
Saat Lisa masuk ke kamar, Wulan sudah melepaskan cadar dan jilbabnya, saat ini dia sedang duduk di tepi kasur. Jika Mumu ada di sini, ia mungkin akan linglung melihat kecantikan alami Wulan.
Lisa dengan cemberut ikut duduk di samping Wulan.
Wulan hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala melihat tingkah sepupunya yang manja tersebut.
"Kamu kan tak bilang jika acaramu tak lama. Aku suntuk di rumah sendirian jadi aku sengaja mutar-mutar melihat pemandangan kota Selatpanjang. Lagian kan kamu sudah biasa dengan kota Selatpanjang sehingga kalau kamu ikut pun tak ada hal yang menarik minatmu kan."
Wulan sengaja tidak menceritakan pertemuannya dengan Mumu, jika Lisa tahu entah kehebohan apa yang akan terjadi.
Lagi pula Wulan sudah bertekad untuk tidak lagi berurusan dengan Mumu, bukan karena dia membencinya, tapi Wulan takut dia menjadi semakin akrab dengan Mumu.
Dari pandangan mata Mumu, Wulan tahu bahwa Mumu menyukainya. Bukannya sombong, tapi Wulan sangat menyadari siapapun yang pernah melihatnya selama ini pasti akan langsung tertarik kepadanya. Satu hal yang Wulan apresiasi dari Mumu adalah pandangan matanya terhadap Wulan sedikitpun tidak mengandung nafsu bi*ahi.
Lisa mendengus pelan tapi wajahnya mulai tampak cerah, artinya dia menyetujui pernyataan Wulan.
Kadang kala jika kita sengaja ingin melupakan sesuatu tanpa sengaja pikiran kita malah semakin kuat mengingatnya. Apa lagi sesuatu itu mempunyai makna penting secara emosional.
Begitu juga yang dialami oleh Wulan, semakin dia ingin melupakan Mumu semakin kuat ingatannya tentang sikap kepahlawanan Mumu sewaktu menolong mereka di pantai Dorak itu.
Jika ada orang yang mengatakan jatuh cinta pada pandangan pertama, maka Wulan adalah orang pertama yang akan membantahnya.
Karena dia tak mempercayai itu.
Yang ada adalah rasa suka dan tertarik terhadap lawan jenis, karena berbagai sebab. Bisa saja karena kecantikan atau ketampanan seseorang, karena status sosialny mau pun karena kekayaannya.
Sedangkan cinta menurut Wulan, adalah suatu rasa yang lebih suci, mencintai seseorang bukan karena sesuatu yang melekat pada diri orang tersebut, tapi lebih kepada kedirian orang itu sendiri.
__ADS_1
Begitu juga halnya Wulan dan Mumu.
Dia tak percaya mereka saling jatuh cinta, yang ada hanyalah suka atau tertarik karena sesuatu. Dia merasa tertarik kepada Mumu karena sikap kepahlawanannya sedangkan Mumu menyukainya karena kecantikannya.
Biasanya perasaan itu akan memudar seiring hilangnya penyebab ketertarikan tersebut.
Oleh karena itu Wulan mencoba menghindari Mumu karena dia merasa pada diri Mumu ada semacam daya magnet yang bisa menyeretnya kapan saja jika dia terus berkomunikasi dengan Mumu.
Hari berganti hari sedangkan waktu terus berjalan tanpa kita menyadarinya.
Suatu hari, Wulan sedang menyetrika jilbabnya saat Lisa masuk ke kamar dengan senyum puas di bibirnya.
"Wulan, kamu masih ingat pemuda yang menolong kita waktu di pantai Dorak itu, Wulan?"
"Iya,...memangnya ada apa, Lisa?" Walaupun sikapnya tampak tak peduli tapi hatinya sedikit bergetar saat terbayang wajah pemuda tersebut.
"Untung kita tidak ditipu olehnya, dia ternyata seorang pengangguran, selain itu juga dia telah menikah dengan seorang anak mantan Kadis perpustakaan dan entah bagaimana caranya dia bisa menguasai rumah istrinya tersebut.
Sejak peristiwa di pantai Dorak, Lisa sengaja mengkhususkan dirinya untuk mencari informasi tentang Mumu.
