TABIB KELANA

TABIB KELANA
Menolak Tawaran


__ADS_3

Sedangkan Mumu hanya lah tamatan dari SMA kampung. Drg. Saloka sudah menyelidiki, bahwa nilai Mumu hanya lah rata-rata dibandingkan dengan teman-temannya.


Jika dibandingkan dengan nilai anak-anak yang tamatan SMA di kota, nilai Mumu ibarat jarak antara langit dan bumi.


Tentu saja nilai anak-anak kota itu ibarat langit sedangkan nilai Mumu ibarat bumi.


Jauh......jauh.....sejauh mata memandangnya.


Hanya karena drg. Saloka dan para Dewan Direksi yang menghargai keahliannya dalam bidang pengobatan sehingga mereka sepakat untuk memberikan salah satu slot kepada Mumu.


Semenjak Mumu mengenal metode pernafasan ini, baik daya tangkap, daya ingat dan kecerdasannya sudah meningkat ratusan atau bahkan ribuan kali jika dibandingkan dengan saat ia masih berstatus sebagai siswa SMA.


Jika drg. Saloka berpatokan pada masa lalu Mumu, maka mereka salah besar.


"Terima kasih atas perhatian Pak Dokter kepada saya. Saya merasa sangat tersanjung sekali." Mumu berkata dengan lembut seraya tersenyum.


"Hanya saja, mohon maaf, Pak, saya tidak bisa menerimanya. Berkah ini terlalu besar bagi saya, takutnya saya tak sanggup untuk memikulnya. Jika boleh saya memberikan saran, sebaiknya kuota tersebut diserahkan saja kepada staf-staf RSUD yang memang layak dan mampu menerimanya, Pak."


Drg. Saloka terpana. Dia tidak menyangka Mumu akan menolaknya. Ini adalah kesempatan emas. Tak sembarang orang yang bisa menikmatinya.


"Mengapa? Jika alasan kamu karena khawatir tidak bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu, saya pastikan kamu tidak perlu risau akan hal itu."


Mumu kembali tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, "Bukan karena hal itu, Pak. Hanya saja saya tak mau terikat dengan Pemda. Jika memang ada rezeki lebih nanti, saya lebih memilih kuliah menggunakan dana saya sendiri saja."


Drg. Saloka masih mengenggam handphonenya. Lima menit berlalu setelah dia menelpon Mumu memberitahu kabar gembira.


Dia yakin dan para dewan direksi juga yakin bahwa Mumu pasti akan menerimanya dengan senang hati.


Tak dinyana, ternyata Mumu telah menolak tanpa terlalu banyak berpikir.


'Saya tidak mau terikat dengan Pemda, Pak'. Kalimat itu masih berputar-putar di dalam pikiran drg. Saloka.

__ADS_1


Setelah menarik nafas dalam-dalam, dia menelpon seseorang.


"Bagai mana hasilnya, Pak?" Terdengar suara wanita dari seberang.


"Dia tak mau, Buk."


"Apa alasannya? Apa kah Bapak tidak menyampaikan bantuan kita jika ada kendala dalam proses dia menyelesaikan studi?"


"Dia tak mau terikat dengan Pemda, Buk."


Hening sejenak. Terdengar suara di seberang menarik nafas dan berkata, "Tolong usahakan dia jangan sampai lepas ke tangan orang lain, Pak. Saya khawatir dia akan tergiur dengan tawaran orang lain. Barusan saya dengar kabar, pihak RSUD Siak masih sibuk mencari orang disebalik kesembuhan istri Pak ketua Dewan. Jika mereka sampai tahu tentang Mumu, saya yakin mereka akan berusaha merekrut Mumu di sisi mereka. Jika hal itu sampai terjadi, Pak, kita akan sangat rugi."


...****************...


"Aisy, kamu kenapa senyum-senyum sendiri? Tak baik lho. Nanti dikira orang gi*a." Buk Juwita membawa pakaian Siti Aisyah yang baru saja diangkat dari jemuran.


"Eh..eh, Mengapa Ibu yang ngangkat jemuran Aisy, biar Aisy saja, Bu." Siti Aisyah bangkit dan membantu ibunya meletakkan pakaiannya di sudut kamar.


Siti Aisyah melongok keluar jendela, ternyata memang gerimis.


"He he iya, Bu.....terima kasih banyak ya. Nanti malam lah baru Aisy setrika." Siti Aisyah tertawa malu.


