
Ririe mengetahui dari Erna bahwa tabib yang berhasil menyembuhkan ayahnya masih muda. Tapi dia tak menyangka tabib yang dimaksud masih semuda ini.
Masih junior ternyata. Tapi kok bisa punya ilmu pengobatan yang tak biasa ya. Apa mungkin ilmu dari Jin? Pikiran Ririe terus berputar.
"Ayo, silahkan masuk, Mumu. Saya panggil kamu Mumu saja ya. Soalnya kamu itu masih lebih muda dari aku." Seperti biasa, Ririe paling cepat beradaptasi sehingga dia dengan cepat menghilangkan rasa canggung di antara mereka. Dia segera membawa Mumu masuk ke dalam rumah.
Tanpa mereka sadari saat mereka sedang bicara ada seseorang yang mengintip di kejauhan. Setelah memastikan bahwa dia tak salah target, orang itu pun langsung pergi dengan tergesa-gesa.
Saat Mumu masuk ternyata ada beberapa tetangga yang sedang bertamu. Sudah menjadi kebiasaan di kampung-kampung bahwa mereka sering bertamu untuk menambah ikatan silaturahmi.
"Siapa yang kamu bawa itu, Ririe?" tanya ibuk yang memakai kerudung coklat.
"Ini calon suamiku, Buk Nar. Bagaimana? Ganteng tak?"
"Hush, kamu itu ya, kalau ngomong yang serius. Buk Narti nanya baik-baik malah dikibuli." Ibunya yang sedang membawa nampan berisi minuman panas ikut nimbrung.
Ririe hanya nyengir sedangkan Mumu jadi salah tingkah.
"Biarkan saja, Mel." Ujar Buk Narti. Meliyana adalah ibunya Ririe. "Kalau betul-betul terjadi nanti biar dia tahu rasa! Menikah dengan suami yang lebih muda dan pemikiran yang belum dewasa. Jangan kamu menangis dan mengadu kepada ibumu besok ya, Ririe." Ibuk-ibuk yang lain tertawa senang melihat wajah Ririe yang cemberut. Karena mereka tahu Ririe hanya pura-pura marah saja. Karena dia gadis yang baik tak mudah marah.
"Ihhh, Buk Narti ini doanya yang jelek-jelek saja. Bikin merinding saja. Ayo Mumu kita ke kamar Rahmat." Ririe segera berlalu. Sebelum mengikuti Ririe, Mumu terlebih dahulu menyapa ibuk-ibuk dengan senyum sambil menganggukkan kepalanya ka arah ibuk-ibuk itu yang masih terkekeh senang melihat tingkah Ririe.
Saat melihat penampilan Mumu yang masih sangat muda untuk ukuran seorang tabib apa lagi tabib yang handal, Rahmat langsung pesimis. Demi menghargai kakaknya, dia tak menampakkan di raut wajahnya. Dia menampilkan senyum ramahnya saat menyapa Mumu.
"Silahkan duduk, Bang!"
"Tak apa-apa." Jawab Mumu, "Bolehkah kita mulai sekarang?" Semakin cepat semakin baik.
"Langsung saja boleh, mau duduk dulu juga boleh." Jawab Ririe. "O ya, kamu mau minum apa Mumu? Teh, kopi?"
"Jangan repot-repot, Kak. Cukup air putih hangat saja."
"Baik lah kalau begitu." Ririe pun keluar menuju dapur. Mumu sempat mendengar gadis itu kembali melemparkan guyonan kepada ibuk-ibuk tadi. Gadis yang supel dan ceria pikir Mumu.
__ADS_1
Mumu mulai memeriksa cedera Rahmat. Untunglah bukan patah tulang. Cuma letak urat dan sarafnya saja yang selisih sehingga tak memerlukan waktu yang terlalu lama, Mumu berhasil membetulkan letak semua urat dan saraf di sekitar bahu.
Menurut Mumu cedera ini bukanlah seperti cedera biasa seperti yang dialami oleh para pemain bola.
Cedera ini seperti disebabkan oleh orang yang paham tentang letak urat di tubuh manusia. Jadi wajar saja tukang urut biasa tak mampu mengobatinya karena letak uratnya sengaja dirubah posisinya.
Tapi Mumu tidak mengatakan apa yang dipikirkannya karena bisa saja penilaiannya itu salah.
Saat Ririe masuk kembali sambil membawa minuman kopi dan air putih hangat serta kue, Mumu sudah selesai mengobati Rahmat.
"Sudah selesai, Mumu?" Tanyanya heran.
"Sudah, Kak."
"Secepat itu?" Jangankan Ririe sedangkan Rahmat masih terpana menyaksikan cara pengobatan Mumu tadi.
