TABIB KELANA

TABIB KELANA
Buah dari Kebaikan


__ADS_3

"Saya kebetulan lewat gang ini, Buk. Tadi mendapat kabar dari orang-orang tentang Pak Somad, jadi sekalian mampir ingin jenguk."


"Ooo begitu...mari masuk, Nak...masuk! Tapi begini lah rumah Ibuk, berserakan...belum sempat dibersihkan." Buk Senah membuka pintu lebar-lebar.


Dia adalah tipe orang yang berpikiran positif, yang tidak akan mencurigai orang-orang yang tidak dikenalnya. Tadi dia bertanya hanya karena penasaran saja kok bisa dia tak kenal jika memang Mumu orang dari gang rumahnya ini.


Saat melihat Pak Somad, wajah Mumu sedikit berubah. Walau pun kondisi tubuhnya sangat kurus tapi bagai mana mungkin Mumu bisa melupakan raut wajah orang tua yang pendiam ini.


Mumu ingat pertama kali ia ingin melamar kerja, sewaktu ia dimarahi dan ditendang oleh penjaga di depan kantor Bupati, wajah tua ini lah yang telah menahannya sehingga orang tersebut tidak memukuli Mumu lebih lanjut.


Memang benar kata orang, dunia ini kecil saja.


Siapa sangka bahwa Mumu akan berjumpa kembali dengan orang tua ini. Ini lah yang dikatakan takdir.


Dulu, Mumu pernah berusaha mencari sosok orang tua yang baik hati ini di pos jaga kantor Bupati. Walau pun waktu itu ia hanya melihat dari kejauhan, tapi Mumu memang tak menemui sosok pria paruh baya tersebut. Ternyata dia dalam keadaan sakit parah seperti ini.


"Ibuk kalau mau masak, silahkan saja, Buk. Tinggalkan saja saya di sini. Biar saya yang menjaga Bapak. Kasihan nanti Bapak tak makan."


Buk Senah memang kelihatan gelisah. Dia ingin cepat-cepat masak untuk suaminya tapi wanita yang baik hati itu merasa tak nyaman jika harus meninggalkan tamunya sendirian.


Walau pun tamunya hanya seorang anak muda, yang namanya tamu ya tetap tamu. Tamu memang harus dihormati.


"Benar tak apa-apa, Nak?" Dia masih kelihatan sedikit ragu. Wajahnya mencerminkan rasa bersalah.


"Benar, Buk. Lagian saya bisa sedikit ilmu urut, biar nanti saya urut Pak Somad menjelang Ibuk siap masak."


Saat melihat senyum Mumu yang menenangkan, Buk Senah langsung beranjak pergi.


Walau pun dia baru mengenal Mumu, tapi hatinya langsung merasa percaya terhadap sosok Mumu sehingga tanpa keraguan lagi dia langsung menuju dapur, memasak makanan untuk suami dan tamunya.


Pak Somad sepertinya sedang tidur. Sesekali tubuhnya begerak seperti akan mengalami kejang-kejang.


Setelah ditunggu sesaat gerakan tubuhnya berhenti. Ternyata tidak jadi kejang.

__ADS_1


Melalui kekuatan spiritualnya Mumu memindai penyakit Pak Somad, ternyata ada pertumbuhan sel yang tidak normal di dalam kepalanya.


Pertumbuhan jaringan ini telah menutupi sekitar otak besar dan otak kecilnya.


Mumu tahu, penyakit ini disebut sebagai kanker otak.


Wajar saja dokter tak yakin akan tingkat kesembuhan walau seandainya dilakukan operasi.


Karena mutasi sel-sel di dalam kepala Pak Somad sudah sangat parah.


Jika itu orang lain, mungkin tak ada cara untuk menyembuhkannya. Mereka hanya bisa pasrah.


Mustahil bagi orang lain bukan berarti Mumu juga tidak bisa.


Berkat tenaga dalam dan kekuatan spiritualnya, bukan hal yang mustahil bagi Mumu untuk mengobati Pak Somad.


Hanya saja hal itu tentu saja tidak semudah yang dikatakan.


Bagaimana pun juga kanker otak adalah penyakit yang bisa merenggut nyawa seseorang sehingga Mumu tentu saja tidak akan berbangga diri bahwa ia akan mampu mengobati Pak Somad dengan mudah.


