TABIB KELANA

TABIB KELANA
52.


__ADS_3

Di sana mereka bertemu Jefri dan kedua temannya. Jefri adalah kakak kelas, dia kelas tiga sedangkan Rudi dan Haniah masih duduk di kelas dua.


Saat melihat Haniah yang cantik itu, Jefri dan kedua temannya sengaja datang mencoba merayu.


Tentu saja Haniah menjadi risih dan merasa terganggu.


Melihat kekasihnya coba dirayu oleh orang lain, di depan matanya pula lagi, akhirnya muncullah jiwa kepahlawanan Rudi. Selain itu dia juga ingin menunjukkan kepada Haniah bahwa dia adalah seorang pemuda yang macho, bertanggung jawab dan dapat diandalkan.


Dia langsung menegur Jefri dan teman-temannya.


Namanya anak muda, darah panas, pantang disenggol sedikit. Tak terima ditegur, akhirnya terjadilah percekcokan lalu dilanjutkan dengan perkelahian yang tidak seimbang, satu lawan tiga.


Ternyata Rudi punya kemampuan juga, nyatanya dia mampu menghadapi ketiga anak muda itu.


Apa lagi saat Haniah bersorak memberikan semangat untuknya, tenaganya menjadi lebih kuat, entah datang dari mana. Jangankan melawan ketiga anak muda ini, rasanya meratakan gunung pun dia bisa. Mungkin inilah yang dinamakan the power of love.


Jefri tentu saja tak senang melihat hasil yang tak sesuai yang dia bayangkan. Dia melihat ada sepotong kayu di tepi jalan, diambil kayu tersebut, saat ada kesempatan dia langsung memukul kedua kaki Rudi sekuat tenaga hingga Rudi jatuh terjerembab sambil melolong karena sakit.


Maka hilanglah sikap macho bak seorang pahlawan tadi, yang ada sekarang adalah dia berguling-guling di tanah, menjerit-jerit kesakitan.


Mendengar hal itu maka beberapa orang pun segera mendekati tempat tersebut.


Hanya tinggal Rudi dan Haniah yang panik tak tau mau berbuat apa.


Sedangkan Jefri dan teman-temannya sudah kabur dari tadi.


Oleh orang-orang yang baik hati itu, Rudi pun diantar pulang.


Bidan desa dan tukang urut pun dipanggil untuk mengobati kedua kakinya.


Bidan desa menganjurkan untuk segera di bawa ke rumah sakit, tapi Rudi tak mau, alasannya jauh mau ke kota Selatpanjang.


Seminggu pertama Haniah masih sering mengunjunginya, sehari sekali.


Haniah bagaikan istri yang solehah, sangat perhatian dengan Rudi.


Hal ini membuat mata Rudi berbinar-binar penuh kebahagiaan sehingga dia melupakan rasa sakitnya.


Ceritanya menjadi berbeda saat memasuki minggu kedua sejak Rudi sakit. Haniah tiba-tiba tak pernah lagi datang menjenguknya. Rudi mencoba menelpon tak dijawab. Rudi kirim pesan tapi hanya sekedar dibaca saja.


Rudi mecoba berbaik sangka, mungkin Haniah sedang sibuk.

__ADS_1


Suatu hari kakaknya yang bernama Amelia datang membawa kabar yang tidak mengenakkan untuk didengar.


Katanya, dia melihat Haniah berbonjengan dengan Jefri ketika pulang sekolah. Rudi tak percaya, malah dia memarahi kakaknya yang mencoba memfitnah kekasihnya.


Rudi kembali menelpon Haniah, ternyata tak bisa, pesan pun tak masuk, ternyata nomornya telah diblokir.


Hati Rudi tak tenang, apa lagi saat Amelia mengirim video tentang kedekatan Haniah dan Jefri, mata Rudi berkaca-kaca. Nafasnya memburu dan tangannya dikepal sekencang-kencangnya. Dia sangat marah sekaligus menertawakan keb*dohannya selama ini.


Ternyata tidak ada yang namanya cinta sejati. Yang ada adalah cinta bisa berpindah ke lain hati berdasarkan keadaan dan kondisi.


Bertahun-tahun Rudi terpuruk karena penyesalan itu. Apa lagi mengingat kondisi kedua kakinya yang sekarang menjadi lumpuh total, tak bisa digerakkan sama sekali.


Sudah dua tahun berlalu desah Rudi sambil cepat-cepat mengusap air matanya yang entah kapan sudah keluar dan menetes di pipinya yang kurus itu.


Hari masih pagi, Rudi menggerakkan kursi rodanya di depan rumah, dia ingin menghirup udara segar sambil berjemur dengan sinar matahari pagi.


Handphonenya berdering. Kakaknya yang nelpon.


"Ada apa, Kak.." Tanya Rudi tak bersemangat seperti mana biasanya.


