TABIB KELANA

TABIB KELANA
38.


__ADS_3

"Sakit apa keluarganya, Bang? Mau dirujuk ke Pekanbaru ya?" Salah seorang yang berkerumun itu memberanikan diri bertanya.


Amran menggeleng dengan sedih, "Mau dibawa pulang, Pak." Jawabnya singkat.


Lalu dia segera masuk ke dalam ambulance dan meminta kepada supir untuk segera pergi meninggalkan orang-orang yang masih penasaran.


Mereka segera mencari tahu.


Entah siapa awalnya yang mendapat berita, mereka akhirnya mengetahui bahwa pasien yang mereka lihat tadi adalah kasus aneh yang baru kali ini terjadi di Kabupaten Kepulauan Meranti ini.


Pasien tersebut dalam keadaan koma, tapi tak ada tindakan yang bisa dilakukan oleh dokter karena kulit pasien sangat keras tak bisa ditembusi oleh jarum infus.


"Pasien itu punya ilmu kebal." Kata pria tua yang dari tadi ikut ngerumpi.


"Kalau dia punya ilmu kebal bagaimana tubuhnya bisa babak belur seperti itu?" Sahut yang lain.


"Kalau dia tak punya ilmu kebal bagaimana kamu menjelaskan dokter kesulitan untuk memasang infus ke tubuhnya?" Pria tua itu tak mau kalah.


Akhirnya terjadilah debat kusir yang tak tahu siapa kalah dan pendapat siapa yang benar.


Akhirnya debat itu dihentikan oleh petugas jaga karena terlalu berisik takutnya menganggu kenyamanan pasien.


...****************...


Sementara itu pertempuran Mumu dengan Ijal dan kroni-kroninya masih berlangsung. Walaupun tidak seseru seperti di awal tadi tapi masing-masing mereka masih berusaha mengeluarkan serangan terbaik mereka.


Sambil terus mundur dan sesekali balas menyerang, Mumu melirik ke arah ujung jalan sekilas tapi tak kelihatan orang yang melewati jalan ini.


Walaupun bukan termasuk jalan utama seharusnya masih ada orang-orang yang melewati jalan ini.


"He he mau cari bantuan hah?!" Rupanya tindakan Mumu yang sekilas itu masih sempat dilihat oleh pria berotot itu.


"Ha ha tak akan ada orang yang akan melewati jalan ini hingga malam nanti. Kamu bisa bermimpi jika ingin mendapat bantuan dari mereka." Timpal pria bertato sambil terkekeh.

__ADS_1


Walaupun sambil bicara mereka tidak mengendorkan serangannya. Cuma dalam hati Ijal dan kawannya mulai terdapat keraguan dengan kemampuan mereka.


Pada hal sudah mengerahkan kemampuan terbaik mereka tapi hingga kini mereka belum berhasil merobohkan Mumu.


Jika sampai tahu orang lain mau ditaruh di mana wajah mereka.


Sambil melakukan tendangan beruntun yang disusul pukulan tangan kanan, pria berotot memberi isyarat kepada Ijal.


Melihat isyarat tersebut Ijal sempat ragu sejenak tapi dia berusaha mengeraskan hatinya dan segera merogoh sesuatu dari dalam saku celananya.


Saat Mumu disibukkan dengan serangan pria berotot dan pria bertato, Ijal segera menaburkan benda yang tadi diambilnya dari saku ke arah Mumu.


Mumu dengan reflek mengangkat tangannya guna menangkis serangan licik itu dengan memindahkan kaki kirinya ke samping.


Ternyata benda yang dilempar itu berupa serbuk halus sehingga benda tersebut masih mengenai wajah Mumu walaupun ia sudah berusaha melindungi dengan tangannya.


Ini adalah serangan curang. Jika ada perguruan bela diri yang menggunakan serangan menggunakan benda seperti ini maka perguruan tersebut akan dikucilkan dan dikeluarkan dari keanggotaan IPSI. Biasanya serangan senjata rahasia seperti itu hanya boleh digunakan dalam pertempuran hidup mati.


