TABIB KELANA

TABIB KELANA
82.


__ADS_3

Pria yang menggunakan kaca mata itu berkata dengan nada serius, "Benar, Pak. Hal tersebut sudah dikonfirmasi, bahkan saya sudah mengecek langsung ke sana. Pasien tersebut sudah benar-benar pulih seperti sedia kala. Dia disembuhkan oleh orang yang sama."


drg. Saloka mengusap dagunya. Dia membayangkan seorang anak muda sederhana yang dia temui di ruangan Asoka empat. Saat itu dia bahkan sempat berselisih paham dengan pemuda itu gara-gara anak muda tersebut tidak mengindahkan peraturan, asal masuk saja untuk menjenguk pasien.


Saat pemuda itu sudah pergi, baru lah dia tahu apa yang telah dilakukannya saat itu di ruangan Asoka empat.


Ternyata anak muda itu telah menyelamatkan nyawa salah seorang pasien yang terkena racun yang tidak bisa diidentifikasi oleh alat kedokteran.


drg. Saloka juga baru tahu bahwa para dokter yang menangani pasien malang tersebut sudah menyerah karena tak bisa lagi mengobati pasien itu sehingga pasien tersebut hanya menunggu ajal menjemput.


Siapa sangka pemuda sederhana yang ingin dia seret keluar dari ruangan itu karena tidak mengikuti aturan ternyata mempunyai kemampuan ajaib sehingga bisa mengobati penyakit yang tidak bisa ditangani oleh para dokter.


Jika pasien tersebut meninggal dunia di rumah sakit karena para dokter sudah tak mampu menanganinya, mungkin drg. Saloka tidak mempunyai hari-hari tenang lagi karena terus diburu dan dicerca dengan berbagai pertanyaan oleh awak media.


Untunglah pasien tersebut bisa sembuh, walaupun bukan disembuhkan oleh para dokter.


Jangankan berterima kasih atas kontribusi pemuda yang belakangan ini dia tahu bernama Mumu itu, drg. Saloka malah sempat berselisih paham dengan anak muda ajaib tersebut.


Dia sudah menegur kedua petugas keamanan yang shift jaga pada hari itu.


Dia juga sudah mencoba mencari Mumu untuk meminta maaf atas kekhilafan dari pihak mereka. Tapi dia tak tahu siapa pemuda tersebut, tak ada nomor kontak yang bisa dihubungi dan tak tahu di mana alamat tempat tinggalnya.


Dia sudah mencoba bertanya kepada pasien yang telah disembuhkan oleh pemuda itu, tapi baik pasien dan keluarganya hanya tutup mulut, tak mau memberikan informasi.


drg. Saloka pun tidak bisa berbuat apa-apa atas sikap mereka. Bagaimana pun dia memang salah dalam hal ini.


Belum selesai masalah yang satu ini, timbul lagi masalah yang lain.


Seorang staf melapor bahwa ada pasien yang menolak dirawat dan ingin pulang pada hal kondisinya masih agak kritis.

__ADS_1


Mereka tidak mengatakan alasan yang jelas tapi mereka tak bisa dipujuk.


Jika terdengar orang luar, berita ini bisa viral dan menimbulkan salah tafsir oleh masyarakat, oleh karena itu perkara ini harus segera di selesaikan dan ditangani dengan baik.


Malam itu juga mereka mengadakan rapat darurat. Setelah mengevaluasi kembali pelayanan mereka terhadap pasien, maka diputuskan juga seorang staf untuk terus memantau perkembangan pasien yang keracunan tapi menolak untuk dirawat.


Maka di sini lah dia akhirnya, mendengarkan laporan dari stafnya dengan keterkejutan yang belum hilang menghias wajahnya.


Dia semakin takjub dengan sosok Mumu. Dia sudah banyak berpetualang di berbagai negara dan kota-kota di pelosok negeri tapi belum pernah mendengar orang yang mempunyai ilmu yang mumpuni dalam penanganan racun.


Orang yang seperti ini harus bisa dia tarik ke RSUD, jika pihak kepolisian atau pihak-pihak yang berpengaruh lainnya mengetahui kemampuan Mumu, mereka pasti akan berlomba-lomba untuk mendapatkan Mumu.


