TABIB KELANA

TABIB KELANA
74.


__ADS_3

Saat meneguk air putih hangat yang diberikan oleh ibunya, Niken berusaha mengamati wajah pemuda yang mengobatinya lewat sela-sela bulu matanya yang lentik itu.


Dari sini mana pun dia melihatnya, pemuda itu hanyalah jenis pemuda biasa yang sederhana. Wajahnya biasa-biasa saja, tidak terlalu ganteng tapi tidak juga jelek, jauh lebih ganteng Bang Agus Deka.


Fisiknya tidak terlalu berotot, tap Niken bisa merasakan bahwa pemuda ini tidaklah selemah penampilannya.


Niken dapat merasakan saat jari-jari pemuda itu menyentuh punggungnya tadi.


Saat memikirkan kembali wajahnya sedikit memerah. Namun anehnya tidak ada perasaan marah, mungkin karena dia faham pemuda di hadapannya hanyalah bermaksud menolongnya.


Pada dasarnya Mumu tahu bahwa ia sedang diperhatikan oleh gadis itu tapi ia sengaja pura-pura tak tahu.


Lewat kekuatan spiritualnya tak ada yang luput dari jarak sedekat ini.


Setelah selesai mengobati Niken dan memberi arahan tentang makanan yang perlu dan tidak boleh diberikan kepada Niken, Mumu pun segera mohon diri. Seperti yang ia rencanakan tadi, ia ada pekerjaan malam ini.


"Tunggu dulu, Mumu! Tolong disebut berapa biayanya?" Pak Rustam mendekat ke arah Mumu sambil tersenyum lebar. Dia berniat untuk mencairkan suasana karena tadi sudah bersikap cuek terhadap tamunya ini


Mendengar pertanyaan Pak Rustam, Mumu hanya bisa balas tersenyum sambil menggaruk-garukkan kepalanya yang tak gatal, akhirnya ia berkata, "Saya tak pernah menetapkan tarif, Pak. Seikhlasnya saja, berapa pun yang diberi akan saya terima karena pada dasarnya saya hanya ingin menggunakan ilmu ini untuk menolong sesama."


Memang benar apa yang dikatakan Mumu. Selama ia berdedikasi untuk menolong sesama, ia sering mendapatkan bayaran yang lebih, bahkan ia pernah dihadiahkan sebuah motor.


Selain itu juga ia pernah dibayar hanya dua puluh ribu rupiah. Tak pernah dibayar sama sekali juga pernah karena memang kondisi pasien tidak memungkinkan untuk membayar biaya pengobatan, mau membeli makanan sehari-hari saja payah apa lagi mau membayar biaya pengobatan.


Mumu tak pernah mempermasalahkan itu semua. Selama ilmunya bisa bermanfaat bagi orang banyak ia sudah bersyukur.


Selain itu juga ia menyadari bahwa rezeki sudah diatur oleh yang Maha Kuasa, asalkan ia berusaha dengan maksimal akan ada saja nanti rezeki yang datang dari orang yang tidak ia sangka.


Waktu baru menunjukkan pukul 22.10 wib saat Mumu memarkirkan motornya di gang Bambu samping gedung Futsal yang sudah lama tidak terpakai lagi.

__ADS_1


Orang-orang mulai jarang berlalu lalang, jika pun ada hanya dua atau tiga motor yang lewat.


Perlu waktu tujuh menit bagi Mumu berjalan kaki menuju halaman samping rumah rentenir Mizan.


Sama seperti tadi, rumahnya masih terang benderang bagaikan siang hari.


Delapan orang pria membentuk dua kelompok sedang mengelilingi meja. Terdengar suara sesuatu yang dipukulkan di meja dengan teratur yang diselingi gelak tawa. Rupanya mereka sedang bermain domino. Asap rokok memenuhi udara sekitar mereka.


Mumu meloncat ke atas pohon mangga yang berdiri kokoh di samping rumah Mizan. Tadi ia sudah memindai kondisi di dalam rumah, selain delapan orang pria yang sedang main domino di beranda, juga terdapat lima orang lagi yang sedang duduk di dalam rumah.


Berkat tenaga dalamnya yang semakin meningkat, kekuatan spiritualnya juga ikut meningkat. Sekarang ia bisa memindai segala sesuatu dalam radius sepuluh meter. Sehingga apa pun yang ada dalam lingkup sepuluh meter tersebut tidak luput dari penglihatan supernya.