Saat Mumu disibukkan dengan matanya, serangan keempat orang itu datang bertubi-tubi. Mumu hanya berusaha mengangkat tangannya dan mengelak serangan tersebut dengan acak. Dikarenakan matanya kini tak mampu melihat, ia tak sepenuhnya mampu menangkis dan mengelak gempuran tersebut akibatnya ia terjajar dan jatuh terlentang di jalan dengan tubuh penuh memar dan mulut yang mengeluarkan darah.


Mumu berusaha berdiri tapi sebuah tendangan kembali membuatnya jatuh ke tanah.


Dadanya terasa sakit sekali. Nafasnya sesak.


Mumu mengatur nafasnya dengan metode pernafasan yang biasa ia praktekkan dan mencoba menyalurkan ke arah kedua matanya dengan harapan supaya matanya kembali melihat tapi usahanya gagal.


"Ha ha hanya segini kemampuan kamu! Ayo serang aku!" Ujar pria yang berotot itu jumawa. Pada hal dalam hati dia merasa takut karena telah menciptakan musuh yang begitu tangguh walaupun masih muda.


Mereka tertawa terbahak-bahak sambil sesekali menyerang Mumu.


Kali ini mereka tidak menyerang dengan sepenuh tenaga tapi lebih tepatnya hanya sekedar mempermainkan Mumu.


Tentu saja mereka melakukan itu sambil mengatur nafas yang sedari tadi ngos-ngosan. Cuma mereka tak mau menunjukkan kepada Mumu. Malu!

__ADS_1


Saat mengetahui intensitas serangan mereka menurun Mumu menggunakan kesempatan itu untuk kembali mencoba mengatur nafasnya dan kali ini ia mengalirkan ke bagian dada yang terasa paling sakit.


Jantung Mumu tiba-tiba berdebar.


Saat aliran pernafasan yang ia olah dan ia salurkan ke bagian dada, ia merasakan rasa sakit didadanya berkurang drastis.


Mumu tak peduli ia menjadi bulan-bulanan Ijal dan kawan-kawannya. Memar sedikit hal biasa baginya. Semenjak ia mengolah teknis pernafasan itu, fisiknya menjadi lebih kuat, walaupun tidak menjadi kebal tapi fisiknya lebih tahan dari rata-rata. Oleh karena itu sekarang ia hanya fokus pada penyembuhan cedera bagian dadanya karena disitulah cedera yang paling parah.


Ia sungguh tak menyangka bahwa ternyata metode pernafasan yang selama ini ia miliki ternyata mempunyai fungsi penyembuhan.


Sesekali ia masih berusaha mengelak serangan lawannya walaupun lebih banyak yang kena.


Sekarang dadanya sudah sembuh total jadi sekarang Mumu mengalirkan pernafasannya ke arah kedua matanya.


Ternyata memang ada efeknya. Mungkin karena sakitnya lebih parah sehingga daya penyembuhnya menjadi lebih lama.


Ijal menghentikan serangannya dan berkata kepada pria yang bertato, "Dia sudah nampak tak berdaya, sekarang apa yang harus kita lakukan?"


"Kita buat dia lumpuh. Kita tak mungkin membiarkan musuh sepertinya tetap mempunyai kemampuan seperti itu sehingga bisa membahayakan kita dan perguruan kita."


"Mengapa tidak kita bungkam saja kalau begitu?" pria yang satu lagi bertanya dengan penasaran.


"Jangan!" Cegah Ijal. Kalau kita membunuh pasti nanti tercium oleh petugas keamanan. Kita juga akan repot."


"Mari kita patahkan kaki dan tangannya lalu kita segera pergi."


Mereka pun kembali mendekati Mumu yang masih terbaring diam di tanah.


Ijal meraih kaki Mumu dan langsung membuat gerakan memuntir. Tapi dia kecelik. Tangannya masih bergerak di udara saat kaki Mumu bergerak dan langsung menghantam dadanya dengan keras. Saking kerasnya tendangan itu sehingga Ijal langsung memuntahkan darah segar.


Aksi Mumu tak hanya sampai di situ, setelah kakinya menghantam dada Ijal dia langsung bangkit dan menyerang pria berotot di samping kanannya dan pria bertato yang berdiri bengong tak jauh dari situ.


Aksinya sangat cepat.

__ADS_1


__ADS_2