
Secepat kilat jari Mumu sudah bersarang di pinggung mereka sehingga mata kelima remaja tanggung itu mendadak sayu, mereka pun terkulai tak berdaya di tanah.
Sekarang ini jangankan marah, mau berdiri susah minta ampun.
Mereka berlima hanya bisa menggertakkan giginya saat melihat Mumu. Ada sedikit penyesalan di hati mereka karena telah menyinggung pemuda ini, tapi saat mengingat pembalasan yang akan dilakukan oleh kelompok di belakangnya, mereka kembali menguatkan hati dan berusaha untuk bersabar hingga pemuda sombong ini binasa.
Oleh karena itu mereka hanya bisa memaki dalam diam.
Wulan dan Lisa tak tahu persis apa yang terjadi. Mereka berdua hanya melihat kelima remaja tanggung yang awalnya beringas kini terkulai tak berdaya bagaikan ayam berak kapur.
Tanpa sadar mereka hanya bisa melihat Mumu dengan penuh kagum.
Hanya saja Lisa menjadi serba salah, karena dia tadi telah mengejek Mumu sebagai pemuda yang pemalu karena telah melihat Wulan dengan sembunyi-sembunyi, tapi siapa sangka ternyata pemuda itulah yang akan menolong mereka berdua saat akan diganggu oleh kelima remaja tanggung itu.
Sedangkan orang lain hanya melihat mereka dari kejauhan, jangankan menolong, mendekat saja mereka tidak berani.
Mungkin orang-orang di sekitar sini sudah tahu akan keberingasan kelima remaja tersebut sehingga mereka semua memilih diam dari pada berurusan dengan remaja itu.
"Ayo kita temui pemuda itu, Lisa!" Ajak Wulan sambil menarik tangan Lisa. Dengan ogah Lisa pun terpaksa menurut.
"Terima kasih karena telah sudi menolong kami." Suara Wulan sangat lembut masuk ke dalam telinga Mumu.
"Tak perlu berterima kasih, Kak! Sudah sewajarnya kita saling tolong menolong." Ingin rasanya Mumu bertanya nama wanita itu tapi nanti dibilang ada udang di sebalik batu pula.
Menolong karena ada pamrih.
"Kenalkan, saya Wulan dan ini saudara saya Lisa." Mumu terkejut, apa ia salah dengar? Ternyata wanita itu sendiri yang berinisiatif memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.
Jangankan Mumu, Lisa pun terperangah. Dia menatap tajam ke arah Wulan seolah-olah dia tidak mengenalnya.
__ADS_1
Tak biasanya Wulan bertingkah seperti ini. Dia adalah orang yang sangat protektif dari pemuda yang asing baginya. Tak pernah dia memulai untuk mengenalkan dirinya terlebih dahulu. Biasanya para pemuda itulah yang akan berusaha untuk mengetahui namanya.
"Saya Mumu," Jawab Mumu dengan sopan.
Setelah itu mereka bertiga terdiam. Suasana menjadi kaku.
Mumu dan Wulan mendadak kehilangan ide untuk memulai pembicaraan, sesekali mereka saling lirik, mencuri pandang, sedangkan Lisa memang lagi tak mood untuk bicara.
Beberapa saat berlalu, Lisa tak tahan lagi, akhirnya dia berkata, "Ayo kita pulang, Wulan, aku lapar."
"Eh, iya..baik lah...ayo kita pulang sekarang."
Setelah melirik sebentar ke arah Mumu, Wulan berkata dengan lirih, "Kami pulang. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya."
"Baik lah....tak masalah, Kak." Mumu tersenyum canggung.
Saat kedua wanita itu pergi dari sana Mumu merasakan ada sesuatu yang hilang darinya, ia mencoba meraihnya tapi tak bisa.
Mumu lalu mulai berlari pulang karena hari sudah siang.
...****************...
Mizan masih terbaring di salah satu sofa. Matanya menerawang plafon rumahnya yang mewah itu seakan-akan sedang menghitung butiran-butiran yang terukir di sana.
Tak jauh darinya berdiri dengan tegap tiga orang anak buahnya dengan sikap siaga bagaikan harimau yang ingin menerkam mangsanya.
