
Saat memeriksa tubuh Randi tadi, Mumu sudah melihat racun tersebut menempel dengan erat bagaikan lintah di dinding lambung. Artinya Bang Randi memang terkena racun melalui mulut, entah itu disebabkan oleh makanan atau pun minuman.
Yang Mumu tidak sangka adalah ternyata racun ini mempunyai daya tolak yang luar biasa.
Sungguh racun yang sangat berbahaya. Wajar saja tak ada makanan dan obat-obatan yang bisa masuk ke tubuh Randi. Selain itu juga racun ini punya fungsi lain, yaitu punya kemampuan menyedot darah seseorang sedikit demi sedikit sehingga jika Mumu datang sedikit lebih lambat kemungkinan besar jiwanya tidak akan tertolong.
Walaupun racun tersebut punya daya tolak terhadap ancaman dari luar, bukan berarti tenaga dalam Mumu tidak bisa menembusnya. Pada akhirnya racun itu tetaplah takluk terhadap dorongan tenaga dalam Mumu yang dahsyat itu.
Tapi tetap saja Mumu hanya bisa melakukannya dengan perlahan-lahan, selangkah demi selangkah, karena dikhawatirkan akan berdampak kurang baik pada tubuh Randi yang semakin lemah itu.
Sedangkan Pak Surya Atmaja dan istrinya hanya termangu-mangu melihat cara pengobatan Mumu yang berbeda dari biasanya.
Awalnya mereka menyangka Mumu akan mengeluarkan seperangkat jarum akupuntur peraknya.
Pak Surya Atmaja sendiri sudah pernah merasakan bagaimana ampuhnya pengobatan Mumu dengan menggunakan jarum akupuntur perak itu.
Sekali ini mereka berdua kecelik, bukannya mengobati Randi menggunakan jarum akupuntur yang legendaris itu, mereka hanya melihat Mumu sekedar menempelkan kedua telapak tangannya ke tubuh Randi.
Apa maksud Mumu membuat posisi seperti itu?
Jika saja Randi tidak dalam keadaan koma, mereka berdua pasti akan menyangka Mumu hanya sekedar bercanda.
Tapi dalam situasi sekarang ini tak mungkin Mumu tega bercanda dalam keadaan hidup dan mati seseorang kan?
Dalam pada itu, seorang pria gagah yang mengenakan jas putih berjalan dengan langkah cepat menuju ruangan Asoka.
Dia bernama drg. Saloka, Direktur RSUD yang baru tiga bulan ini dilantik.
Dia sedang menangani pasien yang mau cabut gigi saat Satpam yang menjaga area Asoka menelponnya.
Begitu menerima telpon dia pun bergegas datang ke sini. Tak dihiraukannya pasien yang sedang terpana karena ditinggal dengan tiba-tiba pada hal sudah disuntik bius sebelumnya.
__ADS_1
Perkara ini lebih mustahak. Karena berkaitan dengan visi-misinya sebagai Direktur yang baru ditunjuk.
Hal ini menyangkut tentang kredibilitasnya sebagai seorang Direktur yang dapat diandalkan. Jika dia tidak menunjukkan taringnya, ke depannya nanti orang tak akan percaya lagi padanya.
Tentu saja dia tak mau hal seperti ini terjadi. Apa lagi menurut laporan, yang membuat ulah hanyalah sekedar sorang anak muda tanpa identitas yang jelas.
Jika yang membuat ulah dan minta dianakemaskan biasanya mereka menyebutkan mereka anak si A, mereka saudara si B. Tapi anak muda yang bikin gara-gara itu tidak menyebutkan latar belakangnya sama sekali, kemungkinan besar dia bukan dari golongan atas.
Sambil terus berpikir, tanpa terasa langkah kaki drg. Saloka sudah sampai di pintu masuk ruangan Asoka yang besar itu. Dia segera disambut oleh kedua orang Satpam tadi.
"Pak, Direktur." Mereka menyapanya serempak sambil sedikit membungkuk dan menganggukkan kepalanya.
"Hmm." drg. Saloka menjawabnya dengan anggukan.
"Di mana anak muda itu sekarang?" Tanyanya langsung kepada inti persoalan. Dia tak punya waktu luang untuk dihabiskan di sini. Masih ada beberapa pasien yang mengantri, menunggunya.
