
Mumu yakin, selama ia terus menapak di jalan pengobatan ini, maka tantangan dan resiko di masa mendatang akan lebih berat dan lebih berbahaya.
Bagai mana ia mampu menghadapi resiko yang lebih besar jika tidak dimulai dengan yang lebih kecil terlebih dahulu.
Sedangkan menuntut ilmu di sekolah-sekolah pun ada kelas-kelas, mulai dari kelas satu hingga kelas yang lebih tinggi.
Bagaimana mungkin bisa langsung naik kelas jika tak mampu menyelesaikan ujian yang telah diberikan?
Mumu menghela nafas. Kali ini nafasnya terasa lebih ringan.
Mumu segera bangkit dan keluar dari kamar. Saat ia kembali ke ruang tamu, hanya ada Tuo Udin bertiga dengan Nenek Kam dan Pak Lukman, sedangkan Buk Juwita dan Siti Aisyah tidak kelihatan, mungkin mereka sedang memasak mengingat hari sudah semakin sore.
"Maaf karena telah menunggu lama, Tuk, Nek, Pak Lukman." Mumu berkata dengan nada minta maaf. Lalu ia duduk di salah satu kursi kosong yang ada di sana.
"Jangan terlalu banyak memakai peradatan, Mumu, biasa saja, anggap saja kita sesama kerabat sendiri." Ucap Tuk Udin dengan santai.
Dia sudah menebak hasil yang terburuk, tapi karena dia telah memutuskan untuk tetap menjalin hubungan baik dengan Mumu sehingga dia tidak terlalu peduli lagi dengan keputusan Mumu, asalkan hubungan mereka tetap baik-baik saja, itu sudah cukup baginya.
Mumu tentu saja menyadari bahwa suasana hati Tuk Udin dalam keadaan baik walau pun ia tidak bisa menebak apa penyebabnya.
"Begini, Tuk, seperti yang Atuk bilang tadi dan juga penilaian sekilas saya, memang penyakit yang ada pada diri Siti Aisyah tidak wajar, artinya memang akibat perbuatan seseorang. Atuk, Nenek dan Pak Lukman tentunya menyadari bahwa orang yang telah membuat Siti Aisyah menjadi seperti sekarang ini pasti tidak akan berhenti selama mangsanya tidak menderita sesuai keinginan mereka.
Mereka pasti terus memantau mangsa mereka dari sebalik kegelapan dan mereka pasti akan segera tahu jika ada seseorang yang berusaha mengobati mangsa mereka.
Selain akan terus menyerang mangsanya, saya yakin mereka juga akan menyerang orang yang telah berani menggagalkan aksi mereka."
__ADS_1
"Ya,...ya...apa yang kamu katakan memang benar, kami tidak menafikan hal tersebut, bahkan kami juga menyadari kesulitan yang kamu alami. Jika Atuk berada di posisimu, Atuk juga tak bisa membuat keputusan yang bijak. Oleh sebab itulah kami sudah bermufakat bahwa kami tidak ingin memaksamu. Kesembuhan Siti Aisyah memang penting tapi keselamatanmu juga...." Kata-kata Tuk Udin terhenti saat melihat Mumu tersenyum lembut sambil menggelengkan kepalanya.
"Bukan itu maksud saya, Tuk. Insya Allah saya siap membantu mengobati Siti Aisyah tapi saya memerlukan bantuan dari Atuk atau pun Nenek Kam..."
"Benarkah?" Mata Tuk Udin berbinar gembira. Bahkan Nenek Kam dan Pak Lukman pun menegak kan tubuh mereka dan melihat Mumu dengan pandangan yang berbeda.
"Bantuan apa yang kamu inginkan, Mumu? Jika ini menyangkut imbalan, kamu tinggal bilang saja berapa jumlahnya, kami akan mengusahakan sekuat tenaga untuk memenuhinya." Ucap Tuk Udin dengan semangat.
"Jika tujuan saya mengobati orang-orang karena mengharapkan imbalan, mungkin sudah dari dulu saya menjadi kaya raya, Tuk." Ujar Mumu sambil tersenyum.
Mumu memang tidak sedang menyombongkan diri. Jika orientasinya hanya pada imbalan, berapa banyak ia telah mengobati pasien kaya yang mengidap penyakit aneh-aneh hingga mereka putus asa karena pengakitnya tidak ada harapan untuk sembuh.
