TABIB KELANA

TABIB KELANA
Menanggung Resiko


__ADS_3

Tapi dia segera membentuk senyum di wajahnya.


'Mungkin masih ada harapan' gumamnya.


"Juwita, siapkan kamar untuk Mumu, biar dia bisa beristirahat." Perintahnya segera.


"Baik, Pak."


"Mari, Mumu, saya tunjukkan kamarnya." Buk Juwita berjalan menuju salah satu kamar yang berada di tengah rumah.


"Iya, Buk." Mumu mengikuti Buk Juwita setelah terlebih dahulu pamit dengan Tuk Udin dan orang-orang yang berada di ruang tamu.


Setelah Mumu pergi, Pak Lukman menatap ke arah Tuk Udin dengan mata yang penuh tanda tanya.


"Apakah dia memang bisa mengobati Siti Aisyah, Pak?" Buk Juwita yang baru saja datang setelah mengantar Mumu langsung duduk di samping suaminya. Dia juga penasaran dengan sosok anak muda yang tampak biasa-biasa saja tapi sangat dihargai oleh mertuanya itu.


Tuk Udin menghela nafas dengan berat dan memandang anak menantu serta cucunya, dia berkata dengan nada dalam, "Masalahnya bukan pada bisa atau tidak dia mengobati Siti Aisyah, tapi persoalannya apakah dia mau atau tidak."


Aku memang belum tahu akan kemampuan pengobatannya berada di tingkat mana, tapi aku percaya dia bisa mengobati Aisy jika dia memang bersedia." Lalu Tuk Udin menoleh arah istrinya dan bertanya, "Bagaimana menurutmu, Buk?"


"Ya, dia tidak sesederhana kelihatannya. Waktu mulai memasuki rumah ini tadi, aku melihat wajahnya sedikit berubah, artinya dia bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang aneh di rumah ini, walaupun hingga kini kami berdua tidak bisa merasakan gejolak pancaran energi dari tubuhnya."


Buk Juwita sedikit merinding saat mendengar ada sesuatu yang aneh di rumah ini.


Mereka memang tahu ada yang aneh dengan rumah ini, seperti ada pancaran energi negatif yang akan menyerang pikiran dan hati mereka di rumah ini.


Untunglah mereka bertiga sudah diberi semacam amalan yang bisa membentengi diri mereka masing-masing asalkan mereka tidak lalai mengamalkan amalan tersebut.


Walau pun tuk Udin dan Nenek Kam tahu afa energi negatif di rumah ini, tapi mereka berdua tidak bisa mengetahui sumbernya dari mana.


Pada hal mereka berdua sudah mencari baik menggunakan panca indranya mau pun dengan ilmu mereka.

__ADS_1


"Jika dia memang memiliki kemampuan mengapa dia terlihat ragu untuk membuat keputusan, Pak? Bukankah jika mempunyai ilmu pengobatan harus digunakan untuk menolong sesama? Berapa pun imbalan yang dipintanya, kita akan beri." Tanya Buk Juwita kurang senang. Tapi tentu saja dia tak berani memperlihatkan kepada kedua orang mertuanya.


Dia tak terlalu peduli dengan harta benda jika menyangkut keselamatan anak kesayangan mereka.


Lagi pula mereka bekerja dan memupuk kekayaan selama ini hanya lah untuk kebahagian anak mereka satu-satunya.


Lalu apa gunanya harta jika anaknya tetap sengsara?


"Kamu tidak bisa juga mengatakan seperti itu, Dik! Jika Mumu bisa menyadari ada hal aneh di rumah ini, berarti dia juga bisa tahu atau paling tidak bisa menebak penyebab penyakit yang diderita anak kita. Jadi dia tentu faham konsekuensinya jika dia tetap berusaha menolong anak kita. Terkadang uang dan harta benda bukan lah segalanya jika sudah menyangkut dengan keselamatan diri mau pun keluarga. Kan begitu, Pak?"


Pak Lukman yang lebih banyak diam tiba-tiba mengutarakan pandangannya mencoba membuka wawasan istrinya agar tidak salah kaprah dalam menilai Mumu.