Walau pun kepala merupakan salah satu bagian tubuh yang keras, tapi jarum akupuntur perak yang dialiri tenaga dalam mampu menusuk kepala Pak Somad dengan mulus bagaikan menusuk sekumpulan tahu.


Jarum akupuntur perak menusuk dengan kuat sesuai titik-titik saraf yang bermutasi.


Biasanya, Mumu mengobati seseorang dengan cara mengalirkan tenaga dalam ke tubuhnya melalui jarum akupuntur perak dan menyembuhkan atau meregenerasi urat saraf atau pun bagian tubuh pasien yang bermasalah.


Tapi kali ini tujuannya berbeda!


Tenaga dalam yang dialirkan ke dalam tubuh Pak Somad melalui seperangkat jarum akupuntur perak tersebut bertujuan untuk melawan dan mematikan fungsi sel-sel yang tumbuh dan berkembang tidak pada tempatnya.


Hal ini merupakan pengalaman baru baginya sehingga Mumu memerlukan sedikit waktu agar terbiasa dengan sensasi itu.


Hal yang paling sulit bukan lah mematikan sel-sel yang bermutasi tersebut melainkan mencegah agar sel-sel yang lainnya tidak ikut bermutasi sehingga perlu ketelitian dan usah yang ekstra agar usahanya tidak sia-sia.

__ADS_1


Setengah jam kemudian sambil menyeka keringat yang mengalir di kening dan pelipisnya, Mumu menarik nafas lega.


Akhirnya ia bisa menyelesaikan tugasnya tepat waktu.


Mumu yakin sebentar lagi Buk Senah pasti sudah selesai masak sehingga Mumu cepat-cepat mengemas peralatan jarum akupuntur peraknya dan langsung berjalan menuju pintu keluar.


"Buk, saya pulang dulu. Terima kasih untuk semuanya." Mumu segera menstarter motornya dan berlalu dari sana.


Terima kasih yang ia maksud sebenarnya adalah atas bantuan yang pernah Pak Somad berikan kepadanya dahulu.


Pada posisinya sekarang, bantuan yang diberikan oleh Pak Somad bisa dianggap hal yang sepele, tapi tidak baginya sewaktu dalam posisi ia dahulu.


Bantuan yang diberikan oleh Pak Somad sangat berharga sehingga Pak Somad berhak mendapatkan sedikit balasan darinya.


Ini semua bukan apa-apa! Ini semua terjadi karena buah dari kebaikan Pak Somad sendiri sehingga mereka bisa kembali ditakdirkan bertemu kembali dalam kondisi seperti ini.


"Nanti dulu, Nak....! Makan dulu." Buk Senah berlari dengan tergopoh-gopoh menuju pintu. Saat dia melongokkan kepalanya Mumu sudah tidak ada.


"Hmmm......anak muda zaman sekarang ya, seenaknya saja kapan mau datang dan kapan mau pergi. Orang sengaja masak lebih ingin mengajaknya makan bersama tapi dia malah pergi. Menolak rezeki namanya." Buk Senah menggeleng-gelengkan kepalanya seraya kembali ke dapur untuk mengambil makanan untuk suaminya.


"Mana makanannya, Nah? Aku sudah sangat lapar. Oh ya, tolong buatkan kopi sekalian ya. Sudah lama aku tak ngopi, pahit rasanya tekak ini merokok tanpa ngopi."


"Hmmmm....Ya lah, Bang.....?"


Buk Senah yang sedang berjalan menuju dapur langsung tersandung hingga tubuhnya sempoyongan hampir saja jatuh menabrak dinding.


Matanya terbelalak saat menoleh ke arah pembaringan. Dia tidak mendapati suaminya terbaring di sana.


Nun di sana, disudut pembaringan, dia melihat suaminya sedang menyalakan sebatang rokok.


Dia ingat rokok itu memang sudah lama berada di sana tanpa dipindahkan.


Tapi sudah lama suaminya tidak menyentuh rokok tersebut. Biasanya jangankan merokok, sedangkan minum air putih dan menelan nasi saja susah.

__ADS_1


"Bang, apa yang kamu lakukan?"


__ADS_2