
Jika saja drg. Saloka tahu kemampuan Mumu bukan saja bisa mengobati orang yang keracunan, bahkan penyakit jantung, tulang patah dan tulang rapuh seperti yang pernah diderita oleh Mala pun bisa tangani oleh Mumu, mungkin dokter Saloka akan langsung menawarkan gaji tiga kali lipat dari yang telah dia tawari sebelumnya.
Jika pihak-pihak terkait nanti mampu mengendus kemampuan Mumu, mungkin dokter Saloka akan menyesali karena masih menganggap enteng kemampuan Mumu.
"Saya dengan senang hati menerima tawaran dari dokter. Walaupun saya merasa dokter terlalu menganggap tinggi diri saya. Cuma sebelum itu, saya mempunyai satu syarat, itu pun jika diperbolehkan."
Mumu mengucapkan kata demi kata dengan tenang, tidak tampak terburu-buru. Pada hal jika itu orang lain yang berada pada posisi dia, mereka mungkin sudah berlari untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji setara dokter spesialis.
"Oh, apa syaratnya itu?" Dokter Saloka penasaran. Dia merasa bukan sedang bicara dengan seorang anak muda yang sikapnya menggebu-gebu, tapi dia seperti sedang bicara dengan orang tua yang sudah mempunyai pengalaman hidup berpuluh-puluh tahun.
"Saya hanya ingin identitas saya di RSUD dirahasiakan."
Dokter Saloka memandang mata Mumu seolah ingin melihat ada apa di kedalaman mata tersebut. Tapi dia tak mampu melihatnya. Akhirnya dia hanya mengangguk, "Baiklah." Katanya.
Mereka pun kembali mengobrol membahas berbagai hal, tak lama kemudian seorang laki-laki datang dan menyerahkan sebuah map kepada dokter Saloka, setelah melihat sebentar dia mengangsurkan kepada Mumu, "Silahkan dibaca dulu, Mumu! Jika sudah cocok, kamu bisa langsung tanda tangan."
"Saya percaya sama dokter." Ujar Mumu dan langsung menandatangani kontrak tersebut.
Dokter Saloka kaget, tapi dia kembali menaikkan penilaiannya terhadap karakter Mumu.
Dia tak tahu bahwa sewaktu map itu masih di tangan staf Dokter Saloka, Mumu sudah memindainya dengan kekuatan spiritualnya sehingga saat Dokter Saloka baru membukanya, Mumu sudah selesai membacanya.
Bagaimana pun ia dan Dokter Saloka baru kenal sehingga Mumu perlu menerapkan prinsip kehati-hatian. Ia tak ingin terjebak jika ada tipu muslihat yang tersembunyi tanpa ia sadari. Hal itu tentu saja akan menjadi lelucon yang memalukan baginya.
"Terima kasih atas kerja samanya, Mumu. Semoga bisa berjalan dengan lancar
Saya undur diri dahulu." Mereka saling berjabat tangan.
"Sama-sama Pak Dokter.
__ADS_1
Setelah drg. Saloka pergi, Mumu duduk sejenak, setelah menghabiskan minumannya, ia langsung pulang.
Dalam pada itu seorang wanita yang menggunakan helm coklat dan memakai cadar sedang mengendarai motor jenis matic dengan perlahan.
Saat memasuki jalan Lintas Timur, dia berhenti di depan sebuah rumah berpagar di sebelah kiri jalan.
Ada keraguan dihatinya saat tangannya yang halus ingin memencet bel, akhirnya tangan tersebut hanya berhenti di udara. Tak jadi memencet.
Dia masih berdiri di sana sambil *******-***** jari-jari tangannya.
Saat dia menguatkan hati untuk memencet bel, sebuah motor berwarna merah berbelok ke arahnya.
"Wulan!" Sapa orang itu.
Wanita yang menggunakan cadar yang tak lain adalah Wulan adanya memandang pemilik motor merah tersebut. Wajahnya berubah karena orang tersebut ternyata adalah Mumu.
Hati Wulan sangat sedih. Dia berusaha untuk tidak mempercayai cerita Rani lewat Lisa, tapi kenyataan di depan matanya tidak bisa membohonginya.
