TABIB KELANA

TABIB KELANA
44.


__ADS_3

"Ha ha, apa kabar, Pek? Makin tambah muda saja kamu, Pek!" Mumu memasuki toko sambil tertawa.


Hou Shi mendengus. "Ternyata kamu orang anak muda. Anak-anak muda zaman sekarang tak lagi menghormati itu orang yang lebih tua. Orang lagi terkena musibah dia ketawa-ketawa saja." Sungutnya sambil berusaha berdiri.


Mumu menolong Hou Shi berdiri sambil menotok di beberapa bagian pinggang dan punggungnya.


Pria tua itu terbelalak, dia memandang Mumu dengan takjub, "Ilmu pengobatan kamu dari hari ke hari semakin lihai saja. Aku punya terkilir di punggung langsung sembuh. Luar biasa...anak muda yang luar biasa."


Mumu hanya tersenyum melihat tingkah pria tua itu.


Hou Shi mengambil kursi lalu duduk sambil berkata, "Sini duduk anak muda. Apa yang kamu ingin cari tiba-tiba kamu datang lagi ke sini?" Mumu segera duduk berhadapan dengan Hou Shi.


"Tak ada, Pek. Aku kebetulan saja ke pasar jadi sengaja mampir ke sini."


Mereka terus berbincang sekira lima belas menit. Setelah itu Mumu pun pamit.


Sepanjang pembicaraan Hou Shi tak pernah membahas tentang dia yang dipukuli oleh preman karena belum bayar uang keamanan.


Mumu pun tak bertanya dan tidak berusaha untuk menawarkan bantuan. Mumu juga tidak memberi uang kepada pria tua itu karena ia paham dengan sifat Hou Shi. Dia pasti akan menolak dengan tegas jika Mumu menawarkan bantuan.


Lagi pula Mumu sudah mempunyai rencana sendiri.


Sebenarnya tadi ia melihat seluruh peristiwa yang terjadi di toko tapi sengaja tidak ikut campur.


Jika tadi ia membantu maka dendam preman itu pasti dialihkan kepada Hou Shi. Mumu jamin Hou Shi dan tokonya kemungkinan akan terus menjadi target balas dendam para berandalan itu.


Mumu sudah bisa mengira-ngira arah pria sangar dan rombongannya pergi sehingga Mumu langsung menuju ke sana.


Saat ini di kedai kopi di sebuah meja yang menghadap ke laut gerombolan preman tengik itu sedang ngopi sambil tertawa bahagia. Di sini pandangan lebih indah. Sambil dibelai oleh angin yang bertiup fari laut, pelanggan juga disuguhi dengan pemandangan berupa kapal-kapal yang mengangkut barang, kapal tongkang dan juga kempang yang berlalu membawa penumpang dari seberang pulau. Saat ini hanya ada mereka. Sedangkan pelanggan lain memenuhi ruangan yang menghadap ke jalan. Mungkin telah diusir oleh para preman itu.


"Ha ha kalau mau banyak duit harus berani. Sekarang geng kita yang menguasai pasar Juling ini, jadi kita bertindak semau kita." Ujar pria sangar itu sambil menghitung uang perolehan hari ini.

__ADS_1


"Tapi, bang kalau kita terlalu membuat keributan, aku takut pihak yang berwajib menangkap kita."


Mendengar kebimbangan anak buahnya, pria sangar itu hanya tersenyum tipis. Dia sudah selesai memilah pendapatan hari ini yang akan diserahkan kepada ketua dan sebagian lagi menjadi jatah dia dan anak buahnya.


"Kita hanya bekerja. Membuat beberapa orang cedera atau patah tulang tak jadi masalah sekedar untuk memberi pelajaran bagi orang-orang supaya lebih taat kepada kita. Asalkan kita tidak membunuh.


Perkara lain tak perlu kita pikirkan. Semuanya sudah diatur ketua. Jadi kamu tak perlu khawatir," Ujar pria sangar sambil menepuk bahu anak buahnya yang tampak bimbang itu.


Tiba-tiba salah seorang anak buahnya berteriak, Bang, ada cicak di munuman mu!"


"Mana? Mana? Bang*at betul!"


Mata mereka jelajatan. Marah. Geram.


"Itu di meja."


