TABIB KELANA

TABIB KELANA
61.


__ADS_3

Sekilas pandang itu hanyalah pecahan sebuah batu bata biasa. Tapi jika diperhatikan dengan seksama, terdapat noda darah yang mulai mengering. Seperti bekas cakaran atau sejenisnya. Hanya karena Mumu diberi kelebihan matanya yang tajam melebihi orang kebanyakan ini sehingga noda darah tersebut tidak luput dari pandangannya.


Karena merasa yakin tidak ada orang lain yang bersembunyi di sekitar sini sehingga Mumu mengeluarkan handphonenya dan menyalakan fungsi senter.


Ia melihat rerumputan rebah bekas pijakan. Di lihat dari bekasnya yang masih basah, Mumu yakin belum lama ini ada orang yang datang ke sini.


Mengenai tujuannya ke sini, Mumu tidak bisa memastikan.


Ia terus maju hingga sampai di bagian belakang rumah petak tersebut.


Karena sudah lama tidak dihuni, rumput dan semak tumbuh subur di belakang rumah ini.


Di kejauhan Mumu, di balik semak-semak, Mumu seperti melihat sesuatu yang mencurigakan.


Jantungnya berdebar tambah kencang. Terus terang Mumu sedikit gugup.


Dia terus berjalan mendekat dengan perlahan-lahan.


Saat jaraknya mencapai lima meter, betapa terkejutnya Mumu. Bagaimana tidak, sesuatu yang dilihatnya tadi ternyata sesosok tubuh yang diikat kedua tangan dan kakinya. Sedangkan mulutnya disumpal dengan secarik kain sehingga sosok tersebut tidak bisa berteriak.


Sosok tersebut ternyata adalaha seorang pria berusia empat puluhan tahun. Berperawakan sedang dan berkulit kuning langsat.


Dia menggunakan setelan kemeja mahal yang dipadu dengan jelana jeans jenis terkenal.


Begitu juga dengan jam tangan yang melilit di tangan kirinya juga berasal dari merek jam ternama.


Saat ini kondisi pria tersebut setengah sadar. Terdapat sebuah luka menganga di perutnya sebelah kiri. Darah terus merembes, membasahi kemejanya yang mentereng itu.


Selain luka di perut, Mumu juga melihat terdapat bekas pukulan di matanya yang sebelah kanan sehingga menimbulkan bekas memar dan sedikit bengkak.

__ADS_1


Sedangkan tangan dan kakinya mengalami patah tulang sehingga walaupun ikatannya dilepas, tak ada manfaat apa-apa bagi pria ini.


Siapakah pria ini? Dan siapa pula yang telah menganiayanya sedemikian rupa?


Mumu segera mendekat, ditariknya kain yang menyumpal mulut pria itu.


Tapi tak ada teriakan yang terdengar. Rupanya pria itu setengah pingsan. Dia sangat lemah, selain karena cedera dia juga sudah banyak kekurangan darah.


Mumu segera mengalirkan tenaga dalamnya untuk mengobati luka di perut pria malang tersebut. Seperempat jam kemudian, luka pria itu sudah tertutup walaupun belum sembuh benar. Paling tidak sudah tidak ada lagi darah yang mengalir keluar.


Selain itu juga, Mumu menyuntikkan sedikit energi ke tubuh pria itu sehingga tak lama kemudian dia sudah mulai sadar dan mampu membuka kedua matanya.


Melihat Mumu yang duduk di hadapannya, dan merasakan kondisi tubuhnya yang mulai membaik walaupun kedua tangan dan kakinya belum bisa digerakkan tapi pria itu tahu bahwa dia baru saja lolos dari kematian. Dia yakin bahwa pemuda yang di hadapannya inilah yang telah menolongnya. Oleh karena itu dia segera berkata dengan suara lirih, "Terima kasih atas bantuanmu anak muda. Tanpa pertolonganmu saya tak tahu bagaimana nasib saya selanjutnya."


"Sudah sepantasnya kita saling tolong menolong antara sesama jika kita memang punya kemampuan untuk itu, Pak. Lagi pula saya tidak sengaja bertemu Bapak di sini. Anggap saja ini adalah takdir." Jawab Mumu sambil tersenyum.


