TABIB KELANA

TABIB KELANA
'Hadiah' Untukmu


__ADS_3

Sosok tersebut terus memandang Mumu dari kejauhan. Tak ada sorot membunuh atau tatapan penuh kebencian dari matanya. Yang ada hanya tatapan rumit penuh makna.


Sosok itu hanya memandang Mumu dari kejauhan. Dia tak berani mendekat karena dia tahu, Mumu akan memergokinya jika dia masuk dalam jarak pandang Mumu.


Walau pun hingga kini dia tak mengerti bagai mana cara Mumu bisa mengetahui keberadaannya.


Setelah puas memandang Mumu, sosok tersebut langsung melayang menjauh dari sana.


Iya....dia benar-benar melayang seperti terbang, walau pun tak tampak sayap di sekujur tubuhnya, tapi makhluk tersebut bisa bergerak bebas di udara layaknya manusia berjalan di atas tanah.


Saat sosok itu melayang ke udara dan menghilang ke arah utara, Mumu sontak menoleh kepalanya ke luar, tapi tak ada sesuatu yang tampak dalam jangkauan pandangannya.


Saat waktu menunjukkan pukul 00.15 wib, Mumu akhirnya masuk ke kamar dan tidur.


Rasanya baru sebentar ia memejamkan matanya Mumu terbangun.


Saat melihat jam, rupanya sudah pukul 4.30 wib. Begitu cepat waktu berlalu.


Setelah meregangkan badannya sebentar Mumu langsung pergi ke kamar mandi.


...****************...


Mumu sedang sarapan lontong di tempat jualan pinggir jalan tak jauh dari simpang Pramuka-Dorak saat sebuah motor matic yang dikendarai oleh dua orang penumpang berhenti tepat di depan ibuk-ibuk yang jualan itu.


Mumu tak memperhatikan keduanya karena ia pikir mereka juga sama dengannya untuk sarapan pagi.


Walau pun ini adalah jualan di pinggir jalan tapi rasanya tak kalah enaknya dengan yang di tempat-tempat mewah lainnya. Jadi wajar saja ada pelanggan lain yang juga ingin sarapan di sini.


Betapa salahnya Mumu, ternyata kedua orang yang terdiri dari pria dan wanita itu tidak membeli sarapan, malah si wanita itu melepaskan helmnya di depan Mumu dan berkata, "Waduh....waduh...pengangguran masih bisa sarapan lontong ternyata.....!!!! Apa kah kamu sarapan dari hasil mengemis atau mencuri hah?"


Mumu menengadahkan kepalanya saat mendengar ucapan kotor yang keluar dari wanita itu.

__ADS_1


Saat ia melihat wajahnya, mau tak mau Mumu menghela nafasnya dan berkata, "Apakah tak ada perbendaharaan kata yang baik bisa kamu keluarkan dari mulut mu, Rani? Apa kah kamu ingin merasakan tamparanku?"


Ternyata si wanita itu adalah Rani, mantan teman sejawat sewaktu Mumu bekerja di kantor Perpustakaan dahulu.


Entah mengapa si Rani ini selalu saja mencari masalah dengan Mumu. Pada hal baru ketemu langsung melontarkan kata-kata yang penuh makian.


Jika dia terus berusaha menyakiti Mumu kali ini, ia tak keberatan untuk melayangkan sebuah tamparan ke wajah Rani yang judes itu.


"Oooo berani membalas kamu sekarang ya. Baru saja jadi gembel sudah berasa hebat. Salut...salut...." Rani berkacak pinggang. "Kalau kamu punya nyali, tampar aku! Ayo tampar!!!"


Memang perlu diberi pelajaran mulut si Rani ini tak ada berubahnya. Entah apa yang dia sakit hati sama Mumu.


"Kamu yang memintanya," Mumu bangkit dan mengangkat tangannya.


"Jangan coba-coba....!!"


" Plak.....!!!!" Si pria baru saja begerak maju ingin menghentikan gerakan Mumu saat terdengar suara nyaring telapak tangan Mumu yang mengenai pipi kiri Rani.


Mumu hanya menggunakan tenaga biasa, walau pun begitu, tamparannya tetap membekas di pipi Rani dan membuat dia terhuyung-huyung ke samping.


