TABIB KELANA

TABIB KELANA
Hadiah


__ADS_3

Drg. Saloka menggelengkan kepala dan tersenyum tipis, "Sama seperti Ibuk, awalnya saya juga tidak percaya dan curiga dengan usianya. Tapi saat saya melihat kartu identitasnya sangat jelas tahun lahirnya, Buk. Akhir tahun ini dia baru berumur 19 tahun, Buk."


"Jadi dia masih 18 tahun maksud kamu?"


"Iya, Buk."


"Luar biasa." Wanita paruh baya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan heran, "Kamu harus mengenalkan aku kepada dia suatu saat nanti." Matanya menusuk seakan-akan berkata, 'Awas jika kamu mengatakan tidak'.


"He he...siap, Buk. Siap!" drg. Saloka hanya bisa setuju.


Setelah memastikan kesediaan drg. Saloka, wanita paruh baya itu pun bangkit seraya berkata, "Mari kita lihat kondisi istri Pak Dewan tersebut. Hitung-hitung nyetor wajah. He he...." Dia terkekeh geli.


Kadang kita bersikap tak adil dalam berkehidupan sosial kemasyarakatan.


Jika orang penting membuat hajatan atau mengalami musibah, maka kita akan bela-belain untuk datang, tapi jika masyarakat kecil yang membuat hajatan atau mengalami musibah, belum tentu kita mempunyai waktu untuk medatanginya.


Sewaktu mereka sampai di sana, ada tiga doktet spesialis penyakit dalam yang bekerja sama menangani dan berusaha membantu istri Pak Dewan agar bisa melewati masa-masa kritisnya.


Berbagai usaha telah dilakukan, tapi nampaknya tidak membuahkan hasil.


Akhirnya salah seorang dokter spesialis berkata kepada Pak Dewan, "Pak kondisi ibuk masih sangat memprihatinkan, jika memungkinkan bagaimana jika kita rujuk. Saran kami, langsung saja kita bawa ke Jakarta, karena di sana peralatannya lengkap."


Seorang pria dengan tinggi lebih kurang 170 cm dengan rambut yang dipotong rapi menatap dokter tersebut dengan pandangan tak yakin, dia tak menanggapi saran dokter spesialis tersebut, tapi dia malah bertanya, "Berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk sampai ke Jakarta, Pak?"


"Sekitar tujuh hingga delapan jam, Pak." Jawabnya agak ragu.


"Lalu berapa lama istriku bisa bertahan menurut diagnosa Pak Dokter?" Pria yang ternyata adalah Pak Dewan itu kembali bertanya dengan pandangan yang semakin tajam.

__ADS_1


Dokter itu tergagap. Dia menatap koleganya yang lain mengharapkan dukungan, bagaikan punya ilmu tembus pandang, seolah-olah tatapan memelas dokter yang bernasib si*l itu sama sekali tidak kelihatan, kedua dokter spesialis itu malah menatap ke arah drg. Saloka dan dewan direksi seolah-olah sejak awal mereka berdua memang tidak pernah melihat koleganya yang sedang berdiri dengan wajah gemetar di depan ketua DPRD.


Pria gemuk, salah seorang dewan direksi itu maju untuk memecah kecanggungan, "Jangan berkata begitu Pak Ketua! Harapan kita, Ibuk tetap bisa bertahan dan sembuh seperti sedia kala. Memang perjalanan ke Jakarta memakan waktu yang lama karena kita harus transit dulu lewat Pekanbaru. Namun jika kita hanya menunggu di sini sedangkan para dokter sudah angkat tangan karena minimnya fasilitas, saya kira bukan juga keputusan yang bijak. Nanti orang beranggapan kita kurang berusaha untuk kesembuhan Ibuk."


Bukan main lincah pria gemuk itu dalam bersilat lidah.


Pertama dia tidak menyalahkan para dokter yang tidak bisa terus merawat kondisi istri Pak Dewan, tapi dia beralasan kurangnya peralatan sehingga para dokter tidak bisa bekerja secara maksimal.


Yang kedua karena Pak Dewan adalah public figur sehingga dia membawa nama masyarakat agar Pak Dewan mau merujuk istrinya ke Jakarta, jadi bukan karena keinginan dari pihak RSUD.