"Saya Hilman. Siapa namamu anak muda? Apakah kamu seorang tabib?" Pria itu mencoba menggerakkan tubuhnya.


Walaupun dia tidak bisa melihat perutnya dengan jelas karena cahaya samar-samar dan tertutup baju, tapi dia pasti lukanya sudah diobati.


Mengenai bagaimana cara anak muda ini mengobatinya, saat ini dia hanya bisa menyimpan rasa penasarannya di dalam hati.


"Jangan bergerak dulu, Pak!" Cegah Mumu. "Tangan dan kaki Bapak belum sempat saya obati..."


Tiba-tiba Mumu mendengar suara deru mesin mobil dan motor di kejauhan. Awalnya dia mengira hanya sekedar orang yang lewat.


Setelah dipikir-pikir, ini bukan jalan raya tapi hanya sebuah gang, kenapa ada banyak mobil dan motor yang melewati jalan ini?


Wajah Mumu sedikit berubah.

__ADS_1


"Ada apa, anak Muda?" Pria itu tentu saja melihat Mumu tiba-tiba tegang, wajahnya serius. 'Apakah musuhnya datang kembali?' Sebelum dia sempat berpikir lebih jauh, Mumu sudah mengangkat tubuhnya , memasuki semak-semak berusaha menjauhi tempat itu.


Tak ada kesempatan lagi untuk melewati gang karena ternyata memang benar, mobil dan motor tadi berhenti tepat di depan rumah petak tersebut.


"Coba lihat ke sana, apakah orang tua itu sudah mam*us! Seret dia ke sini, kita hanya memerlukan matanya untuk membuka kode berangkas tersebut." Terdengar suara seorang pria dengan penuh wibawa.


"Baik, Bos." Dua orang segera menuju ke tempat Hilman tadi berada.


"Eh, ke mana dia pergi?" Tanya kedua orang itu dengan panik. "Tadi dia kita lemparkan di sini. Tak mungkin dia menghilang begitu saja. Ayo cepat kita cari sebelum didamprat oleh Bos."


Mereka pun kembali mencari dengan panik.


Lima menit kemudian akhirnya mereka menyerah dan kembali ke hadapan Bosnya untuk melaporkan dan menerima sanksi.


"Apa yang kalian berdua lakukan di sana? Mana orang tua itu? Kenapa tidak di bawa ke sini?!" Mereka berdua belum sempat mengatakan apa-apa langsung disemprot oleh si Bos.


Mereka saling berpandangan sebagai isyarat supaya menceritakan apa yang terjadi.


"Hei, apa kalian tu*i? Bos bertanya tapi kalian diam saja. Tidak menjawab." Sebuah tendangan mendarat di dada mereka sehingga mereka terdorong mundur.


Ternyata tangan kanan si Bos lah yang telah menegur dan menendang mereka.


Mereka berdua tentu saja tak berani melawan. Mereka hanya bisa menyimpan ketidaksenangan mereka di dalam hati terhadap tangan kanan si Bos yang beringas itu.


"Pria tua itu hilang, Bos. Kami tak berhasil menemukannya." Setelah ragu sejenak, mereka menguatkan mental untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa? Hilang? Kalian jangan mengada-ngada. Menurut laporan, bukankah dia sedang sekarat, menunggu kematian datang menjemputnya serta kaki dan tangannya sudah dilumpuhkan sehingga tak bisa digerakkan. Apa kah kalian ingin ma*i? Berani mencoba membohongiku?"


"Sungguh, Bos. Kami tak bohong. Kami memang tak berhasil menemukan di tempat dia seharusnya berada." Ucap keduanya menggigil ketakutan.

__ADS_1


"hm. Kalian tak becus. Kalian berani meremehkan tugas yang aku berikan..Feri, pa*ahkan tangan dan kaki mereka berdua lalu pimpin beberapa anggota untuk menyusuri sekitar wilayah ini. Cari orang tua itu sampai ketemu! Dia tak mungkin hilang begitu saja. Pasti ada yang telah menolongnya." Perintahnya kepada Feri, orang yang menjadi tangan kanannya itu.


"Selain itu juga, tangkap dan bereskan orang yang telah berani menolong pria tua itu, juga keluarga dan kenalannya, habisi semua!"


__ADS_2