"Memang benar apa yang kamu katakan itu, Lukman. Makanya aku berharap kita harus tetap menjalin hubungan baik dengan Mumu walau apa pun keputusannya nanti.


Aku merasa dia akan menjadi orang yang terpandang suatu hari nanti."


Buk Juwita pun langsung terdiam mendengar penilaian mertuanya ini. Walaupun dia merasa mertuanya terlalu mudah percaya dan dipengaruhi oleh orang lain.


Sepanjang pembicaraan Siti Aisyah tidak dilibatkan sama sekali. Walau pun begitu, dia tidak merasa tersinggung sama sekali.


Di hatinya dia hanya bisa bersyukur mempunyai keluarga yang sangat menyayanginya. Di samping itu juga terselip rasa penasaran terhadap anak muda yang dibawa oleh Atuknya.


Dia sedikit pun tak menyangka bahwa Atuknya benar-benar bisa membawa pemuda yang pernah hadir dalam mimpinya selama tiga malam berturut-turut.


Kok bisa ada kebetulan seperti itu.


Dilihat dari umurnya, Siti Aisyah yakin bahwa dia lebih tua satu atau dua tahun dibanding Mumu.


Tapi menilai sikapnya yang lebih banyak diam, Siti Aisyah bisa merasakan seolah-olah Mumu lebih dewasa dari padanya. Kan aneh.


Dia juga masih sangsi apa benar orang semuda itu mempunyai ilmu pengobatan yang mumpuni?

__ADS_1


Yang mampu mengobati penyakit yang tak mampu diselesaikan oleh orang lain.


Siti Aisyah menggelengkan kepalanya. Dia lebih setuju dengan pendapat Ibunya yang tidak terlalu mempercayai keilmuan Mumu.


Jika pun dia pernah belajar sedari kecil, sampai dimana lah tingkat ilmunya.


Tapi jika dipikir-pikir, Mumu lumayan ganteng juga dan wajahnya enak dipandang. Wajah Siti Aisyah bersemu merah saat memikirkan hal tersebut.


Dia melirik dengan panik, untunglah tak ada satu pun yang sedang memperhatikan tingkahnya.


Dalam pada itu Mumu mengistirahatkan diri dengan duduk bersila di atas kasur. Ia tidak sedang bermeditasi tapi ia hanya menenangkan pikirannya.


Hati Mumu bukanlah terbuat dari batu yang tak memperdulikan kesulitan orang lain pada hal ia mempunyai kemampuan untuk menolongnya.


Mumu juga bukan orang yang takut menanggung resiko sepanjang resiko tersebut hanya akan mengenai dirinya secara pribadi.


Masalahnya adalah jika resiko itu ditujukan kepada orang lain yang mempunyai hubungan tertentu dengan dirinya, hal itu lah yang mesti ia hindari.


Dari pantauan sekilas ke arah Siti Aisyah tadi, Mumu mengetahui bahwa gagunya bukan lah penyakit yang bisa diobati secara medis, walau pun gejalanya sama tapi penanganannya memerlukan cara yang berbeda.


Berkat kekuatan spiritualnya Mumu bisa melihat sesuatu yang tak kasat mata yang terus mencoba menggagalkan setiap usaha orang-orang yang ingin mengobati Siti Aisyah.


Mumu percaya bahwa ia bisa mengobati Siti Aisyah, tapi ia tidak bisa mencegah seandainya penyakit itu datang kembali. Pasti akan datang kembali!


Jika hal itu benar-benar terjadi maka kemungkinan akan berdampak pada nyawa Siti Aisyah itu sendiri.


Mumu perlu merundingkan hal tersebut kepada Tuk Udin dan keluarganya nantinya. Bagaimana pun juga keputusan ada pada mereka.


Mengenai resiko yang mungkin akan terjadi terhadap dirinya dan keluarga, Mumu hanya bisa pasrah sembari mencari cara untuk menghindarinya.


Sejak awal ia mendapatkan ilmu ini, ia memang sudah bertekad untuk mengamalkan ilmunya demi kebaikan, untuk menolong sesama.

__ADS_1


Jika kendala seperti ini saja tak mau ia hadapi bagaimana dengan tantangan yang akan ia hadapi di masa yang akan datang?


__ADS_2