Mizan sudah pulih dari 'penyakit'nya yang mendadak kaku.
Waktu itu anak gadisnya telah berteriak memanggil orang-orang. Setelah mereka datang, melihat kondisinya dalam keadaan kaku, tanpa tahu apa yang bisa mereka lakukan, akhirnya salah seorang anak buahnya langsung memanggil dokter pribadinya.
__ADS_1
Dokter pribadinya juga tidak bisa berbuat apa-apa. Karena Mizan tahu, ini bukanlah suatu penyakit, tapi hal ini terjadi akibat ulah orang misterius itu.
Saat mengenang orang misterius itu, tanpa sadar Mizan bergidik ngeri. Hatinya kecut. Sangat mudah bagi orang misterius itu jika ingin memb*nuhnya.
Sebanyak apa pun anak buahnya dan sebaik apa pun hubungannya dengan pihak yang berwajib, semua itu tak ada apa-apanya bagi orang misterius tersebut. Orang itu bisa menyelinap kapan saja dia mau, oleh karena itu Mizan benar-benar tak boleh memprovokasi orang seperti itu.
Satu-satunya alasan orang misterius itu berani menganggunya karena ada hubungannya dengan si Sukamto itu. Entah dari manalah Sukamto bisa mengenal orang misterius tersebut. Sungguh beruntung nasibnya.
Alih-alih membalas dan melampiaskan semua kebencian serta ketidakberdayaan kepada Sukamto dan keluarga akibat orang misterius itu, Mizan malah berkata kepada ketiga anak buahnya dengan suara lirih dan pandangan yang masih menerawang ke atas.
"Jalankan bisnis seperti biasa. Sampaikan kepada semua anggota jangan sampai membuat masalah apa pun kepada Sukamto dan keluarganya, jika kedapatan anggota yang tidak menuruti perintah, singkirkan saja mereka! Jika kalian melihat Sukamto sedang kesulitan atau diganggu oleh pihak lain, bantu dia. Mulai hari ini dan seterusnya kita harus membangun relasi yang baik dengannya."
Walaupun ketiganya bingung dengan perintah Mizan yang menurut mereka tak masuk akal itu, tapi mereka bertiga tetap menjawab dengan serempak, "Baik, Bos!"
Setelah itu ketiganya langsung pergi untuk menjalankan perintah Bos yang agak nyeleneh itu.
Sejak kapan Bos yang mereka kenal dengan kekejamannya, menghukum seseorang sambil tersenyum tanpa ada rasa bersalah dan penyesalan tiba-tiba tunduk kepada seseorang?
Bahkan ingin membangun relasi dengan orang tersebut. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Bos mereka tadi malam sehingga dia berubah drastis seperti itu?
Tentu saja ketiga anak buah itu tidak berpikir terlalu lama. Mereka hanya perlu fokus dan menjalankan tugas dari Bos mereka dengan sebaik-baiknya.
Dalam pada itu Pak Sukamto baru saja masuk ke mobil saat sebuah panggilan telpon menarik perhatiannya.
Dia sangat mengenal siapa penelpon tersebut. Bahkan dia memang berencana mau ke rumahnya untuk menyelesaikan hutang piutang di antara mereka.
Dengan tangan sedikit gemetar Pak Sukamto segera menjawab telponnya.
"Hallo Pak Mizan, ada yang bisa saya bantu?" Walaupun surat perjanjian hutang sudah ditangannya, dia masih belum tenang karena dia sangat paham orang seperti apa Mizan itu, banyak trik-trik kejam yang bisa dia lakukan atas orang-orang yang berani melawannya. Hingga saat ini Pak Sukamto dan keluarganya masih tak percaya atas keajaiban yang terjadi, mereka masih belum bisa menebak penolong misterius yang telah mengambil surat perjanjian hutang dan memberikan kepada mereka.
__ADS_1
Pak Sukamto menebak Mizan menelpon pasti ada hubungannya dengan surat hutang tersebut, walaupun Pak Sukamto tak akan percaya jika Mizanlah yang mengembalikan kepadanya secara diam-diam.
Jika hal seperti itu terjadi kemungkinan matahari sudah terbit dari barat.