Tentu saja jika ia memang ingin menggunakannya, jika dalam keadaan biasa, ia hanya mampu melihat lebih dari orang-orang kebanyakan.


Mumu tidak melihat rentenir Mizan, mungkin dia berada di kamarnya, karena rumahnya besar sehingga Mumu tak bisa memindainya secara menyeluruh.


Mumu mendongakkan kepalanya, ada sebuah ruangan dengan lampu temaram yang kebetulan jendelanya masih terbuka. Setelah yakin tak ada yang melihatnya, bagaikan bajing, Mumu langsung meloncat dan dengan hati-hati masuk ke dalam ruangan tersebut.


Saat masuk ke dalam ruangan yang ternyata adalah kamar yang luas, Mumu menyadari ada yang salah. Penciumannya yang tajam mencium bau sesuatu yang biasanya dikenakan oleh kaum wanita.


Saat pandangannya melihat seputar kamar, ia menyadari bahwa ia telah memasuki kamar seorang wanita.


Ia juga mendengar suara di kamar mandi. Untunglah yang empunya kamar sedang mandi sehingga Mumu cepat-cepat keluar dari kamar tersebut.


Rumah ini sangat besar, ada lebih kurang tujuh kamar. Mumu memindai kamar satu persatu, ia segera melihat Mizan sedang beristirahat di kamarnya. Dia berbaring telungkup dengan nyaman.


Seorang wanita yang Mumu duga adalah istrinya sedang memijat kedua kaki Mizan.


Dengan dada berdebar-debar Mumu mendekati kamar pria itu.

__ADS_1


Ia dengan nekad membuka pintu kamar. Karena si wanita memijat dengan membelakangi pintu sehingga dia tak mengetahuinya.


Berbeda dengan Mizan, walaupun dia dalam keadaan terpejam, rupanya inderanya tajam juga, dia seperti menyadari ada seseorang di sana.


Saat dia menoleh, sudah terlambat baginya. Badannya sudah kaku, tak bisa digerakkan,sedangkan istrinya tergeletak di lantai, pingsan.


"Siapa kamu? Apa yang kamu inginkan?" Walaupun tubuhnya tidak bisa digerakkan tapi dia masih bisa bicara, matanya masih bisa melihat.


Awalnya Mizan ingin berteriak memanggil para penjaganya, tapi melihat kelihaian ilmu lawan, dia memutuskan untuk tidak membuat lawan menjadi marah.


Bagaimana pun juga dia adalah orang yang panjang akal dan banyak uang.


Uang bisa membeli segalanya!


Dia mencoba menilai wajah dibalik topeng itu, tapi tak berhasil.


"Saya tak ingin nyawamu, saya juga tak membutuhkan hartamu. Saya hanya ingin melihat surat-surat berhargamu, khususnya surat perjanjian pinjaman." Mumu sengaja merubah nada suaranya sehingga saat bicara, nadanya seperti orang yang berumur empat puluhan tahun.


"Dalam mimpimu! Aku tak akan memberikan apa pun kepadamu." Jika orang misterius ini hanya menginginkan uang, Mizan tak keberatan, bagaimana pun juga uang bukan masalah baginya.


Tetapi orang ini meminta lebih, surat-surat itu terlalu penting baginya. Dia tak akan memberi semudah itu.


"Benarkah begitu?!" Mumu sudah menyangka tidak akan semudah itu mengambil surat perjanjian pinjaman, makanya ia tak langsung menyebut surat perjanjian pinjaman atas nama perusahaan Pak Sukamto. Jika tidak, tindakannya akan terlalu mudah ditebak oleh rubah yang licik ini.


Mumu berjongkok di samping kaki Mizan. "Apa yang ingin kamu lakukan?" Teriak Mizan dengan curiga. "Kamu jangan bertindak sembarangan, aku kenal baik dengan kepolisian, kamu tak akan aman jika berbuat...."


Kata-katanya langsung terputus saat dia merasakan ada yang aneh dalam tubuhnya.


Dimulai dari kedua telapak kaki yang terasa dingin, lalu menjalar ke atas. Mizan merasa darahnya bergemuruh, sakitnya bagaikan disayat.

__ADS_1


__ADS_2