
Karena musibah yang terjadi atas diri Niken bersamaan dengan meninggalnya Atuk Agus Deka sehingga dia tak punya kesempatan untuk menjenguk Niken di RSUD.
Agus Deka disibukkan dengan berbagai hal di rumah Almarhum Atuknya.
Karena Atuknya ini termasuk orang yang terkenal orang di masa hidupnya, maka banyaklah orang-orang yang datang untuk melayatnya.
Para pejabat pun banyak yang hadir. Hal ini tentunya dapat dikenal baik dari mobil dinas yang mereka kendarai juga baju seragam yang mereka gunakan.
Karangan bunga sebagai bentuk ucapan bela sungkawa memenuhi halaman depan rumah hingga jauh di sepanjang jalan besar.
Setelah selesai proses pemakaman, anggota keluarga yang lain pun berangsur-angsur kembali ke rumah Atuknya karena nanti malam akan dilanjutkan dengan acara kenduri, baca surah yasin. Biasanya dilakukan tiga malam berturut-turut.
Agus Deka diam-diam melarikan motornya menuju RSUD. Dia ingin tahu bagaimana keadaan Niken sekarang. Bagaimana pun juga Agus Deka merasa musibah yang terjadi pada Niken disebabkan olehnya juga.
Setelah memarkirkan motornya di halaman RSUD yang luas, Agus Deka Bergegas masuk dan langsung naik di lantai dua.
Baik pasien penyakit umum maupun pasien mau melahirkan, pasca melahirkan ditempatkan di lantai dua, beda tempat saja.
Orang melahirkan ditempatkan di ruangan Mawar sedangkan penyakit umum di tempatkan di ruangan Asoka.
Agus Deka berbincang-bincang sebentar dengan keluarga Niken di ruang tunggu, karena jumlah pengunjung dibatasi untuk membesuk pasien, cuma bisa dua orang sekali masuk.
Saat tiba gilirannya, Agus Deka segera masuk ke ruangan Asoka empat. Hanya ada tiga pasien di sana. Tapi Agus Deka tak sempat memperhatikan pasien yang lain. Matanya tertuju pada pembaringan di bagian tengah ruangan itu.
Niken sedang terbaring dengan mata terpejam. Wajahnya masih tampak pucat. Sebuah selang nasogastrik terpasang dihidungnya karena Niken belum sadar sehingga tidak bisa mengkonsumsi makanan dan obat-obatan.
__ADS_1
Sebuah monitor ICU terus menyala di samping pembaringan. Agus Deka tak tahu cara membacanya tapi dia paham monitor ini berguna untuk memonitor kondisi vital pasien seperti detak jantung, kadar oksigen dalam darah maupun tekanan darah.
"Buk,.." Agus Deka menyalami Ibunya Niken, Buk Larasati dengan takzim. "Bagaimana keadaan Niken, Buk?"
Buk Larasati mengusap rambut Agus Deka dan mempersilahkannya duduk lalu berkata, "Dia masih koma, Gus. Tadi malam sempat sadar sebentar tapi setelah itu kondisinya persis seperti ini lagi." Buk Larasati mengusap air mata yang tiba-tiba muncul di pelupuk matanya.
"Bagaimana awal kejadiannya, Buk? Bukankah Niken baik-baik saja?"
"Ibuk juga tak tahu, Gus. Awalnya Ibuk melihat Niken pulang dengan wajah yang murung. Dia kelihatan sedih sekali. Ibuk sangka habis berantem sama kamu. Tapi biasanyakan dia akan baik-baik saja jika habis merajuk sama kamu sehingga Ibuk tak terlalu memikirkannya lagi." Buk Larasatu menarik nafasnya yang terasa berat. Lalu dia melanjutkan, "Hingga sore menjelang maghrib, Ibuk mau mengangkat jemuran di halaman belakang, Ibuk...ibuk melihat Niken tergeletak di tanah dengan mulut berbusa. Matanya melotot sedangkan urat-urat di lehernya menonjol semua, mungkin karena menahan sakit. Ibuk panik..ibuk menjerit sekeras-kerasnya hingga akhirnya Bapaknya Niken dan segera membawa Niken ke sini..." Buk Larasati terisak.