"Dia masuk ke kamar Asoka empat, Pak." Kedua Satpam itu pun mafhum dengan kesibukan pimpinan mereka. Dalam pada itu terselip kekaguman dalam hati mereka terhadap sang Direktur, sesibuk apa pun dia, tapi jika menyangkut tentang aturan, dia akan bergegas datang untuk membereskan persoalan tersebut sebelum menjangkit kepada yang lain.
Kedua Satpam itu langsung memimpin Pak Direktur dengan penuh hormat. Saat sampai di kamar Asoka empat, salah seorang Satpam segera membuka pintu lalu mereka bertiga masuk ke dalam.
Kedua orang Satpam itu mengedarkan pandangan mereka seantero ruangan dan mencoba memindai setiap wajah orang-orang yang berada di ruangan tersebut.
"Mana orangnya?" Tanya Direktur tak sabar.
"Tadi dia masuk ke sini, Pak. Apa mungkin sembunyi?" Kedua Satpam itu merasa tak nyaman seolah-olah telah membohongi Pak Direktur.
Saat salah seorang dari mereka ingin bertanya kepada orang-orang yang hadir, tiba-tiba pandangan matanya melihat ke sudut ruangan. Terdapat tempat pasien yang sedang ditutupi oleh gorden pembatas.
Dia langsung menyeringai senang.
"Saya kira, saya tahu di mana anak muda itu bersembunyi, Pak."
__ADS_1
Dia menunjuk ke sudut. "Ayo kita ke sana, Pak!"
'Rasakan kamu anak muda! Tadi bukan main berani sampai aku hampir terken*ing-ken*ing. Sekarang kamu sembunyi ketakutan. Rupanya kamu hanyalah macan kertas saja. Aku tak sabar ingin melihat kamu diseret keluar oleh Pak Direktur.'
Para petugas keamanan semuanya tahu bahwa Direktur mereka bukanlah orang sembarangan. Dia pernah menjuarai kejuaraan karate tingkat nasional sewaktu kuliah dulu.
Hingga kini, Pak Direktur masih aktif latihan setiap hari.
Dari segi fisik dan keahlian tak ada petugas keamanan yang bisa melawannya.
Saat melihat seorang pria berpakaian ala dokter dan dua orang Satpam masuk, pandangan orang-orang di dalam sana serentak menoleh ke arah ketiga orang tersebut.
"Mengapa dokter visit jam segini?" Bisik mereka.
"Tapi ada yang aneh, dokter visit tidak didampingi oleh perawat jaga. Malah dua orang Satpam yang menemaninya."
"Itu kan bukan dokter yang biasanya merawat pasien yang di sini? Lagi pula sekarang bukan jam visit?" Mereka berbicara dengan nada pelan. Mata mereka terus mengawasi ketiga orang tersebut hingga sampai di gorden pembatas yang di sudut.
Saat salah seorang Satpam itu ingin menyingkap gorden pembatas, Gerakannya dihentikan oleh kemunculan pria paruh baya yang tak lain adalah Pak Surya Atmaja adanya.
"Apa maksud Bapak-bapak datang dan bertindak tidak sopan seperti ini?" Tegur Pak Surya Atmaja tak senang.
Dia tidak melihat kedua Satpam tersebut, tapi pandangan matanya mengarah ke wajah drg. Saloka, sang Direktur.
Wajah drg. Saloka sedikit berubah karena dia menyadari sikap mereka kurang sopan, tanpa permisi mereka langsung ingin menarik gorden pembatas pasien.
Walaupun tindakan Satpam itu bukan dia yang menyuruh langsung, tapi karena dia tidak berusaha mencegahnya sama saja artinya dia telah setuju.
Tapi dia segera mengubah mimik wajahnya dan berkata, "Maaf atas keteledoran anggota saya, Pak. Mereka sedang menjalankan tugas mencari seorang anak muda yang telah masuk ke sini tadi tanpa izin."
"Pak.dokter sendiri siapa? Apa hubungan mereka dengan Pak Dokter?"
__ADS_1
"Saya Direktur di RSUD ini, Pak." Dia berharap dengan disebutkan jabatannya akan memudahkan urusan. Bagaimana pun juga dia ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah dan pergi sesegera mungkin dari sini.