
"Dia pengantin dua hari yang lalu."
"Kalau itu aku juga tahu, Juf....Berita basi." Jawab Mumu sambil tersenyum.
"Laa...itu dia masalahnya, Mumu." Jufri menghabiskan sisa kopinya yang terakhir lalu berkata, "Pengantin prianya lari..."
"Ack..." Mumu yang sedang menghirup kopinya langsung tersedak saat mendengar ucapan Jufri. Bahkan sebagian air kopinya keluar melalui hidung. Sehingga Mumu segera berbangkis untuk mengeluarkan sisa air kopi di hidungnya.
"Kenapa kamu, Mumu?" Tanya Jufri dengan kaget. Dia bahkan sampai berdiri dari kursinya. Sedangkan pelanggan lain mandang ke arah mereka sejenak lalu kembali pada urusan mereka masing-masing.
Mumu hanya bisa memberi isyarat kepada Jufri bahwa ia tidak apa-apa.
Memang berita yang disampaikan oleh Jufri sungguh luar biasa. Sehingga membuat Mumu terkejut dibuatnya.
Rupanya calon pengantin pria telah kepincut sama ja*da anak dua dari kecamatan seberang. Awalnya mereka kenal lewat salah satu media sosial. Semakin hari hubungan mereka semakin akrab. Karena merasa cocok, saling mengerti dan saling peduli antara satu sama lain, akhirnya jadilah hubungan mereka ke arah yang lebih serius. Pada puncaknya, sebagai salah satu tanda kesucian cinta mereka, akhirnya si pria rela memutuskan ikatan pernikahan dengan Marni dan memilih pergi dengan ja*da tersebut.
Mumu termangu-mangu mendengar berita yang disampaikan oleh Jufri.
Ia sebagai orang luar, hanya sebagai penikmat berita sehingga tidak menyalahkan atau membenarkan pihak mana pun.
Malah yang ada di pikiran Mumu saat ini adalah, apakah ikatan cinta antara sesama memang serapuh itu?
Bukankah sebuah rumah tangga itu ibarat biduk yang berlayar di lautan luas.
Akan ada gelombang, angin badai besar mau pun kecil yang akan membuat biduk terombang ambing. Jika memang cinta mereka memang suci, saling mencintai dan saling percaya bahu membahu, akan selamatlah biduknya mengaruhi lautan yang tak bertepi tersebut.
Tapi dalam kasus Marni, mereka baru saja ingin membangun sebuah biduk, belum sempat jadi, belum sempat berlayar, tapi sudah karam duluan.
Apalah memang serapuh itu?
Mumu pernah mendengar cerita Ibunda Siti Khadijah, istri pertama Rasulallah. Saking cintanya kepada Nabi, menjelang wafatnya, Siti Khadijah pernah berkata kepada Rasulallah, bahwa seandainya suatu saat nanti dalam perjuangan dakwah beliau, Rasulallah berjumpa dengan sebuah sungai tapi tak ada jembatan yang bisa digunakan sebagai alat untuk menyeberang, maka Siti Khadijah rela tulang belulangnya digunakan oleh Rasulallah agar bisa menyeberang.
"Jadi apa tanggapan orang tua Marni atas kejadian itu, Juf? Peristiwa ini sama saja dengan mencoreng wajah mereka." Setahu Mumu, Pak Safuan adalah orang yang sangat menjaga imejnya.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Mumu, Jufri yang termasuk orang yang pendiam itu seketika tertawa terbahak-bahak saat mengenang kejadian saat itu.
"Kalau kamu melihat bagaimana reaksi orang tua itu saat itu, mungkin kamu akan tertawa hingga terkencing-kencing."
"Mengapa begitu?"
"Orang tua itu mengamuk sejadi-jadinya. Dia memporak-poranda semua barang yang berada di dekatnya. Yang anehnya, setelah itu dia meminta ganti rugi kepada calon besannya atas semua kerusakan itu."
Sedang asik mendengar cerita Jufri, tiba-tiba handphone Mumu berbunyi.
Saat melihat pesan tersebut, wajah Mumu sedikit berubah. Setelah itu ia pun pamit dengan Jufri dan segera pergi dengan tergesa-gesa.
...****************...