"Maafkan aku, Buk. Ini semua karena salah aku. Waktu itu Niken meminta bertemu, lalu dia mengungkapkan perasaannya terhadap aku..tapi, aku telah tega menolaknya. Kalau tahu kejadiannya akan seperti ini, mungkin aku tak akan menolaknya, Buk. Ini semua salah aku." Agus Deka menggeleng-gelengkan kepalanya penuh penyesalan.
"Cinta tak bisa dipaksakan, Gus. Inilah yang Ibuk khawatirkan melihat kedekatan kamu sama Niken selama ini. Ibuk tahu kamu menganggapnya sebagai adik, tapi perempuan beda, Gus. Mereka lebih sering menggunakan perasaan ketimbang akal. Begitu juga dengan Niken, dia merasa kamu dan dia sangat cocok sehingga lama kelamaan timbulah perasaan suka terhadap kamu dihatinya. Semakin hari perasaan itu semakin mekar sehingga dia ingin terus bersama kamu. Takut kehilangan kamu."
"Tumbuhkanlah rasa suka dan cinta dihatimu terhadapnya, bukan rasa suka terhadap adik, tapi cinta terhadap lawan jenis. Jika hal itu mustahil kamu lakukan, maka hilangkanlah perasaan dihati Niken secara perlahan-lahan. Lama-kelamaan dia akan bisa menerimanya."
"Apakah hal itu mungkin, Buk?"
"Tak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Gus. Semuanya bisa saja terjadi. Hanya saja, prioritas kita saat ini adalah bagaimana caranya supaya Niken segera sadar dari komanya."
Agus Deka menganggukan kepalanya tanda sepakat dengan pendapat Buk Larasati.
"Ibuk takut Niken seperti pasien yang di pojokan sana itu." Wajah Buk Larasati menoleh ke arah kanan, di bagian pojok ruangan Asoka empat, juga terdapat seorang pasien pria yang sedang ditunggu oleh dua orang pria dan wanita paro baya. Agus Deka mengikuti pandangan Buk Larasati.
"Ada apa dengan pasien itu, Buk? Apakah dia keracunan juga?" Agus Deka penasaran.
__ADS_1
"Ibuk juga tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kabarnya pria itu keracunan. Tapi hingga kini racunnya belum bisa diidentifikasi sehingga pihak RSUD tidak bisa memberikan obat yang sesuai dengannya. Pria itu sudah koma selama seminggu. Dengar-dengar kabar, Dokter sudah angkat tangan akan masalah ini. Lagi pula kondisi pria itu sudah sangat kritis. Nafasnya tinggal satu satu." Kata Buk Larasati dengan suara lirih seolah-olah biar cukup didengar olehnya sendiri.
"Sampai segitunya, Buk?" Agus Deka terkejut. Dia mencoba melihat pria yang malang itu dari kejauhan.
Setahu dia jarang sekali pihak Rumah Sakit yang tidak bisa mengidentifikasi jenis racun yang masuk ke tubuh manusia di mana perkembangan alat teknologi yang luar biasa.
Agus Deka sekali lagi melongok ke arah pasien yang terkena racun yang tidak bisa diidentifikasi itu. Rupanya begitu pelik masalah yang dihadapi oleh masing-masing orang-orang.
Dia hanya bisa berempati tanpa bisa berbuat apa-apa.
Jangankan memikirkan masalah orang lain, memikirkan masalah dia sendiri saja sudah membuat kepalanya pusing tujuh keliling.
...****************...
Mumu mengencangkan gas motornya hingga mentok. Ia merasakan motornya berjalan bagai siput. Lama sekali. Jika saja ia punya sayap, sudah dari tadi ia akan terbang secepat-cepatnya supaya bisa sampai di tempat tujuan.
Entah berapa banyak motor, becak dan mobil yang ia lewati sejak dari Pasar Juling tadi.
Entah sudah berapa kali bunyi klakson yang dipencet oleh para pengendara itu sebagai protes saat Mumu melewati mereka dengan semberono.
Mumu tidak memperdulikan semua itu. Yang ada dipikirannya cuma satu.
Secepatnya sampai di tempat tujuan!
Saat sampai di tikungan, Mumu berbelok dengan tajam, hampir saja ia tergelincir. Orang-orang memandangnya dengan tidak senang.
__ADS_1