Rani langsung menangis kesakitan. "Mas, sakit......hajar dia.....jangan beri ampun..." Ujarnya kepada pacarnya sambil terisak-isak.


Melihat kekasihnya ditampar tepat di hadapannya tanpa dia mampu mencegahnya, pria yang berbadan tegap itu menatap Mumu dengan beringas.


"Kamu berani memukul wanitaku....kamu akan tanggung konsekuensinya. Sebelum aku patahkan kedua tangan mu, jangan sebut nama aku."


Belum selesai dia bicara, pria itu telah melayangkan pukulan yang disertai dengan tendangan beruntun. Sasarannya jelas ke titik-titik vital Mumu. Ternyata pria itu orang yang mahir dalam ilmu tata bela diri dan juga kejam.


Jika ini adalah orang lain, maka dia hanya akan mampu menangkis atau mengelak pukulan dan tendangan pertama saja.


Sedangkan serangan susulan itu pasti akan mengenai salah satu titik vital yang dijadikan target si pria.

__ADS_1


Namun hari ini dia akan kena batunya karena telah bertemu dengan Mumu. Biasanya Mumu lebih suka mengalah dari pada mencari masalah, apa lagi karena masalah sepele.


Tapi karena ini masalah dengan Rani, yang dari dulu suka mencari masalah dengan Mumu, tentu saja Mumu akan meladeninya.


Sudah lama ia ingin membalas perbuatan Rani.


Hari ini mereka telah datang dengan suka rela, Mumu pasti akan membalas berikut bunganya.


Sambil menghindari serangan pria itu dengan mudah, Mumu masih sempat berkata, "Bagai mana saya akan memanggil nama kamu, sedangkan kamu belum memperkenalkan dirimu."


Pria itu mendengus. Dia kembali melancarkan serangannya, tampaknya dia ahli memainkan kakinya.


Saat kaki kanannya hampir mengenai leher Mumu, pria itu langsung tersenyum penuh kemenangan, karena dia yakin serangan tersebut pasti akan berhasil karena posisi Mumu sudah mepet, tak bebas begerak.


Namun senyumannya langsung berubah menjadi jeritan saat bunyi suara "Krakk!!!" Yang sangat nyaring.


Entah bagai mana caranya, kaki kanannya yang hampir menyentuh leher Mumu langsung terkulai lemah karena persendiannya sudah terlepas. Belum sempat pria itu menarik nafas, kembali terdengar suara "Krak...!! krak..." dua kali.


Tanpa ampun Mumu telah mematahkan kakinya yang satu lagi serta tangan kanannya.


Pria itu jatuh terduduk di sudut ruangan dengan wajah pucat pasi.


"Bela diri mu terlalu sadis kawan, sehingga aku perlu mematahkan dan melepaskan engselnya agar kamu tidak lagi bertindak sewenang-wenang."


Pria itu tidak mengatakan apa-apa. Hanya saja dia menggertakkan giginya, sambil melotot ke arah Mumu.


Mumu hanya tersenyum, ia tahu bahwa pria itu ingin membalas dendam, tapi jika dia tidak bisa mencari ahli pengobatan yang benar-benar memahami tentang urat saraf dan tulang, maka pria itu hanya bisa melupakan balas dendamnya untuk selama-lamanya.


Mumu berjalan mendekati Rani yang pucat dan sedari tadi menghentikan tangisnya karena sangat takut dan terkejut. Dia tidak menyangka bahwa Mumu sehebat dan senekad itu.


"Dari dulu kamu sepertinya sangat membenci aku. Boleh aku tahu apa penyebabnya, Rani?" Tanya Mumu dengan lembut.

__ADS_1


Rani hanya bisa menggelengkan kepalanya tanpa berani menatap mata Mumu.


"Hmmm...karena kamu tidak ingin menjawabnya tidak apa-apa. Hanya saja karena mulut mu sangat kotor dan lidah mu sangat tajam, maka aku perlu memberikan sedikit hadiah kepada mu. Jadikan ini sebagai peringatan. Kamu bisa menemuiku lagi jika suatu hari kamu sudah bertobat dan menyesali segala perbuatan burukmu." Setelah melakukan sesuatu kepada Rani, Mumu membayar sarapannya dan segera berlalu dari sana.


__ADS_2