
Tak ayal, tubuh kelima remaja itu pun berjatuhan. Mereka bangkit dengan cepat.
Mumu dengan sengaja menekan kekuatan tendangannya tadi, jika tidak, kelima remaja tersebut tidak akan bisa berdiri dengan mudah.
"Siapa kamu hah? Jangan ikut campur urusan orang lain." Salah seorang remaja itu mengeluarkan pisau lipat dari dalam sakunya. Dia memberi isyarat kepada temannya yang lain untuk mengepung Mumu di tengah-tengah.
Kebetulan Wulan juga ikut terkepung, sedangkan Lisa berada agak jauh di tepi pantai, di luar lingkaran.
'Nekad juga ini anak' pikir Mumu. Jelas mereka telah terbiasa melakukan hal tersebut. Mengancam orang yang tidak menurut keinginan mereka. Mereka harus diberi pelajaran supaya jera. Selain itu juga Mumu hendak memancing orang di belakang mereka.
Biasanya ada orang yang mendukung mereka di balik layar, jika tidak seperti itu mustahil kelima remaja tersebut berani berbuat hal yang tak patut di tempat ramai.
Saat melihat remaja itu mengeluarkan pisau Wulan tanpa sadar mundur ke arah Mumu, entah mengapa saat terpandang wajah Mumu, dia langsung merasa yakin terhadap anak muda itu pada hal dari segi tampang dan penampilan anak muda itu kelihatan biasa saja.
Sambil mendengus dingin remaja itu menyerang Mumu dengan pisau terhunus lurus ke depan, pada saat bersamaan tiga orang remaja menyerang Mumu dari arah samping, dua orang menyerang dari arah kanan, dengan menargetkan kepala dan bagian kaki, sedangkan seorang lagi menyerang dari arah kiri, sungguh kombinasi yang baik, hal ini membuktikan bahwa mereka sudah sangat terlatih dengan baik dan sudah sangat biasa melakukan kerja sama seperti ini. Selain itu juga, dalam waktu yang bersamaan remaja yang terakhir melangkah maju untuk menangkap Wulan yang pucat ketakutan melihat para remaja tanggung yang tampak beringas tersebut.
Jika orang lain yang dikepung dan diserang sedemikian rupa mungkin mereka akan takluk dan tak berdaya melawan kombinasi serangan kelima remaja yang terkoordinasi dengan baik itu.
Tapi kali ini yang mereka hadapi adalah Mumu, ia tidak menjadi gugup adanya atas serangan itu.
Mumu langsung maju dengan secepat kilat memapasi serangan pisau itu lalu mengirimkan tendangan yang telak mengenai dada remaja yang sedang bernasib si*l tersebut.
Remaja itu pun langsung terbang hingga dua meter ke belakang dan jatuh menimpa onggokan sampah. Dia terkejut dan tidak menyangka bahwa Mumu berani maju dan memapas serangannya, biasanya jika itu adalah orang lain, mereka akan mundur ke belakang sehingga dia dan ketiga temannya yang di samping akan langsung bisa mengunci dan melancarkan serangan pamungkas sehingga lawan tunduk tak berdaya.
__ADS_1
Karena posisi Mumu sudah berubah sehingga serangan ketiga remaja dari samping kiri dan kanan hanya mengenai tempat kosong, saat mereka mengalihkan pandangannya dan ingin merubah arah sasaran, tendangan memutar dari Mumu bukan hanya menghentikan tindakan mereka tapi juga telah mendorong mereka jatuh bergelimpangan.
Sedangkan remaja yang awalnya ingin menangkap Wulan agar supaya Mumu tidak bisa berkonsentrasi dalam pertarungan, mempercepat gerakannya hingga level maksimal. Melihat kehebatan Mumu dan yakin Mumu tidak akan bersikap murah hati atas tindakan yang telah mereka lakukan sehingga Kali ini dia bermaksud menangkap Wulan sebagai jaminan atas keselamatan mereka semua.
