
"Maaf, Amran, aku tak cukup mampu untuk menolong Abangmu." Kata Mumu dengan tak enak hati. Belum pernah ia mengecewakan seseorang jika berkaitan dengan ilmu pengobatan.
Tapi hari ini ia harus menerima kenyataan pahit tersebut.
Benarlah pepatah yang mengatakan bahwa di atas langit masih ada langit, di bawah tanah masih ada tanah.
Hal ini mengajarkan agar Mumu tidak bersikap jumawa karena diberi kelebihan dengan sedikit ilmu. Tidak merasa paling hebat, tidak menganggap semuanya bisa ia selesaikan tanpa pertolongan dari sang Maha Kuasa.
"Jangan bilang seperti itu, Mumu. Jangankan kamu, dokter saja tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi kamu tak perlu merasa bersalah seperti itu. Dengan kamu telah sudi datang dan ingin menolong Abangku saja sudah merupakan karunia bagi kami. Ujar Amran dengan tulus.
Dia tidak lagi menganggap Mumu sebagai musuhnya tapi dia sudah menganggap sebagai temannya.
Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memulai pertemanan. Mungkin dengan cara beradu tinju dan ketangkasan merupakan salah satu dari cara itu.
Saat mereka sedang berbincang-bincang tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara tangisan yang menyayat hati berasal dari kamar yang baru mereka tinggalkan tadi.
"Ada apa dengan kakak iparku? Tak biasanya dia seperti itu." Ujar Amran sambil berlari menuju kamar Abangnya.
Istri Handoko sedang menangis sambil memeluk Handoko yang terbujur kaku.
Melihat hal itu dada Amran tersentak, dia segera mendekati Abangnya, memang tak ada lagi kelihatan nafas Abangnya yang biasanya turun naik walaupun sangat pelan itu.
Tanpa sadar air mata mengembun dari kedua matanya membuat pandangannya jadi kabur.
Hal yang dia takuti akhirnya terjadi juga. Abangnya yang perkasa, Abangnya yang bertanggung jawab, Abangnya yang garang dan pemarah namun sangat menyayanginya akhirnya telah tiada.
Amran limbung. Dia jatuh terduduk di samping pembaringan.
Dia sekarang harus berjuang sendiri. Tak ada lagi sosok Abang yang akan selalu melindunginya.
Saat Amran sedang menangis sambil mengenang sosok Abang yang sangat dia takuti sekaligus yang dia sayangi, tiba-tiba dia dikejutkan oleh teriakan kakak iparnya.
"Ini semua salahmu! Gara-gara kamu datang, suamiku meninggal. Pergi dari sini! Pergi kamu!"
Kakak iparnya memburu Mumu dan langsung berusaha memukul dan mencakar Mumu yang berdiri tegak di depan pintu.
__ADS_1
"Kakak, apa yang kamu lakukan?" Seru Amran dengan kaget.
"Dia....dia yang membunuh suamiku. Pergi kau! Pergi!"
"Tenang, Kak. Tenang!" Amran lalu membimbing kakak iparnya ke sudut ruangan. Dia menoleh ke arah Mumu dengan pandangan meminta maaf.
Mumu hanya menanggapinya dengan tersenyum.
Beberapa orang masuk ke ruangan, di antaranya adalah orang tua Handoko dan juga mertua dan adik iparnya.
Setelah melihat Handoko yang terbujur kaku, mereka mendekati dan berusaha menenangkan istri Handoko yang masih sesunggukan.
"Tenang, Nak. Kamu harus tenang! Kita semua sedih karena kepergiannya. Tapi kamu tak boleh berputus asa begitu. Ingat bayi dalam kandungan kamu. Dia adalah penerus Handoko, suamimu, Ujar Ayah Handoko.
"Benar apa yang dikatakan oleh mertuamu, Nak. Kamu harus tetap sabar." Ibunya ikut menenangkan.
"Amran, siapkan segala sesuatu. Beri tahu Pengurus Masjid juga Syarikat Kematian. Agar mereka menyiapkan apa yang diperlukan."
Syarikat Kematian adalah orang-orang yang mengurus beberapa urusan seperti mencari penggali kubur, menyiapkan kain kafan dan keranda bagi anggotanya yang meninggal dunia.
Sedangkan Pengurus Masjid akan mengumumkan siapa pun yang meninggal dunia lewat pengeras suara dan menghimbau para warga untuk melayat ke rumah duka.