Di mana-mana, public figur harus senantiasa menjaga citranya dalam pandangan masyarakat agar tetap dinilai positif segala tindak tanduk yang mereka lakukan.


Istilah krennya adalah menjaga imej.


Pak Dewan tampak mengangguk-angguk kepalanya dan berkata, "Baik lah tolong siap kan segala sesuatunya. Saya mau menelpon keluarga saya sebentar."


"Terima kasih, Pak Direktur."


Mereka pun segera berpencar untuk melaksanakan tugas masing-masing.


Pria gemuk itu mendekati drg. Saloka dan berkata, "Pak Dokter tolong dampingi Pak Ketua hingga sampai di Pekanbaru."


"Tapi, Pak, kan sudah ada dokter spesialis yang mendampingi beliau." drg. Saloka menatap pria gemuk itu tak senang.


Sebelum pria gemuk itu melontarkan kata-kata pedasnya, terdengar suara dari belakang, "Tak ada salahnya Pak Dokter juga ikut serta, Pak. Kan hanya sampai di Pekanbaru." Ternyata wanita paruh baya itu yang berkata.


Drg. Saloka tak mengerti mengapa wanita paruh baya itu mendukung pria gemuk yang jelas-jelas tidak menyukai drg. Saloka, tapi karena wanita paruh baya tersebut telah berkata, maka dia hanya bisa mengangguk seraya berkata, "Baik lah, Buk. Saya kembali ke ruangan saya sebentar.

__ADS_1


...****************...


Tenaga Mumu sudah pulih kembali. Baik tenaga dalam maupun kekuatan spiritualnya sudah kembali seperti semula.


Walau pun begitu, masih ada tanda kerutan di dahinya sambil memandang ke arah Pak Lukman seolah-olah meminta penjelasan, sedangkan di kedua tangannya ada beberapa lembar kertas yang dirangkai menjadi satu.


Saat ini Mumu sedang duduk di ruang tamu di rumah Pak Lukman. Duduk di hadapannya Pak Lukman yang di apit oleh anak dan istrinya.


Sedangkan di samping kiri Mumu juga ada Tuk Udin dan Nenek Kam.


"Apa maksud semua ini, Pak Lukman? Saya tak bisa menerimanya. Ini terlalu besar." Mumu melambai sertifikat hak milik yang bersampul hijau muda tersebut.


"Mumu, tolong diterima! Kami mohon. Memang kalau dibandingkan dengan kesehatan anak kami serta keamanan rumah ini, hadiah kami kepada mu tidak seberapa. Ini bukan balas jasa, karena kami yakin, kami tak akan bisa membalas jasa kamu atas keluarga kami. Ini adalah hadiah. Dari awal kami sudah berniat akan menghadiahkan kebun sawit yang hanya seluas lima hektar itu kepada siapa pun yang mampu menolong anak kami." Ucap Pak Lukman dengan tulus.


"Tolong diterima, Mumu." Timpal Buk Juwita yang ikut menguatkan pernyataan suaminya.


Mumu terdiam. Ia tak tahu harus berkata apa.


"Kami tahu kamu menolong orang dengan ikhlas, Mumu. Mudah-mudahan dengan hadiah dari keluarga Pak Lukman tidak akan mempengaruhi keikhlasan kamu dalam menolong sesama. Jadi kamu terima saja." Ujar Tuk Udin sambil menatap Mumu dengan pandangan memohon.


Mumu hanya bisa menghela nafasnya dengan berat.


"Kalau begitu saya hanya bisa mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya atas kebaikan Pak Lukman sekeluarga serta Tuk Udin dan Nenek Kam. Hari ini saya akan kembali pulang ke Selatpanjang, jadi sekalian saya mohon pamit kepada Bapak dan Atuk sekeluarga."


"Secepat itu kah? Kenapa kamu tidak tinggal di sini barang sehari dua lagi, Mumu? Biar Atuk bawa kamu jalan-jalan mengelilingi kota Siak."


"Terima kasih banyak atas kebaikannya, Tuk. Biar lah lain kali saja jika memang saya ada berkunjung ke kota ini lagi." Tolak Mumu dengan sopan.

__ADS_1


Siti Aisyah yang sedari tadi hanya diam saja seperti ingin mengucapkan sesuatu, tapi tak jadi. Dia hanya menatap Mumu dengan pandangan sayu.


__ADS_2