Sangat cepat dan yang lebih penting lagi dia sedikitpun tidak merasakan sakit sama sekali. Sangat berbeda ketika dua ke tukang urut. Dia sampai menggelinjang menahan rasa sakit sewaktu tangan tukang urut mulai menyentuh bahunya.
"Tidak terlalu cepat, Kak." Mumu mencoba tersenyum, "Tapi kakak ke belakang tadi yang terlalu lama."
Setelah minum air putih dengan tiga tegukan sedang, Mumu pun mohon diri.
Ririe berinisiatif mengantar Mumu sampai di halaman. Sesekali dia melirik pemuda yang disampingnya ini dengan perasaan kagum dan penasaran.
Di saat yang bersamaan, lima orang pria kekar sedang duduk dengan tak sabar di rerumputan tepi jalan Perumbi Jawa desa Alah Air.
Jalan ini sangat lebar karena dilakukan pelebaran dan pengerasan dalam persiapan untuk diaspal goreng.
Saat ini jalan terkesan lengang karena saat ini jalan Perumbi Jawa ini bukan merupakan jalan utama.
"Kamu yakin dia akan lewat sini?" Pria yang berkumis tebal bertanya dengan pria yang berotot di sampingnya.
"Iya, aku yakin! Sardi sudah menguntitnya sejak lama dan dia sudah memastikan bahwa pemuda itu akan melewati jalan ini?"
__ADS_1
"Bagaimana jika tidak?" Pria berkumis tebal itu skeptis.
"Dia sedang menuju ke sini." Pria yang satu lagi memperlihatkan foto yang dikirim Sardi di handphonenya. Sardi adalah mata-mata mereka. Dia seperti intel yang handal. Tak ada tugas yang lebih menyenangkan bagi dia selain menguntit dan memata-matai seseorang.
Sedangkan pria yang memperlihatkan handphonenya barusan adalah pria yang pernah bertarung dengan Mumu di jalan Pembangunan sewaktu dia ingin menjambret seorang ibuk-ibuk.
Rupanya dia ingin balas dendam. Entah bagaimana caranya dia bisa lolos dari tangan para warga waktu itu.
Mereka berlima segera mengatur posisi. "Apa benar pemuda itu sehebat yang kamu katakan, Jal?" Pria berotot bertanya kepada pria yang pernah bertarung dengan Mumu yang ternyata bernama Ijal itu.
"Kan sudah aku bilang! Kamu minta penjelasan apa lagi?" Ijal sewot jika mengenang pengalaman tak mengenakkan itu kembali.
"Bukannya aku tak percaya sama kamu, Jal." Ucap pria berotot itu dengan nada minta maaf. "Coba kamu pikir perguruan bela diri mana yang mempunyai murid sehebat itu? Yang mampu bertarung satu lawan satu dengan kamu yang sudah berada di tingkatan pelatih senior? Kalau memang ada, sudah dari dulu mereka akan mengikutsertakannya pada ivent-ivent daerah bahkan tingkat propinsi. Tapi...kalau dia bukan dari perguruan bela diri mana pun juga kan mustahil dia mempunyai kemampuan yang sehebat itu kan?"
Ijal tercenung begitu juga dengan pria lainnya.
Benar juga apa yang dikatakan oleh pria berotot itu. Siapa sebenarnya pemuda itu? Dari mana asalnya?
Tapi sikap mereka tak berlangsung lama karena sebuah motor NMAX mendekati mereka dengan kecepatan yang stabil.
Pria berotot itu segera maju memberi isyarat supaya pemilik motor NMAX yang tak lain adalah Mumu adanya supaya berhenti.
Mumu mematikan motornya dan mengambil kunci motor. Ia sudah melihat gelagat yang tak baik dari para pria yang di hadapannya.
...****************...
Kita tinggalkan dulu Mumu yang nampaknya akan berada dalam masalah besar akibat pembalasan dendam pria yang bernama Ijal dan kawan-kawannya.
Di sebuah kedai kopi yang berada di jalan Imam Bonjol, tiga orang pria sedang berbincang dengan serius.
"Kamu yakin Mumu nama lengkapnya?" Salah seorang dari pria itu bertanya dengan kawan di seberang meja.
"Ya, aku yakin! Ini fotonya." pria itu mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.
__ADS_1
"Mau kalian apakan dengan foto itu?" Tanya pria yang satunya lagi.
"He he..." Pria yang pertama tadi terkekeh, "Kamu lihat saja hasilnya nanti. Malam ini aku akan ke rumah dukun San*et itu. Biar pemuda itu tahu rasa. Hidup bagaikan mati." Ucapnya dengan penuh dendam.