"Bunuh...bunuh...dia lari di bawah meja...."


Sebelum para preman itu menyadari apa yang terjadi, Mumu sudah pergi dari sana.


Para preman itu tidak mempunyai tenaga dalam. Mereka hanya mengandalkan tenaga kasar untuk menggertak orang-orang.


Mumu telah menekan saraf di sumsum tulang belakang mereka yang berfungsi sebagai penerima sinyal dari otak dan mengalirkan ke bagian tubuh yang berhubungan dengan tenaga fisik, sehingga mereka semua tidak bisa lagi menggunakan tenaga fisik mereka untuk menggertak dan menganiaya orang-orang.


...****************...


Kota Siak merupakan salah satu kota kabupaten yang ada di propinsi Riau.


Pada zaman dahulu, Siak merupakan sebuah kerajaan Melayu Riau.


Jika ditanya sungai apakah yang terdalam di wilayah Indonesia? Orang-orang pasti menjawab sungai siak. Sungai ini mempunyai kedalaman 30 meter.

__ADS_1


Banyak sejarah yang berkaitan dengan kota siak dan sungai siak ini.


Pernah dahulu kala seorang preman yang mempunyai berbagai ilmu kesaktian, ilmu kebal dan ilmu pengasihan atau pelet menjelang akhir masa hidupnya merasa tak nyaman dengan ilmu tersebut dan ingin membuangnya tapi tak bisa karena ilmu tersebut sudah melekat di tubuhnya, sudah mendarah daging.


Atas saran seorang ulama, maka berangkatlah preman taubat itu ke sungai siak untuk membuang ilmunya. Ketika sampai di bibir sungai dia langsung mencelupkan kedua tangannya ke sungai itu. Ajaib! Seketika itu jua ilmunya langsung lenyap.


Tak jauh dari jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah, jembatan yang menjadi urat nadi kabupaten siak yang menghubungkan kota siak bagian utara dan bagian selatan, Siti Aisyah sedang duduk termenung di balkon, kalau di siak biasa disebut langkan rumahnya.


Dari atas sini dia bisa melihat pemandangan kota siak dengan sudut pandang yang berbeda.


Siti Aisyah berumur dua puluh tahun pada tahun ini. Dia adalah seorang gadis yang cantik dan periang dari pasangan suami istri yang berprofesi sebagai pegawai negeri kota siak.


Ayahnya guru bahasa inggris di salah satu SMP sedangkan ibunya menjadi wali kelas di SD.


Pada awalnya keluarga kecil mereka hidup dalam kebahagian hingga pada suatu hari kebahagian itu direnggut secara paksa dari keluarga mereka.


Setahun yang lalu tiba-tiba Siti Aisyah tidak bisa bicara. Kata dokter Siti Aisyah mengidap penyakit Selective Mutism. Belum diketahui secara pasti penyebab penyakit ini.


Siti Aisyah tidak pernah mengalami depresi atau trauma masa lalu, faktor genetik juga tak ada masalah.


Siti Aisyah sudah pernah di bawa ke psikolog, psikiater dan terapis wicara tapi belum membuahkan hasil.


Kuliahnya jadi terganggu. Karena penyakitnya ini akhirnya Siti Aisyah terpaksa mengambil masa langkau dengan harapan suatu hari nanti dia bisa kembali sehat.


Yang memaksa Siti Aisyah mengambil masa langkau sebenarnya karena dia tak tahan karena sering diejek oleh teman-teman kuliahnya.


Yang membuat hatinya hancur lebur adalah ketika Santana, pacarnya tiba-tiba memutuskan hubungan mereka dengan alasan klise. Ingin fokus belajar.


Pada hal Siti Aisyah tahu bahwa Santana menjalin hubungan asmara dengan Sartika, teman akrab Siti Aisyah sendiri.


Tapi Siti Aisyah duduk termenung sekarang ini bukan karena memikirkan mantan pacarnya, tapi dia sedang mencoba mengingat mimpinya. Seingat Siti Aisyah, dia telah memimpikan hal yang sama selama tiga malam berturut-turut.

__ADS_1


Dia tak tahu apa makna mimpi itu atau apakah mimpinya memang mempunyai makna atau hanya sekedar bunga tidur.


__ADS_2