Hal ini dia lakukan saat melihat sikap Wulan dan Mumu sepertinya saling menyukai. Jadi sebelum hal itu terjadi dan tak akan pernah terjadi karena dia pasti tak akan mengizinkan Wulan untuk hal itu.
Sebuah kebetulan yang menguntungkan dirinya saat dia bicara tentang Mumu, salah seorang teman sekolahnya dulu yang sekarang bekerja sebagai tenaga honorer tahu tentang sejarah kelam Mumu sehingga Lisa segera mentraktir temannya di sebuah restoran dan mengorek semua informasi 'kejahatan' Mumu.
Tanpa sadar tangan Wulan yang sedang memegang setrika gemetar, nafasnya sesak, dia mendongak kepalanya ke arah Lisa meminta konfirmasi. Walaupun dia tak sepenuhnya percaya dengan cerita Lisa, tapi hatinya tetap terluka.
Perasaan yang awalnya mulai tumbuh secara diam-diam, walaupun sudah ditekan, kini dipatahkan dengan begitu kejam sehingga membuat Wulan sedikit linglung.
__ADS_1
Setelah menarik nafas dengan dalam, Wulan berkata, "Kamu tidak boleh memfitnah orang, Lisa. Aku tahu kamu tak terlalu suka dengan Mumu sehingga aku takut kamu telah salah mendapatkan informasi tentangnya. Lagi pula dia kan masih muda bagaimana mungkin dia sudah menikah?"
"Bagaimana kamu tahu tahu kalau dia masih muda? Apakah kalian pernah berkomunikasi di belakang aku sebelumnya, Wulan?" Lisa menatap dengan tajam, tapi tak ada perubahan apa-apa di wajah Wulan.
Setelah itu Lisa langsung menelpon seseorang.
"Hallo Rani, apa kabar?" Ternyata Lisa sedang melakukan video call dan dia sengaja memencet tombol loudspeaker biar Wulan bisa mendengarnya.
"Ada apa, Lisa? Tumben nanya-nanya kabar segala. To the point aja. Pasti ada maunya ini." Dari samping Wulan melihat seorang gadis yang lumayan cantik sedang tiduran sambil menonton tv.
"He he tau aja kamu, Ran. Lisa terkekeh. " Aku mau memastikan cerita kamu tentang si Mumu itu memang benar kan? Kamu tidak sedang guyon kan?"
"Kamu anggap aku ini apa? Kalau pun aku mau guyon, tak ingin aku menyebut-nyebut nama dia. Kalau kamu tak percaya dengan cerita aku, kamu bisa membuktikan sendiri, Lisa. Kamu pergi saja ke rumah pimpinan aku, sekarang dia yang menempati rumah itu. Entah bagaimana caranya dia bisa memiliki rumah tersebut."
"Di mana rumahnya, Ran? Jauh tak?"
"Seberapa lah jauhnya, kan masih seputar Selatpanjang juga. Kalau kamu benar-benar mau pergi, dari jalan Dorak itu kamu masuk saja ke jalan Lintas Timur, rumahnya tak jauh dari situ sebelah kiri."
"Baik lah, Ran, terima kasih infonya. Aku tak mau lah pergi ke sana. Kan dari ceritamu aku sudah percaya. Udah dulu ya, Bye."
Lisa mematikan ponselnya dan menatap ke arah Wulan, "Sekarang kamu percaya kan? Atau kita pergi ke sana sekarang. Mau?"
Wulan menggelengkan kepala, "Untuk apa? Kan dia tak ada hubungannya dengan kita kecuali kita telah berhutang budi kepadanya. Yang penting dia kan tidak menipu kita."
"Tapi kamu kelihatan peduli sekali dengan dia. Aku takut kamu naksir dengan pemuda yang tidak jelas itu. Aku tak mau kami mengkhianati..."
Lisa menghentikan ucapannya saat melihat Wulan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata, "Cukup Nisa! Jangan diungkit hal itu lagi."
__ADS_1
...****************...
Drg. Saloka sedang duduk mendengarkan keterangan dari stafnya. Setelah terdiam beberapa lama akhirnya dia menegakkan punggungnya dan berkata, "Jadi maksud kamu, pasien yang minta dipulangkan karena menolak perawatan di sini sudah sembuh? Benar-benar sembuh?"