"Tunggu sebentar, Amran!" Seru Mumu yang langsung menghentikan langkah Amran yang sudah hampir mencapai pintu.
"Ada apa, Mumu?"
"Jangan pergi dulu."
Amran tak mengerti, "Kenapa?"
"Siapa dia, Amran?" Tanya Pak Saim, Ayah Amran.
"Maaf, Yah lupa ngenalkan. Dia Mumu, teman Amran. Dia tabib yang Amran undang ke sini untuk melihat kondisi Abang."
Saat menyebut Abang, tanpa sadar mata Amran kembali berkaca-kaca.
__ADS_1
Mumu tersenyum dan mengangguk ke arah Pak Saim, "Saya Mumu, Pak."
"Saya Saim, orang tua Handoko dan Amran. Apa maksudmu meminta Amran untuk menunggu? Saya yakin kamu pasti tahu perkara ini jika dilakukan semakin cepat akan semakin baik bagi almarhum. Jika ada hal yang mau kamu diskusikan bisa langsung sama saya saja." Ucap Pak Saim dengan wibawa. Ada sedikit nada ketidaksenangan di sana.
"Maaf, Pak, bukan maksud lancang atau ingin memperlambat suatu urusan, jika diizinkan boleh kah saya memeriksa Bang Handoko sekali lagi?"
"Untuk apa?" Tanya Pak Saim dengan curiga.
"Jangan dibiarkan dia menyentuh Bang Handoko, Yah! Dia hanya akan menyiksanya saja. Terakhir sebelum Bang Handoko meninggal, dia yang telah melakukan sesuatu di tubuh Bang Handoko." Tuduh wanita yang menjadi istri Handoko tersebut.
Entah sejak kapan dia sudah berdiri tak jauh dari Pak Saim.
"Benarkah seperti itu?" Pandangan Pak Saim sedikit menusuk. Dia menoleh ke arah Amran minta konfirmasi.
"Ceritanya tidak seperti itu, Yah. Memang Mumu berusaha untuk mengobati Abang sebelum dia meninggal tapi tentu saja dia tak bermaksud mencelakakan Abang."
"Dari mana kamu tahu dia tidak bermaksud seperti itu? Apa kah kamu kenal baik dengan dia sebelumnya?" Selidik Pak Saim tak percaya.
Amran sedikit tergagap. Dia memang belum mengenal Mumu terlalu lama. Lagi pula hubungan mereka selama ini bukan sebagai teman, tapi musuh.
Setelah mengenal Mumu dalam jangka waktu singkat ini ada satu hal yang dia yakini, Mumu adalah seorang pemuda yang luar biasa dan bisa dia percaya. Oleh karena itu Amran langsung berkata dengan nada yakin, "Dia teman baik aku, Yah dan aku percaya penuh terhadapnya.
Pak Saim menarik nafas sambil menoleh ke arah Mumu, " Untuk apa kamu ingin memeriksanya bukankah dia sudah...?!" Kata-kata Pak Saim tersangkut di tenggorokan, matanya berkilau dengan cahaya yang aneh, "Apakah maksudmu anakku belum meninggal?"
Mumu menganggukkan kepalanya.
"Mana mungkin?" Pak Saim dan orang-orang yang berada di ruangan itu sangsi. Mereka menatap Mumu dengan tatapan meremehkan.
"Kamu jangan mempermainkan hidup mati seseorang sesuka hatimu, Nak!" Ujar pria paruh baya berkumis tipis dengan nada menegur. Dia adalah Ayah kandung kakak ipar Amran. "Saya tak setuju kamu memberi harapan kosong terhadap putri saya." Tandasnya.
Menanggapi sikap orang-orang itu Mumu hanya tersenyum. Dia hanya mengharapkan persetujuan dari Pak Saim, Ayah Handoko.
"Saya merasakan masih ada getaran halus di sekitar jantungnya, jadi saya ingin memeriksanya untuk memastikan apakah hal itu benar adanya atau tidak."
Sebenarnya Mumu memang 'melihat' dan bukan hanya 'merasakan' bahwa masih ada detak yang sangat halus yang berasal dari jantung Handoko.
__ADS_1
Ini membuktikan bahwa Handoko belum sepenuhnya meninggal dunia walaupun kondisinya tidak jauh dari hal itu.
"Baiklah, kamu boleh memeriksanya!" Ujar Pak Saim yang membuat wajah besannya sedikit memerah karena marah.