TABIB KELANA

TABIB KELANA
51.


__ADS_3

"Hei, siapa itu!!!?"


Mereka baru saja memetik beberapa buah mangga ketika mereka dikejutkan oleh suara bentakan dan langkah kaki yang tergesa-gesa dari dalam rumah.


Gawat!!! Rupanya Pak Haji tidak ke Musholla malam ini, ternyata dia ada di dalam rumah.


Mereka bergegas turun karena takut kepergok Pak Haji.


Pak Haji Duski terkenal tegas dan garang, jika dia menghukum anak-anak muda di kampung ini tak akan ada orang-orang tua mereka yang akan membela anaknya. Karena waktu mereka masih kecil, Pak Haji duski lah yang telah mendidik mereka, mengajar mereka mengaji, jadi tentu saja para orang tua itu tak akan mau membela anaknya di depan Pak Haji.


Seno dan teman-temannya sangat paham itu. Oleh karena itu lah mereka berlomba-lomba ingin cepat-cepat pergi, menghilang dari sana.


Naas bagi Seno, karena tergesa-gesa, dia telah menduduki cabang yang rapuh, maka tak ayal, dia langsung jatuh dari ketinggian lebih kurang tiga meter setengah dengan posisi terduduk di tanah.


Waktu itu tentu saja dia tak sempat mengamati rasa sakitnya itu karena dia langsung lintang pukang lari menjauh dari halaman rumah Pak Haji.


"Bagaimana, Bang?" Suara Mumu telah mengembalikan pikiran Seno yang mengelana ke kejadian tiga atau empat tahun silam.


"Ya, kamu benar! Dulu aku memang pernah jatuh. Tapi kejadian itu sudah lama sekali. Lagi pula aku tak merasakan rasa sakit jika memang gara-gara jatuh itu telah menyebabkan cedera."


"Untungnya Abang tidak cedera parah, Bang." Ujar Mumu. "Jika cedera Abang parah bahkan bisa menyebabkan impo*ensi."


"Yang benar kamu, Mumu!?" Seno terlonjak dari duduknya. "Jangan asal ngomong kamu! Menakut-nakuti orang saja."


"Aku serius, Bang. Tapi untunglah cedera Abang tidak terlalu serius. Walaupun begitu, aku rasa Abang tak bisa maksimalkan saat ber*ubungan?"


Seno tidak menjawab. Semburat warna merah menjalari wajah Seno hingga ke kuping. Pertanda itu sudah cukup bagi Mumu untuk menyatakan bahwa analisisnya benar adanya.


"Bisa tolong ambilkan air hangat satu mangkok, Bang? Saya mau mensterilkan alat saya."


"Baiklah." Seno pun segera mengambil air hangat di dapur. Tak lama kemudian dia sudah kembali lagi. Mumu segera merendam jarum akupunturnya di dalam mangkok.


"Abang sekarang berbaring, punggung menghadap ke atas ya." Tanpa banyak cincong, Seno langsung menurut.

__ADS_1


"Mumu mengambil jarum dari mangkok, setelah mengeringnya sebentar, Mumu langsung menancapkan jarum akupuntur satu demi satu di sekujur tubuh Seno bagian belakang.


Waktu terus berlalu. Pintu kamar Seno berderit sedikit. Rupanya Marini mengintip ingin tahu apa yang dilakukan oleh suaminya.


Mumu tahu tapi ia hanya pura-pura tak tahu. Ia hanya fokus pada pengobatannya. Setelah semua urat saraf di sekitar tulang ekor sudah kembali normal seperti semula, akhirnya Mumu mulai menyabut kembali jarum akupunturnya satu per satu.


"Bagaimana rasanya, Bang?"


Seno bangkit, digoyang-goyang tubuhnya, tapi dia tak merasa ada perubahan apa pun dari tubuhnya.


Apakah gelar tabib yang dilekatkan kepada Mumu hanya omong kosong belaka.


"Aku tak merasakan apa pun, Mumu. Rasanya tubuhku sama saja seperti ketika belum kamu obati. Apakah benar-benar ada masalah di tulang ekorku, Mumu?" Seno sedikit curiga. Yang lebih penting lagi apakah Mumu benar-benar sudah mengobatinya?


Dia curiga Mumu hanya sekedar menipu. Oleh karena itu dia hanya mengangsurkan uang selembar dua puluh ribu ke arah Mumu. "Hanya segini yang bisa aku bayar, Mumu. Aku mohon maaf."


