal yang baik jika Mumu mengetahui persoalan internal tersebut.


"Pak Dokter kan tidak bisa juga menyalahkan diri Bapak sendiri mengenai persoalan tersebut. Walau pun Bapak menjabat sebagai Direktur RSUD, bukan berarti Bapak harus bertanggung jawab terhadap semua nasib pasien."


Mendengar komentar Mumu, drg. Saloka hanya tertawa masam. "Secara teori apa yang kamu katakan memang benar, Mumu. Tapi realitanya tidak seperti itu. Direktur ada lah jabatan struktural, yang mana kami diangkat dan diberhentikan oleh Pemda. Kamu tahu kan kelanjutannya? Walau pun saya tidak mengalahkan diri saya sendiri maka akan ada pihak lain yang akan menyalahkan saya. Hal ini akan berimbas pada jabatan saya dan bantuan pendanaan dari Pemda jika kinerja kami dianggap kurang layak."


Drg. Saloka menyeruput teh esnya, lalu melanjutkan perkataannya, "Mungkin kamu beranggapan bahwa saya gila jabatan dan takut jika jabatan saya dicopot, jika kamu berpikiran seperti itu, maka kamu salah besar, Mumu." Mata drg. Saloka sejenak tidak fokus, mungkin dia sedang mengingat kenangan tentang sesuatu. Tapi Mumu tidak berusaha menganggunya.


Drg. Saloka benar-benar diam, tapi dia segera menyadari sikapnya dan tersenyum minta maaf kepada Mumu.


"Tahu kah kamu mengapa saya menceritakan ini semua kepada kamu?" Mumu menggelengkan kepala tanda tidak tahu.


"Kamu berbeda dengan orang lain. Walau pun aku baru mengenalmu, tapi aku tahu kamu bisa dipercaya, paling tidak kamu tidak akan mengambil kesempatan jika ada orang yang menyodorkan sebuah keuntungan kepadamu tanpa peduli dengan konsekuensinya dan kamu bukan jenis orang yang akan menelan seseorang yang sedang dalam keadaan terjepit walau pun kamu mampu untuk melakukannya."


Mumu hanya bisa meringis, "Pak dokter terlalu tinggi menilai saja. Semakin tinggi seseorang naik akan semakin sakit saat dia jatuh. Begitu juga dengan pujian Pak Dokter akan membuat saya menjadi lengah dan bahkan menjadi sombong karena seakan-akan terangkat tinggi hingga ke langit. Pak Dokter menganggap saya berbeda dengan orang lain, mungkin karena memang basic saya yang hanya tamatan SMA berbeda dengan orang kuliahan, Pak, sehingga saya tidak terlalu memperdulikan keperluan orang lain selama hal itu tidak menganggu saya, Pak. He he..."Mumu tertawa.


"Oh ya, Pak, sebenarnya apa jenis penyakit yang menimpa istri pejabat itu, Pak Dokter?" Mumu sengaja mengalihkan topik pembicaraan.


Drg. Saloka menarik nafas berat saat mendengar pertanyaan Mumu. "Dia mengidap penyakit jantung, tapi sudah komplikasi dengan berbagai penyakit lain, harapannya untuk sembuh sudah mendekati nol. Jika saja sempat dibawa ke Jakarta, paling tidak masih ada harapan walau pun tidak mencapai 35%. Andai saja penyakitnya disebabkan oleh racun, maka saya tak perlu depresi seperti ini."

__ADS_1


"Mengapa begitu, Pak?" Tanya Mumu dengan heran.


"Tentu saja saya bisa minta tolong kamu untuk mengobatinya. Kamu kan ahli dalam mengobati orang yang keracunan. Memangnya ada alasan lain lagi?" drg. Saloka tanpa sadar mendelik ke arah Mumu.