"Mau nitip apa? Kakak sebentar lagi pulang."


"Mengapa kakak pulang hari ini, bukankah kakak kuliah?" Walaupun nampak tak peduli dengan keadaan sekitar, tapi Rudi tahu bahwa seharusnya kakaknya hari ini masuk kuliah, kenapa tiba-tiba mau pulang kampung. Biasanya kan seminggu sekali baru dia pulang.


"Sok tahu saja. Cepat mau nitip apa? Kakak terburu-buru nih."


"Terserah kakak saja. Aku tak ingin apa-apa untuk saat ini." Rudi menutup telponnya.


Dia mendesah. Hanya dia yang tak kuliah karena tidak tamat sekolah. Dia berhenti sekolah semenjak kejadian itu.


Sedangkan teman-teman seangkatannya semuanya kuliah, ada yang kuliah di kota Selatpanjang, ada juga yang kuliah di Pekanbaru.


Termasuk mantan pacarnya, Haniah juga kuliah di Pekanbaru mengikuti jejak pacarnya Jefri. Rudi tersenyum sinis memikirkan ironis hidup ini.


Lepas zuhur kakaknya, Amelia tiba di rumah. Dia tidak sendiri. Dia membawa seorang pemuda bersamanya.


Mata Rudi sampai terbelalak tak percaya menatapnya.


Kakaknya yang memutuskan menggunakan jilbab besar sejak kuliah dan memproklamirkan dirinya anti pacaran sebelum menikah, tak ada angin tak ada ribut tiba-tiba membawa seorang pemuda ke rumahnya. Walaupun mereka membawa motor masing-masing, tapi tetap saja kan mereka datang berdua. Apa yang sebenarnya telah terjadi?


Rudi memikirkan berbagai kejadian terburuk di kepalanya mengenai kehidupan kakaknya di kota.

__ADS_1


Ternyata sekelas kota kecil seperti Selatpanjang bisa mempengaruhi kakaknya hingga separah itu. Rudi menggeleng-geleng kepalanya tanpa sadar.


"Assalamu'alaikum..." Ucap Amelia. Tapi suaranya sepertinya tidak sampai ke telinga Rudi.


"Hei, malah bengong? Orang ngucap salam bukannya dijawab." Suara Amelia membuyarkan berbagai pemikiran yang melintas di kepalanya.


"Eh..iya, Kak..wa'alaikum salam..."


Tapi di hatinya Rudi membatin, 'Mengapalah kakaknya masih sok-soan mengucapkan salam segala. Kan sudah jelas bagaimana kehidupan kakaknya di kota.'


"Masih saja bengong, Bapak sama Emak di mana, Dik? Oh ya kenalkan ini, Mumu."


Pemuda itu mengulurkan tangannya dan berucap sambil tersenyum, "Saya Mumu."


"Rudi." Mereka berjabat tangan.


"Bapak ke ladang, Emak ada di dapur, Kak." Ucap Rudi sambil menoleh ke arah kakaknya.


"Silahkan duduk dulu, Mumu. Saya ke belakang dulu." Kata Amelia sambil berlalu pergi.


"Baik, Kak."


'Kakak' Pikiran Rudi kembali melayang-layang entah ke mana. Dia menatap pemuda yang duduk di hadapannya berusaha menilai dan mencocokkan dengan imajinasi yang ada dalam kepalanya.


Tapi semakin dia lihat semakin tidak cocok.


Pemuda di hadapannya ini, tidak terlalu ganteng tapi mata terasa nyaman saat memandangnya.


Tubuhnya walaupun tidak terlalu tegap, tapi tampak kuat. Siapa sebenarnya pemuda ini dan apa hubungannya dengan kak Amel?


"Ada apa, Bang. Melihatnya serius sekali. Apa ada masalah dengan penampilan saya?" Tanya Mumu dengan senyum dikulum.


Wajah Rudi memerah karena jengah. "Eh..tidak apa-apa, Bang. Cuma penasaran saja. Sudah lama kenal sama Kak Amel, Bang?"


"Baru semalam."


"Semalam?" Tanya Rudi heran.


"Iya, semalam Kak Amelia menelpon meminta saya untuk bisa ikut bersamanya datang ke sini."


'Baru semalam kenal dan langsung di bawa ke rumah. Ada apa sebenarnya dengan pikiran Kak Amel? Apakah Kak Amel telah diguna-guna oleh Mumu.

__ADS_1


"Apakah kamu serius dengan Kak Amel? Apa tidak terlalu cepat untuk membina sebuah hubungan? Bagaimana pun juga kakak saya masih kuliah. Masih butuh waktu yang lama untuk menyelesaikannya. Orang tua kami jelas tidak akan setuju jika Kak Amel harus putus kuliah di pertengahan jalan."


"Maksud, Abang apa?" Tanya Mumu tak paham.


__ADS_2