
Ternyata tanggapan Pak Surya Atmaja berbeda dengan apa yang dipikiran drg. Saloka.
"Maaf, Pak dokter, kalau yang dokter maksud anak muda yang belum lama masuk ke sini tadi, sepertinya dokter harus menunggu beberapa saat lagi. Dia sedang melakukan sesuatu sehingga tidak bisa diganggu."
drg. Saloka tersenyum sinis, "Oh begitukah? Apakah yang sedang dia lakukan sampai tak punya waktu untuk menemui saya? Apakah dia sedang menyelamatkan nyawa seseorang melebihi pekerjaan para dokter sehingga sedikit pun tidak bisa diganggu. Atau Bapak sengaja bilang begitu karena ingin menyelamatkan anak muda itu dari sanksi?"
"Terserah apa yang Bapak pikirkan, itu urusan Bapak, yang jelas saya tidak akan mengizinkan Bapak menganggunya untuk saat ini. Saya harap Bapak mengerti."
"Cish...!!! Kamu anggap dirimu siapa sampai berani berkata seperti itu?" Kata salah seorang Satpam dengan jijik. "Kamu anggap dirimu lebih hebat dibandingkan dengan Pak Direktur? Kamu terlalu menilai tinggi dirimu sendiri orang tua."
Pak Surya Atmaja tidak menggubrisnya sama sekali. Dia hanya berdiri tegak menghadang. Seolah-olah sebagai jawaban atas sikapnya tadi.
Melihat orang tua yang keras kepala itu, akhirnya kesabaran drg. Saloka kian menipis juga. Dia memberi isyarat kepada kedua Satpam itu untuk segera bertindak.
Melihat isyarat tersebut kedua Satpam itu pun segera bertindak dengan semangat.
Mereka ingin memperlihatkan kinerja terbaik mereka di hadapan sang Direktur supaya mendapat pujian.
Bukankah suatu pujian juga termasuk sebagai keuntungan dan berkah?
Mereka mendorong Pak Surya Atmaja dengan sangat keras.
Rupanya Pak Surya Atmaja hanya semangat darah mudanya saja yang masih tersisa sedangkan tenaganya tidak mendukung lagi. Tubuh wadaknya sudah tak mampu lagi untuk menahan dorongan kedua Satpam tersebut, akibatnya dia terjajar hingga tiga empat langkah ke belakang.
"Hei, apa yang kalian lakukan terhadap orang tua itu?!!"
Agus Deka yang dari tadi melihat dari kejauhan segera berlari mendekati mereka. Dia tak tahan lagi melihat ulah kedua Satpam tersebut.
Dia segera membantu Pak Surya Atmaja berdiri karena tadi dia telah jatuh terduduk di lantai.
Pandangan matanya berkilat, berisi riak kemarahan.
__ADS_1
Dalam pada itu Mumu masih menyalurkan tenaga dalamnya dengan perlahan-lahan.
Walaupun masih terdapat penolakan dari racun misterius itu, nyatanya penolakan itu sangat lemah sekarang dibandingkan dengan tenaga dalam Mumu yang luar biasa sehingga tenaga dalam tersebutsedikit demi sedikit terus masuk dan mulai membersihkan racun yang sudah tersebar dan bercampur dengan aliran darah.
Sebelumnya juga, Mumu sudah membentengi jantung agar tidak ada lagi racun yang menyebar ke sana sehingga tidak memperparah kinerja jantung yang hampir kolaps.
Mumu terus melakukannya dengan sabar.
Selangkah demi selangkah. Ia tahu bahwa kedua Satpam itu datang dan masuk ke ruangan ini untuk mencari masalah dengannya, tapi ia tidak mempunyai waktu untuk melayaninya. Ia hanya fokus pada proses penyembuhan Bang Randi.
Seperempat jam kemudian mulai tampaklah perubahan pada tubuh Randi, walahnya yang semula pucat pasi mulai terisi darah kembali.
Nafasnya mulai mengalir dengan teratur. Seiringan dengan hal tersebut, jari-jari tangannya mulai tampak bergerak. Awalnya sangat pelan, lama kelamaan semakin kuat dan cepat sehingga membentuk kepalan.
Saat kedua kakinya mulai bisa digerakkan beriringan dengan kedua kelopak mata Randi yang mulai terbuka dengan perlahan-lahan.