Dengan perantaraan Mumu, ia bisa menyembuhkan penyakit mereka. Mumu ibarat air di lautan pasir, di saat orang hampir mati karena kehausan, mereka disuguhkan air yang dingin oleh Mumu.
Jika ia mau, ia bisa menukarkan air tersebut dengan apa pun yang orang-orang itu miliki.
Mata ketiga orang itu terbelalak, tanpa sadar Tuk Udin dan Nenek Kam saling pandang. Walau pun Mumu tidak mengatakan secara langsung bahwa dia mempunyai ilmu pengobatan yang tidak biasa, tapi daru pernyataannya barusan mereka bisa menarik kesumpulan bahwa Mumu memang mempunyai kemampuan tersebut dan telah banyak membantu mengobati orang-orang yang memerlukan bantuannya dan berhasil.
Hal ini tentunya menambah keyakinan pada mereka bertiga bahwa Siti Aisyah bisa disembuhkan.
"He he maafkan Atuk yang bicara tanpa berpikir, Mumu. Lalu apa yang kamu inginkan?" Tuk Udin tertawa malu. Dia menatap Mumu dengan penasaran.
"Bisa kah Atuk atau Nenek Kam melindungiku saat melakukan pengobatan nanti dan membentengi Siti Aiyah segera setelah selesai diobati?" Mumu menatap keduanya dengan serius.
"Karena saya merasa jika sudah diobati tapi Siti Aisyah tidak segera dibentengi maka penyakit tersebut akan masuk lagi ke tubuhnya dan bertambah parah. Jika hal itu sampai terjadi akan mengancam jiwanya."
__ADS_1
Saat mendengar hal itu Pak Lukman menjadi pucat, dia segera memandang Tuk Udin dan Nenek Kam dengan penuh harap.
"Bagaimana, Pak? Jika benar apa yang dikatakan Mumu, apa jadinya dengan nasib Aisy?"
Tuk Udin menepuk pundak anaknya dan berkata, "Kamu tak perlu cemas akan hal itu. Kamu serahkan saja kepada kami berdua." Lalu dia menoleh ke arah Mumu dan berkata, "Kamu bisa yakin, Mumu, kamu hanya fokus saja pada pengobatan mu, hal-hal lain serahkan kepada kami."
Tuk Udin menerawang.
"Dulu memang salah kami. Kami lalai mengantisipasi. Ibarat maling sudah masuk ke rumah karena pintu tidak terkunci pada hal kami punya kunci tersebut.
Mau mengunci tapi sudah terlambat. Mau mengusir maling tapi kami tak punya kemampuan, jadi kami hanya bisa menunggu tanpa tahu sampai kapan kami harus menunggu."
Karena sudah hampir maghrib, Mumu kembali masuk ke kamarnya.
Saat makan malam mereka kembali berkumpul di meja makan, tak banyak yang mereka bicarakan sehingga acara makan malam pun berlangsung dengan khidmat.
Setelah Isya, sesuai permintaan Mumu, Siti Aisyah disuruh berbaring menghadap kasur, Pak Lukman dan istrinya duduk dengan gelisah di samping anaknya.
Sedangkan Tuk Udin dan Nenek Kam bersiaga sambil duduk bersila di sudut yang berbeda.
Saat Mumu mengeluarkan seperangkat jarum akupuntur, mata semua orang terbelalak heran. Mereka tak menyangka jika Mumu akan mengobati dengan menggunakan jarum akupuntur.
Dahi Pak Lukman mengernyit, 'bukankah pengobatan seperti ini hanya dipraktekkan oleh para ahli dari Tiongkok?'
Awalnya Mumu berencana ingin mencabut benda-benda yang di tanam di sekitar rumah Pak Lukman baru ia akan memulai proses pengobatan.
__ADS_1
Tapi ia membatalkan rencananya karena jika hal itu dilakukan maka dikhawatirkan orang yang berada di kegelapan akan mengetahuinya dan akan lebih waspada saat Mumu memulai proses pengobatan.
Mumu kembali memindai tubuh Siti Aisyah dengan kekuatan spiritualnya tapi karena kekuatannya tidak berbentuk dan tidak berwarna sehingga baik Tuk Udin mau pun Nenek Kam tidak bisa mendeteksinya.