"Niken, aku tak bisa menerimanya. Aku hanya menganggap kamu sebagai seorang adik, tak lebih dari pada itu. Aku sama sekali tak mempunyai perasaan seperti itu terhadap mu. Tolong mengertilah! Aku mohon."
Seorang pria ganteng dengan alis mata tebal sedang berusaha memujuk seorang gadis yang sedang menangis sesunggukan di bahunya.
Saat ini mereka sedang berada di salah satu rumah makan yang terkenal di kota Selatpanjang.
Sedangkan gadis manis yang menangis di bahunya juga seorang mahasisiwi semester tujuh.
Bedanya mereka beda tempat kuliah. Agus Deka kuliah di Pekanbaru sedangkan Niken kuliah di Selatpanjang.
Mereka berdua bertetangga. Dari kecil mereka sering bermain bersama, sekolah bersama dan berpetualang bersama.
Walaupun sejak kuliah mereka terpisah oleh jarak dan waktu, tapi mereka tetap berhubungan satu sama lain. Mereka sering berkomunikasi. Saling bertanya kabar masing-masing dan saling bercerita kegiatan masing-masing.
Dua hari yang lalu, Agus Deka harus pulang ke kota Selatpanjang karena atuknya, orang tua dari ayahnya sakit kuat sehingga semua sanak saudaranya diminta untuk berkumpul di rumah beliau yang terletak di jalan Banglas tak jauh dari kantor desa. Sehingga tiap malam mereka semua menginap di sana.
Tadi Agus Deka baru saja pulang ke rumahnya bermaksud ingin istirahat setelah semalaman berjaga di rumah atuknya saat Niken menelponnya supaya datang ke salah satu rumah makan. Ada hal mustahak yang ingin dia bicarakan.
Awalnya Agus Deka ingin menolaknya, tapi setelah dipikir-pikir, dia sudah lama tidak bersua dengan Niken sehingga Agus Deka menyempatkan diri untuk menyapa Niken.
__ADS_1
Mengenai hal mustahak yang ingin Niken bicarakan, Agus Deka tak terlalu memikirkannya.
Begitu sampai di rumah makan, Agus Deka langsung naik ke atas, tingkat dua. Tak banyak yang sedang makan di sini.
Hanya ada tiga meja yang terisi.
Agus Deka berjalan di meja paling sudut di dekat jendela, Niken sedang duduk seorang diri.
Menggunakan baju dress berlengan pendek yang bagian atasnya berwarna hitam bintik-bintik putih sedangkan bagian bawahnya berwarna hijau tua.
Dia terlihat sangat anggun.
Saat melihat Agus Deka dia langsung tersenyum manis dan berkata, "Sini, Bang Agus. Duduk sini." Walaupun umur mereka sebaya tapi Niken sudah terbiasa memanggil Agus Deka dengan sebutan Abang.
"Sudah lama, Niken? Kenapa belum kamu belum memesan makanan dan minuman?"
Agus Deka duduk berhadapan dengan Niken.
Niken tersenyum manis, "Tentu saja nunggu Bang Agus. Abang mau pesan apa?"
"Disamakan saja dengan pesanan kamu, Niken." Setelah itu Niken segera memesan pesanan mereka.
Sambil menunggu pesanan itulah Agus Deka dikejutkan oleh pengakuan Niken. Bahwa dia sangat mencintai Agus Deka dan ingin melanjutkan hubungan mereka hingga ke jenjang pernikahan.
Sesaat Agus Deka tergagap, tak tahu mau mengatakan apa.
Hingga akhirnya dia mengatakan yang sebenarnya, bahwa dia tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadap Niken selain perasaan Abang terhadap Adiknya.
Niken hanya bisa menatap mata Agus Deka seolah-olah ingin melihat kebenaran di sebalik mata itu.
Dia tidak mengatakan apa-apa lagi selain menangis sesunggukan.
Awalnya Agus Deka menganggap kejadian di rumah makan itu tidak terlalu serius dan sudah selesai sehingga dia tidak memikirkannya lagi.
__ADS_1
Hingga sore tadi dia mendapat kabar bahwa Niken masuk ke RSUD gara-gara menenggak ra*un sehingga masih dalam kondisi kritis.