TABIB KELANA

TABIB KELANA
Taruhan


__ADS_3

"Pak, kita tak bisa meremehkan seseorang hanya karena dia tidak mempunyai latar belakang pendidikan yang tinggi. Saya akui dia memang hanya tamatan SMA, tapi saya yakin seyakin yakinnya, ilmu pengobatan racunnya tidak ada yang bisa menandingi. Saya sudah menyelidiki pasien yang telah dia sembuhkan, Pak. Yang pertama pasiennya dalam keadaan koma, yang mana pihak kita sudah angkat tangan untuk merawatnya, setelah dia turun tangan akhirnya pasien tersebut bisa sembuh dan sehat kembali. Yang satu lagi juga mengalami keracunan tapi menolak dirawat di RSUD kita, belakangan ini kita tahu ternyata pasien tersebut juga sembuh setelah diobati oleh beliau. Ini memang karena keahliannya jadi bukan karena keberuntungan semata-mata, Pak. Saya pikir, jika dia bisa kita tarik ke sini, maka akan menguntungkan RSUD kita juga, makanya saya telah membuat keputusan mendadak tanpa sempat mengadakan rapat dewan direksi agar bisa merekrutnya dengan cepat, jika tidak saya takut kita akan terlambat."drg. Saloka walau pun tampak lesu, tapi pandangannya menjadi berapi-api saat dia menjelaskan kepada dua orang pria di hadapnnya tersebut.


"Tapi kamu telah membuat laporan keuangan kita menjadi kacau, bagai mana kamu menjelaskan hal tersebut?" Laki-laki berpakaian parlente menatap sinis.


"Jika Bapak memahami laporan keuangan seharusnya Bapak paham bahwa saya melakukan sesuatu tidak lari RKA, selain itu juga memang ada anggaran untuk dokter spesialis, dari mana pula Bapak menyimpulkan bahwa saya telah membuat laporan keuangan kita menjadi kacau? Walau pun pengeluaran bulanan menjadi sedikit lebih besar tapi tidak sampai menyalahi aturan. Di RKA itu jelas semua." drg. Saloka melihat laki-laki itu tak mau kalah.


"Sudah-sudah! Jangan kalian bertengkar lagi." Seorang wanita berusia lima puluhan tahun yang memakai gamis berusaha melerai mereka. Dia adalah salah satu dewan direksi yang senior di sini. "Karena drg. Saloka sudah membuat keputusan dan SK pun sudah keluar walau pun tanpa keputusan bersama dewan direksi maka kita ikuti saja. Tapi jika sampai satu semester ternyata tidak ada kontribusi apa-apa dari orang yang direkrut oleh drg. Saloka maka kita perlu meninjau ulang atas keputusan drg. Saloka tersebut. Bukan hanya status orang yang direkrut tapi jabatan drg. Saloka pun menjadi taruhannya. Bagaimana menurut kalian semua?"


Beberapa peserta rapat tampak mengangguk setuju kemudian pandangan mereka beralih ke arah drg. Saloka, orang yang terancam jabatannya.


Drg. Saloka hanya mendengus dingin, dia tahu beberapa dewan direksi memang tak menyukainya karena dia telah menetapkan aturan tanpa pandang bulu, sehingga ada beberapa staf yang bekerja di sini atas rekomendasi para dewan direksi tersebut pun ikut terkena imbasnya jika tidak mengikuti aturan sehingga beberapa dewan direksi ikut merasa tersentil, seolah-olah aturan drg. Saloka telah menampar wajah mereka.


"Jangankan jabatan saya sebagai direktur RSUD yang pertaruhkan, bahkan saya siap dipindahkan ke pelosok-pelosok desa jika memang orang yang saya rekrut itu tidak memberikan kontribusi apa-apa. Tapi...." Pandangan drg. Saloka menyapu peserta yang hadir, dan pandangannya berhenti agak lama saat menatap pria gemuk dan pria yang memakai baju parlente tersebut, "Jika keputusan saya benar maka para dewan direksi yang terhormat, kalian juga harus dievaluasi kinerjanya karena telah berusaha untuk menghambat kemajuan RSUD kita ini."