Mumu pulang dari kedai kopi Jumbo dengan hati yang gembira. Di saat orang lain sedang berusaha keras untuk mendapatkan pekerjaan sampai-sampai mereka harus menjadi TKI, bekerja di negeri tetangga, Malaysia, Mumu malah ditawari dengan pekerjaan yang menyenangkan dan gaji yang besar.
Tapi jika diingat-ingat dahulu, sewaktu ia baru menginjakkan kakinya di kota Selatpanjang ini, Mumu juga kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan dengan hanya berbekal ijazah SMA.
Benar kata orang-orang, kehidupan ini terus berputar sehingga kita tak boleh berputus asa saat berada di bawah dan tidak boleh sombong saat merasakan kesuksesan dalam hidup.
Saat melihat seorang wanita bercadar berdiri di depan rumahnya, Mumu sedikit kaget, apa lagi saat ia tahu bahwa wanita itu adalah Wulan.
'Dari mana dia tahu dan ada apa tujuannya ke sini? Bukankah kemaren dia seperti menjaga jarak dan tidak ingin berhubungan denganku, mengapa sekarang dia malah datang menemui aku di sini?' Gumam Mumu.
"Mengapa bengong, Wulan? Ayo masuk." Mumu bergegas membuka pagar.
__ADS_1
Wulan menggelengkan kepalanya dengan pelan. Mata beningnya menatap wajah Mumu dan berkata, "Apakah ini rumahmu?"
Mumu yang sedang membuka pagar membalikkan badannya, "Bukan, aku hanya dipercayakan oleh orang untuk menjaga rumah ini."
"Oleh istrimu, Mirna Safitri?" Hati Wulan serasa perih saat menyebutnya. Apalagi saat melihat keterkejutan di wajah Mumu, dia semakin sedih dan benci pada saat bersamaan.
"Mengapa kamu tak bilang bahwa kamu sudah menikah dan mempunyai istri, Mumu? Apa maksudmu mendekati aku? Apakah kamu ingin menjadikan aku istri keduamu lalu mengambil semua hartaku seperti yang kamu lakukan terhadap istri pertamamu?" Wulan menangis sesunggukan.
Hatinya sangat kecewa dengan sikap Mumu yang culas. Bertentangan sekali dengan aksi heroiknya saat membantu mereka berdua di pantai Dorak.
"Dari mana kamu memperoleh cerita seperti itu, Wulan?" Hati Mumu sakit karena dituduh seperti itu. Hanya saja karena mentalnya lebih kuat dibandingkan orang kebanyakan sehingga ia dengan cepat mengendapkan perasaan sakit tersebut.
Tak banyak yang tahu riwayat pernikahannya dengan Mirna selain anggota keluarga Pak Wahab. Walaupun pernikahan tersebut hanyalah sebatas legalitas secara adminstrasi saja. Lalu siapa yang telah menceritakan kepada Wulan dengan menambah berbagai hal yang tak masuk akal.
Sejak kapan ia menjadi orang yang merampas harta kekayaan orang lain dengan cara merayu lalu menikahan anak gadis orang setelah itu mencampakkan kembali.
Apakah sebejad itu pandangan Wulan terhadapnya?
Lagi pula sebelum berangkat ke Jogja kemaren, Mirna mau mengurus surat perceraian di Pengadilan agar identitas mereka berdua kembali seperti semula.
"Kamu tak perlu mengetahui dari mana aku mendapatkan informasi tersebut. Mulai hari ini dan seterusnya jangan pernah menyapa dan mendekati aku lagi, Mumu! Anggap saja kita tak pernah saling kenal walaupun pada kenyataannya aku masih terhutang budi padamu." Dengan langkah agak sempoyongan Wulan berjalan ke arah motornya.
"Wulan, tunggu dulu, Wulan!"
"Apa lagi, Mumu? Tak cukup juga kah kamu ingin menyakiti hatiku?"
Mumu berjalan hingga berjarak tiga langkah di depan Wulan, "Mau kah kamu mendengar ceritaku yang sesung..."
"Cukup, Mumu,....cukup...." Potong Wulan sambil menggelengkan kepalanya. "Tak perlu kamu berdalih lagi! Aku mohon diri." Wulan menghidupkan motornya dan segera berlalu dari sana meninggalkan Mumu yang masih berdiri termangu menatap Wulan hingga hilang dari pandangan.
__ADS_1