Sebuah rencana yang dirancang dalam kepalanya memang cepat tapi tindakannya tidak secepat gerakan Mumu.
Saat kedua tangannya hanya selapis tipis dari tubuh Wulan, matanya terbelalak saat melihat tubuh Wulan tertarik menjauh darinya.
Sebelum dia menyadari apa yang sedang terjadi, sebuah tendangan dengan tumit kaki menghantam ulu hatinya. Pandangannya mendadak gelap lalu dia tidak tahu lagi apa yang sedang terjadi.
Wulan yang ketakutan masih memejamkan matanya, apa lagi saat sebuah tangan yang kuat telah menarik dan merangkulnya, dia hanya bisa menjerit dalam hati.
Tapi bayangan buruk yang direka dalam pikirannya tidak terjadi, malah dia mendengar sebuah suara yang menenangkan, "Kakak sudah tidak apa-apa, Kak. Silahkan buka matanya."
Mumu tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya tersenyum. Kalau boleh jujur, ia pun merasa senang saat dekat dengan Wulan. Perasaan itu baru kali ini ia rasakan.
Untuk mengurangi debar di jantungnya, Mumu perlahan menjauhi Wulan. Dia berjalan mendekati remaja yang memegang pisau tadi, Mumu menduga pasti dia yang menjadi pimpinan kelima remaja itu.
Saat itu, Lisa dengan berlari kecil mendapatkan Wulan, "Kamu tak apa-apa, Wulan?" Tanya dia dengan wajah khawatir.
Bagaimana dia tidak khawatir, Wulan adalah sepupunya yang telah datang dari kota Yogyakarta ke Selatpanjang semata-mata untuk liburan, menenangkan dirinya dari masalah yang sedang menghimpitnya.
Orang tua Wulan, berarti Paman dan Bibiknya telah berulang kali mengingatkannya untuk menjaga Wulan selama dia di kota Selatpanjang.
__ADS_1
Lisa tak menyangka jika peristiwa ini bisa terjadi. Dia tahu banyak preman dan remaja yang suka berbuat kejahatan, tapi dia tak menyangka mereka seberani itu menganggu orang di siang hari, di tempat ramai walaupun sekarang dalam keadaan agak sepi.
"Aku tak apa-apa, Lisa..... Siapa mereka?"
Lisa menggelengkan kepalanya. Dia mengikuti pandangan Wulan ke arah Mumu yang sedang berjongkok di depan remaja tanggung tersebut.
Saat ini Mumu menanyakan mereka.
"Siapa namamu? Dari kelompok mana kalian berasal?" Awalnya Mumu merasa kasihan melihat mereka sehingga waktu menyerang tadi ia masih menahan tenaganya. Tapi saat melihat sikap mereka yang keras kepala dan tak mau bekerja sama, Mumu akhirnya menyadari bahwa ia terlalu berpikiran lunak.
Walaupun remaja itu masih muda dalam segi usia, tapi hati mereka sudah keras, mungkin lebih keras dari batu akibat sudah terlalu banyak melakukan kejahatan.
Tak ada cara untuk melunakkan hatinya.
"Tak ada yang perlu kamu tahu tentang kami, karena kamu sudah menganiaya kami, maka kamu harus siap dengan konsekuensinya." Ujar Remaja itu dengan bangga.
Walaupun mereka tak berdaya melawan anak muda di hadapannya kini, tapi pemuda itu juga tidak akan bisa hidup dengan tenang.
Kelompok yang mendukung mereka pasti akan memburu pemuda ini sampai binasa.
Jadi mereka sudah cukup puas jika kelompok mereka membalas dendam terhadap pemuda yang telah menyakiti mereka.
"Oh, begitukah?" Karena mereka tetap bersikukuh dan membanggakan diri, tak ada yang bisa Mumu lakukan selain menutup tenaga mereka sehingga mereka tidak bisa berbuat jahat ke depannya nanti.
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu lakukan?" Remaja itu berusaha mundur saat melihat Mumu tiba-tiba sudah berdiri sangat dekat dengannya.