Awalnya dia langsung memicingkan matanya secara otomatis karena merasa silau akibat pencahayaan ruangan.
Entah berapa kali dia melakukan hal itu, setelah dia merasa nyaman, baru lah dia menghentikan gerakan tersebut.
Saat dia menolehkan kepalanya ke arah kiri, dia melihat sosok orang yang sangat dikenalnya sedang membuka rol infus, sehingga kecepatan masuki tubuhnya bagaikan air yang dibuka krannya.
Dalam sekelip mata cairan itu pun langsung habis.
"Mumu...." Lirih suaranya saat menyebut nama anak muda yang sangat dia hormati tersebut.
Dia sudah lama mematikan urat terkejutnya jika melihat Mumu di sini.
Dia langsung paham, pasti Mumu datang ke sini karena menolongnya.
Walaupun umur mereka terpaut jauh tapi hal tersebut tidak menjadi penghalang baginya untuk menghargai atas tindak tanduk Mumu selama ini.
__ADS_1
"Bawa bertenang dulu, Bang." Ucap Mumu sambil mencabut slang infus dengan cepat agar infus yang sudah kosong tidak kembali berbalik menyedot darah Randi.
Pernah terjadi pasien yang lupa mematikan rol infus saat cairan infusnya sudah habis sedangkan dia tidak segera memanggil perawat. Akibatnya darahnya mulai naik, memasuki slang infus, menuju botol wadah NACL tersebut. Jika perawat tidak datang tepat pada waktunya, entah apalah yang akan terjadi.
Mumu secara alami tahu akan teori tersebut, karena dahulu, saat ia masih bekerja di Perpustakaan, ia sudah melahap berbagai macam buku yang ada di sana termasuk buku-buku tentang kesehatan.
"Apa yang terjadi Mumu?" Raut wajah Randi berubah tegang. Dia langsung duduk. Ternyata Randi sudah sehat seperti semula. Hanya badannya yang masih sangat kurus sebagai pertanda bahwa dia pernah sakit sebelumnya.
Tentu saja dia bukan menanyakan tentang keadaan dirinya. Tapi dia menanyakan peristiwa yang terjadi di luar saat mendengar teriakan penuh amarah, "Hei, apa yang kalian lakukan terhadap orang tua itu?!!"
"Ada sedikit masalah di luar, jika Abang sudah kuat berjalan, mari kita segera keluar."
Mumu segera membuka gorden pembatas, semua mata sontak tertuju kepadanya.
"Ini dia anak muda itu, Direktur." Celetuk salah seorang Satpam. Tapi dia bukannya maju untuk menangkap Mumu, dia malah mundur tiga langkah ke belakang. Rupanya dialah yang awalnya yang ingin menangkap Mumu lalu entah mengapa tiba-tiba tubuhnya menggelepar seperti orang yang sakit ayan.
Tanpa dia sadari, ternyata dia menjadi ciut saat mengenang peristiwa yang terjadi tadi.
Dalam pada itu, Randi segera berlari mendapatkan ayahnya yang tangannya sedang di pegang oleh ibunya, sedangkan di hadapan mereka berdua berdiri dengan gagah seorang pemuda yang memandang ketiga orang di depannya seolah-olah ingin memakannya.
"Apa yang terjadi, Bu?!" Serunya.
Pandangan orang-orang yang awalnya memandang ke arah Mumu, secara otomatis memandang ke arah suara Randi.
"Randi, kamu sudah sembuh, Nak?!!!"
Pak Surya Atmaja dan Buk Husnalita segera berlari mendapatkan anaknya. Mereka tak peduli lagi dengan orang-orang sekitar. Mereka segera merangkul Randi dengan erat. Tanpa terasa air mata mereka menetes, tentu saja ini adalah air mata bahagia.
Mendengar kata 'sembuh' sekali lagi Agus Deka dan drg. Saloka memandang Randi dengan penuh perhatian.
Agus Deka mengerutkan dahinya sambil bergumam, 'Apakah ini adalah pria yang dalam keadaan koma karena terkena racun yang tidak bisa dikenali? Bagaimana dia bisa sembuh secepat itu? Bukankah para dokter sudah menyerah karena tak mampu mengobatinya?'
__ADS_1