Pada saat itu terjadi, maka sudah terlambat baginya untuk menyesali diri.


Sambil mengetuk jari-jarinya di meja, drg. Saloka mendongak kepalanya dan memandang lurus ke arah mata stafnya dan berkata, "Apalah kamu tahu di mana dia tinggal atau bagaimana cara kita agar bisa menemuinya?"


Pria yang menggunakan kaca mata itu berkata sambil tersenyum tipis, "Saya tak tahu di mana dia tinggal, tapi saya kebetulan mendapatkan nomor kontaknya."


...****************...


Mumu sedang menyeruput jus tomatnya di kedai kopi Jumbo. Kedai kopi ini berada di jalan Tebing Tinggi, pinggiran laut kota Selatpanjang.


Duduk di hadapannya seorang pria yang menggunakan jas putih ala dokter dengan pandangan tak tenang. Dia tampak sedikit gelisah.


"Mumu, mengenai kejadian di RSUD kemaren itu...." Kata-kata drg. Saloka langsung terputus saat melihat Mumu melambaikan tangannya, "Mengenai kejadian tersebut dokter tak perlu mengambil hati, saya benar-benar telah melupakan hal tersebut jadi tak perlu dibahas lagi. Dokter tak perlu merasa bersalah akan hal tersebut."


Mumu hanya bisa menggelengkan kepala tak berdaya saat melihat drg. Saloka ragu, tetap tak mempercaya bahwa dia memang tak memikirkan masalah tersebut di pikirannya.


Mumu sedang melihat tanamannya saat panggilan dari nomor yang tidak dikenalinya menelpon dua kali.

__ADS_1


Saat dijawab, ternyata drg. Saloka yang mengatakan minta waktu ingin bertemu dengannya.


Karena kebetulan Mumu punya waktu luang sehingga ia langsung menyetujui permintaan dokter Saloka untuk bertemua di kedai kopi Jumbo.


Ia tak menyangka hal yang diucapkan pertama kali setelah berkenalan adalah permintaan maaf dari sang dokter.


"Tapi bagaimana pun juga kami tetap harus minta maaf. Selain itu juga, ada sesuatu yang perlu saya diskusikan dengan kamu."


Melihat keteguhan hati dokter Saloka, Mumu hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Selain itu juga ia juga penasaran, apa yang ingin dokter Saloka diskusikan dengannya.


Setelah mengatur nafasnya, dokter Saloka menanyakan sesuatu yang keluar dari topik, "Kamu kerja di mana saat ini, Mumu?"


Setelah terkejut sejenak, Mumu langsung menggelengkan kepalanya, "Saya belum mempunyai pekerjaan tetap, Dok, masih nganggur." Jawabnya jujur.


Walaupun Mumu saat ini tidak kekurangan uang dari hasil mengobati orang-orang yang memerlukan bantuannya, bagaimana pun juga itu bukanlah pekerjaan tetapnya.


Karena menolong mengobati seseorang tidak mempunyai pendapatan yang pasti.


"Kebetulan sekali kalau begitu." Bukannya terkejut atau apa, dokter Saloka malah senang saat mendengar hal tersebut.


"Maksud dokter?" Mumu mengernyitkan dahinya.


"Begini," dokter Saloka membetulkan letak duduknya dan melanjutkan perkataannya, "Kami punya lowongan pekerjaan di RSUD, untuk menangani pasien yang mempunyai penyakit berat seperti keracunan makanan atau semacamnya, kerjanya tidak harus masuk setiap hari, hanya pada saat keadaan darurat saja sedangkan gajinya akan kami samakan dengan gaji dokter spesialis. Selain itu juga kamu akan mendapatkan bonus setiap kali kamu bisa menyembuhkan para pasien. Bagaimana menurutmu, Mumu?"


Mumu tidak langsung menjawab. Sejujurnya ini adalah tawaran yang sangat menggiurkan.


Sebaliknya ia menatap dokter Saloka dan berkata, "Saya tidak mempunyai latar belakang pendidikan kesehatan, Dok, saya hanya tamatan SMA."

__ADS_1


"Kamu tak perlu khawatir akan hal tersebut, semuanya bisa kita atur."


__ADS_2