Dalam hati drg. Saloka mencibir. 'Mumu ini pura-pura tak mengerti, jelas-jelas dia bisa mengobati orang yang terkena racun, malah pura-pura tak paham seolah-olah dia tak ada hubungannya dengan pasien RSUD yang terkena racun. Apa mau makan gaji buta?'


Mendengar jawaban drg. Saloka, Mumu hanya bisa terperangah. Ia hanya tertawa di dalam hati.


Rupanya drg. Saloka menyangka ia hanya punya kemampuan dalam mengobati pasien yang keracunan. Drg. Saloka tak menduga bahwa Mumu bisa juga mengobati orang yang terkena penyakit selain keracunan.


Tapi tentu saja Mumu tak akan mempromosikan dirinya sendiri yang seolah-olah bisa mengobati segala macam penyakit.


Lagi pula jika ia mengaku bisa mengobati penyakit lain selain keracunan belum tentu juga drg. Saloka akan percaya.


Bagai mana pun juga, sedangkan dokter spesialis yang telah menimba ilmu bertahun-tahun dan ditambah dengan berbagai peralatan medis saja tidak bisa menyebut diri mereka punya keahlian untuk mengobati berbagai macam penyakit.


Ada keinginannya untuk sekedar menolong jika ia memang mampu untuk menolongnya.


Tapi, Mumu tahu bahwa kadang kala niat baik saja tidak cukup untuk kita berbuat baik.


Bisa saja niat baik kita disalahartikan oleh sebagian orang.


Oleh karena itu Mumu hanya bisa menunggu sambil melihat keadaan dahulu.


"Ah, sudah lah, Oh ya Mumu, gara-gara masalah yang saya alami, saya hampir lupa menanyakan mengapa kamu ada di sini? Sejak kapan? Jangan bilang kamu datang ke sini karena pasien kamu sekarang ada di mana-mana. Ha ha..." drg. Saloka geli sendiri dengan pemikirannya yang tak masuk akal tersebut.

__ADS_1


Jika ada yang mengatakan bahwa Mumu mengobati orang-orang hingga ke luar kabupaten, maka drg. Saloka akan mengambil batu es dan langsung memasukkan ke dalam mulut orang yang berani membuat cerita khayalan tingkat tinggi tersebut.


Melihat ekspresi drg. Saloka, Mumu memutuskan untuk tidak mengatakan hal yang sebenarnya.


Walau pun drg. Saloka tidak bermaksud mencemoohnya, dari ekspresinya Mumu tahu bahwa percuma juga jika ia mengatakan perkara yang sebenarnya mengapa ia berada di kota Siak ini. Drg. Saloka bakalan tak percaya.


Dalam pada itu handphonenya drg. Saloka berbunyi, saat melihat nama penelponnya yang tak lain adalah dokter spesialis penyakit dalam yang juga ikut mendampingi istri Pak Ketua Dewan ke sini, entah mengapa dada drg. Saloka berdebar lebih kencang.


Dia bergegas menjawabnya, "Ada, apa?" Tanya drg. Saloka yang berusaha menenangkan hatinya.


"Bapak di mana sekarang? Bisa kah Bapak langsung ke ruang ICU sekarang?!" Suara di seberang sana agak panik. Walau pun maksudnya memohon, tapi ada nada penegasan di sana.


"Apa yang terjadi?" drg. Saloka tidak bisa menenangkan dirinya. Dia mempunyai firasat buruk tentang hal ini.


"Anu, Pak.....istri Pak Ketua...."


"Ada apa dengan istri beliau?!


"Istrinya ...sudah tidak ada, Pak..."


"Apa maksudmu sudah tidak ada?!" drg. Saloka panik.


"Istrinya sudah meninggal dunia, Pak...."


Drg. Saloka mengenggam handphonenya dengan tangan gemetar. 'Habis lah sudah,' Pikirnya. 'Apa yang harus aku lakukan?'

__ADS_1


Tiba-tiba drg. Saloka bangkit, "Ayo kita ke RSUD, Mumu!"


__ADS_2