"Kamu sedang ngapain? Senyum-senyum sendiri, sampai-sampai di luar sana gerimis pun tak menyadarinya." Buk Juwita pura-pura marah.


"He he tak ada apa-apa, Bu. Hanya sekedar baca chat Mumu saja." Terlihat jelas saat dia mengucapkan nama Mumu, matanya sedikit berbinar.


"Oooo jadi kamu masih berkomunikasi sama Mumu, Aisy? Dengar ya saran, Ibu, kalau bisa jangan terlalu dekat dengan dia!"


"Memangnya kenapa, Bu? Perasaan kemaren-kemaren Ibu tidak mempermasalahkan." Tanya Siti Aisyah kurang senang.


"Pokoknya Ibu tak setuju kamu terlalu akrab dengan Mumu!"

__ADS_1


"Kenapa, Bu? Lagi pun apa salahnya? Aisy kan hanya sekedar berteman saja dengan Mumu. Tak lebih dari pada itu."


"Ibu sama Ayah dulu pun awalnya berteman juga, tapi kamu lihat kan, akhirnya Ibu dan Ayah menjadi pasangan suami istri."


Jika Aisy dan Mumu benaran berjodoh dan menjadi pasangan suami istri apa salahnya, Bu? Itu kan takdir namanya."


"Aisy!!! Kamu jangan sampai berpikir ke arah sana. Belum masanya kamu memikirkan tentang menikah. Jika pun suatu hari nanti kamu akan menikah, kamu harus menikah dengan pria terpandang dan punya kedudukan, bukan pria seperti Mumu!!!"


Buk Juwita langsung berlalu meninggalkan Siti Aisyah yang masih terpana melihat tingkah aneh ibunya.


Tanpa terasa matanya pun mulai berkaca-kaca. Dia menenggelamkan kepalanya ke bawah bantal.


'Mengapa ibunya melarang hubungannya dengan Mumu? Walau pun Mumu bukan seorang pemuda yang mempunyai pangkat dan kedudukan tapi dia adalah seorang pemuda yang baik dan mempunyai ilmu pengobatan yang hebat. Apa kah semua itu tidak cukup bagi ibunya.


Seingat Siti Aisyah, ibunya tidak seperti ini. Apa sebab ibunya tiba-tiba berubah?'


Setelah menangis sepuasnya mengeluarkan segala sesak di dada, Siti Aisyah mengelap air matanya dengan tisu.


Dia ingin menceritakan sikap ibu kepada ayahnya. Dia ingat, ayahnya mempunyai penilaian yang sangat positif terhadap Mumu.


Selain itu juga, selain lebih manja dengan Atuk dan neneknya, Siti Aisyah juga lebih dekat kepada ayahnya dibandingkan ibunya.


Siti Aisyah langsung menuju ruang tivi, jam segini ayah biasanya sedang istirahat sambil nonton tivi.


Saat hampir sampai di ruang tivi, Siti Aisyah mendadak menghentikan langkahnya. Lamat-lamat dia mendengar suara Ayah dan ibunya. Ternyata ibunya juga berada di ruang tivi.


Siti Aisyah jadi ragu. Saat dia akan berbalik ke kamar, dia mendengar suara ayahnya berkata, "Bagai mana hasilnya, Bu? Apa kah Ibu sudah menyampaikan semuanya kepada Aisy?"


"Sudah, Yah. Cuma Ibu agak khawatir jika Aisy benar-benar jatuh cinta kepada Mumu, apa yang harus kita lakukan? Jika kita terlalu bersikap keras, takutnya Aisy akan mengadu kepada Atuk dan neneknya. Ayah kan tahu kedua orang tua Ayah sangat memanjakan Aisy, selain itu juga mereka berdua sangat menyukai Mumu."


Terdengar suara ayahnya yang menghela nafas dengan berat, Ini memang persoalan yang agak rumit. Intinya sekarang Ibu fokus saja untuk mengawasi Aisy, jangan sampai dia berkomunikasi lagi dengan Mumu. Mengenai kedua orang tua itu, biar Ayah yang mengurusnya. Kita jangan sampai mengecewakan keluarga Pak Danu. Mereka sangat berharap Aisy bisa menjadi menantunya. Ibu kan tahu Pak Danu adalah keluarga yang sangat terpandang, kita sangat berutung karena anaknya telah memilih putri kita untuk menjadi istrinya."

__ADS_1


__ADS_2