__ADS_1


"Jangan lancang kamu Pak Dokter!" Pria gemuk itu menampar meja dan menatap dengan bengis ke arah drg. Saloka. Tapi drg. Saloka tidak berusaha untuk melawannya. Misinya sudah dilaksanakan, apa yang ingin disampaikan sudah dia sampaikan sehingga dia tak perlu repot-repot untuk menanggapi pria gemuk yang seperti kebakaran jenggot tersebut.


Dalam pada itu saat pria gemuk itu ingin melabrak drg. Saloka lagi, handphonenya tiba-tiba berdering. Dia langsung mengangkatnya. Tak lama kemudian wajahnya tiba-tiba berubah panik.


"Penyakit istri Pak ketua DPRD kumat lagi, saya perlu menjenguknya ke sana. Drg. Saloka tolong perintahkan beberapa dokter spesialis penyakit dalam agar mereka bekerja sama merawat pasien tersebut dengan segera. Saya pamit dulu." Pria gemuk itu langsung pergi dengan tergesa-gesa diikuti oleh yang lain. Hanya tinggal drg. Saloka dan wanita paruh baya yang masih duduk di ruangan tersebut.


Wanita paruh baya itu menatap drg. Saloka dan berkata, "Aku tahu maksud kamu baik, tapi kamu tidak bisa terlalu keras terhadap mereka. Mereka tak akan senang. Kadang kala kita lebih mudah untuk menyetujui kesalahan yang terorganisir dengan baik dari pada aturan yang akan merugikan sebagian orang yang mempunyai kedudukan. Ibarat menegakkan benang yang basah, kamu perlu keberanian, ketekunan dan kesabaran untuk melakukan itu semua. Aku harap kamu paham."


"Saya paham, Buk. Terima kasih atas nasehatnya." drg. Saloka sangat menghormati sosok wanita paruh baya di hadapannya ini.


Ibarat sapu lidi, jika hanya sebatang akan mudah patah, mau tak mau, sesekali harus mengikuti arah lenturnya agar tidak cepat patah.


Begitu juga dengan sosok di depannya ini. Walau pun dia berusaha untuk netral, sesekali dia terpaksa mundur selangkah agar bisa maju dua hingga tiga langkah.

__ADS_1


"Oh ya, coba kamu ceritakan dengan sosok orang yang kamu rekrut dengan detail. Aku rasa masih banyak hal tentang dia yang kamu ceritakan."


Drg. Saloka menegakkan punggungnya dan mulai menceritakan kisah Mumu sejak mis komunikasi antara Mumu dan petugas keamanan hingga dia langsung mengajak Mumu bertemu di kedai kopi Jumbo.


Semuanya diceritakan oleh drg. Saloka sedetil mungkin.


Lama wanita paruh baya itu merenung apa yang telah diceritakan oleh drg. Saloka.


Jika dia tidak mengenal drg. Saloka dengan baik, maka dia akan menyangka drg. Saloka sedang menceritakan dongeng pengantar tidur kepadanya karena cerita yang disampaikan agak terlalu berlebihan menurutnya sehingga dia sulit menerima jika bukan drg. Saloka yang menceritakan itu semua.


Lalu wanita paruh baya itu menarik nafas dalam-dalam dan berkata, "Mengapa tidak kamu ceritakan kepada mereka semua biar mereka tidak akan memojokkan mu sedemikian rupa?"


Drg. Saloka menggelengkan kepalanya dengan pelan dan berkata, "Sebenarnya Mumu tak ingin ada orang terlalu banyak tahu tentang dirinya. Bahkan dia meminta agar jati dirinya tetap dirahasiakan saat dia mengobati orang di RSUD nanti."

__ADS_1


"Berapa sih umurnya? Apa kamu yakin dia masih muda? Tak mungkin kan ada anak muda yang tak mau dirinya menjadi terkenal? Yang ada sekarang banyak anak-anak muda yang ingin viral sehingga membuat aktivitas-aktivitas yang bahkan meresahkan masyarakat?"


__ADS_2