Dalam hatinya dia bersorak, 'Rasakan kamu, Mumu! Mau menipuku. Ambillah uang dua puluh ribu itu, hitung-hitung untuk ongkos bensin kamu.'


"Terima kasih, Bang." Mumu tak terlalu mempermasalahkan berapa pun yang pasien bayar. Pasien tidak membayar sama sekali pun sudah pernah ia rasakan.


Saat Mumu pulang, matahari sudah semakin tinggi. Tepi jalan, di bawah sebatang pohon duduklah wanita paruh baya dengan seorang anak gadis berusia enam tahunan. Saat sudah dekat Mumu segera mengenali wanita itu. Ternyata Bik Esah.


"Maaf, Bik sudah membuat lama menunggu."


Wanita itu menatap Mumu, dia langsung mengenali pemuda di hadapannya ini.


"Ternyata kamu, Mumu. Bibik hampir tidak mengenalimu.


Memang semenjak terakhir kali mereka bertemu, Mumu sudah bertambah sedikit lebih tinggi. Kulitnya walaupun tidak terlalu putih tapi terlihat lebih halus. Ini adalah salah satu manfaat metode pernafasannya.


"Ayo masuk, Bik!" Mumu berjalan membuka pintu pagar. "Oh ya ini siapa ya, Bik? Tanya Mumu sambil menatap anak gadis yang tampak malu itu.


"Dia cucu Bibik. Bolehkan dia juga tinggal di sini?" Tanya Bik Esah dengan nada risau.

__ADS_1


"Tak masalah, Bik. Dapat juga nemankan Bibik, soalnya aku pun kadang jarang juga di rumah, Bik."


"Siapa nama mu, Dik?" Anak gadis itu langsung sembunyi di belakang Bik Esah, malu.


"Namanya Ria. Dia anak yang pemalu, Mumu." Bik Esah yang menjawab.


Tak sulit mengurus Bik Esah tinggal di sini, karena pada dasarnya dia memang pernah tinggal di rumah ini.


Setelah selesai dengan urusan Bik Esah dan cucunya, Mumu segera masuk ke kamarnya. Setelah beristirahat sebentar, Mumu langsung mempraktekkan metode pernafasannya tanpa kenal lelah.


Ia sudah merasakan sangat banyak manfaat yang ia dapatkan dari metode pernafasan tersebut.


...****************...


Seminggu berlalu dalam sekelip mata. Waktu memang penuh misteri. Jika ditunggu-tunggu rasanya waktu akan lama berlalu.


Jika kita disibukan dengan berbagai urusan lain, ternyata waktu sangat cepat berlalu.


Apa itu waktu? Orang sering bingung untuk menjawabnya. Kadang orang suka menjawab waktu adalah jam. Pada hal jam bukanlah waktu. Jam hanyalah penunjuk waktu.


Sudah dua tahun Rudi duduk di kursi roda akibat kedua kakinya mengalami kelumpuhan.


Menyesal tak sudah. Itu lah kalimat yang sesuai untuk menggambarkan perasaan Rudi.


Bukan menyesal karena kedua kakinya sudah tidak berfungsi lagi, tapi penyebab kelumpuhan itu lah yang membuat Rudi menyesal tak sudah hingga hampir stres. Sudah dua tahun waktu berlalu, tapi dia masih belum bisa melupakan peristiwa itu. Peristiwa yang membuat dia menyesal hingga tak punya semangat untuk terus menjalani hidup!


Rudi berasal dari desa Tanjung Kedabu Kecamatan Rangsang Pesisir yang berasal dari keluarga sederhana.


Rudi dikaruniai dengan wajah yang ganteng, badan yang tinggi tegap dan berkulit putih bak orang-orang kota. Sehingga banyaklah gadis-gadis yang cinta mati terhadapnya. Di antara sekian banyak gadis yang jatuh cinta padanya, Rudi hanya melabuhkan cinta sejatinya kepada seorang gadis yang bernama Haniah, anak semata wayang juragan padi.


Walaupun sudah dua tahun berlalu, tapi tragedi itu masih segar di ingatan Rudi.


Waktu itu dia masih kelas 2 SMA, dia dan Haniah pulang sekolah bersama dengan mengendarai motor matic.

__ADS_1


Yang namanya orang sedang jatuh cinta, dunia seakan-akan milik mereka berdua.


Pulang sekolah mereka tak langsung pulang ke rumah, tapi mereka berbelok ke arah taman rekreasi milik pemerintahan desa.


__ADS_2