TABIB KELANA

TABIB KELANA
57.


__ADS_3

Dikejauhan seorang pria baruh baya berdiri di pinggir jalan dengan pakaian yang kusut dan kusam.


Saat Mumu hampir melewatinya, dia mengangkat tangannya melambai. Matanya melirik ke kiri ke kanan seakan-akan takut sesuatu.


Melihat tampilan pria ini, Mumu merasakan seperti ada sesuatu yang tidak pada tempatnya tapi sayangnya ia tak bisa mengingat apa yang salah tersebut.


"Ada perlu apa, Pak?" Sapa Mumu setelah mematikan motornya.


Pria paruh baya itu menatap Mumu sebentar seolah-olah berpikir lalu berkata dengan nada ragu, "Apakah kamu bisa menolongku?"


"Bantuan apa yang Bapak perlukan dari saya?"


"Benarkah?" Raut wajah pria tua itu menjadi cerah. "Kawan saya pingsan tertimpa cabang pohon di tepi hutan sana." Pria itu menunjuk ke arah utara, di mana ada jalan setapak yang menuju ke arah sana.


"Sudah dari tadi saya menunggu, tapi belum ada orang yang lewat jalan ini. Untunglah kamu datang dan bersedia menolong kami."


Setelah memarkirkan motor di tepi jalan, Mumu pun segera mengikuti pria tua yang bernama Sudir itu menapaki jalan setapak menuju ke arah hutan.


Mumu merasa ada yang tidak beres. Pria tua itu terlalu tenang saat menceritakan musibah yang terjadi pada temannya. Dia sedikit pun tidak tampak khawatir atas nasib kawannya.


Tapi Mumu sengaja ikut pria tua itu menuju tepi hutan. Ia ingin melihat apa rencana mereka sebenarnya. Rasanya mereka belum pernah bertemu muka sebelumnya apa lagi pernah berkonflik.


Walau pun belum mengerti apa tujuan meraka terhadapnya, Mumu tetap berlaku waspada.


Seseoramg bisa kalah melawan musuhnya bukan karena musuhnya kuat tetapi karena kita menyepelekan musuh.


Tak lama kemudian mereka sampai di tanah lapang. Pria tua itu berhenti dan berbalik ke arah Mumu. Ada sedikit seringai di wajahnya.


"Mana teman Bapak yang tertimpa pohon, Pak? Tak ada pula kelihatan?" Mumu celingak-celinguk tapi tak ada kelihatan apa-apa. Pada hal ia hanya berpura-pura. Mumu sudah tahu jika tempat ini sudah dikelilingi oleh beberapa pria yang ingin berbuat tidak baik terhadapnya.


Jika mereka bisa berakting mengapa ia tidak bisa?

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Mumu yang terkesan lugu, pria tua itu pun tertawa terbahak-bahak. Apa lagi melihat sikap Mumu yang polos itu membuat dia tak sabar ingin membenamkan wajah Mumu di dalam lumpur.


"Ha ha...mumu...mumu...seculun itukah dirimu? Percuma saja kamu mempunyai ilmu pengobatan yang tinggi ternyata kamu sangat mudah dibohongi."


"A..apa maksud, Bapak? Bb..bagaimana Bapak kenal dan tahu siapa saya?" Mumu tergagap dan tanpa sadar mundur dengan kaki sedikit gemetar.


Dalam hati Mumu memuji akting nya ini. Jika dipikir-pikir, mungkin bakatnya dalam segi akting lebih besar dibandingkan dengan ilmu pengobatan.


"Ha ha...pria tua itu tambah senang melihat Mumu bagaikan kelinci yang sedang dipermainkan harimau.


"Kawan-kawan, tunggu apa lagi? Keluarlah kalian!" Teriaknya sambil melihat sekeliling tanah lapang itu.


Tak lama kemudian muncullah beberapa pria satu demi satu hingga berjumlah sembilan orang, sepuluh dengan Sudir, pria tua itu.


"Kamu telah melebih-lebihkan bocah ini, Dir. Kamu sengaja mengundang kami demi menghadapi bocah culun ini? Kamu benar-benar telah membuat kami kecewa." Kata pria yang tinggi besar dan berjambang lebat.


Sudir tidak menanggapi perkataan pria tinggi besar itu, sebaliknya dia menoleh ke samping, ke arah pria botak plontos itu dan bertanya dengan raut muka serius, "Bagaimana hasilnya."


"Ha ha apa aku bilang, kamu terlalu berhati-hati, Dir."


Sudir diam, tak menanggapi. Dia masih tak yakin, tapi karena tak ada bukti atas keraguannnya akhirny dia berkata, "Lakukan dengan cepat! Walaupun satu dua orang sudah cukup untuk membereskannya, kalian tetap akan dibayar sesuai perjanjian."


"Ha ha..." Pria itu tertawa senang. "Terima kasih, Dir. Memang kerja sama kamu ini tak ada ruginya."


"Eh.....ke mana perginya bocah culun tadi?" Tiba-tiba salah seorang dari pria itu nyeletuk.


Mereka serempak melihat ke arah Mumu yang berdiri dengan kaki gemetar tadi. Tak kelihatan lagi dia di sana.


"Jamal, kejar dia dan seret dia kembali ke sini! Jangan sampai dia kembali ke jalan besar." Perintah Sudir.


Tenang saja, Bos. Serahkan saja urusan ini sama aku. Pasti akan aku seret dia ke sini dengan wajah babak-belur. Sejauh mana lah anak kota itu bisa berlari?" Sahut Jamal sambil menepuk dadanya.

__ADS_1


"Sam, kamu ikut Jamal!"


"Kenapa dia harus ikut, Bos? Aku sendiri saja sudah lebih dari cukup." Jamal tak terima.


"Ha ha itu tandanya Bos tidak yakin dengan kinerja kamu, Jamal." Ejek Sam.


"Sudah...sudah....cepat pergi sana!" Hardik Sudir.


Sambil bersungut-sungut Jamal pun segera berlari yang diikuti oleh Sam. Dalam waktu yang singkat punggung mereka sudah tidak kelihatan lagi.


Setelah kedua orang itu pergi, pria-pria yang lain mencari posisi tempat duduk yang nyaman sambil menunggu hasil buruan Jamal dan Sam.


Ada yang duduk di rerumputan, ada yang duduk sambil bersandar di bawah pohon dan ada juga yang tetap berdiri sambil menghisap rokok.


Sepuluh menit berlalu, jamal dan Sam belum juga kembali. Sudir mulai tak geram. Mereka berdua memang tak becus dalam bekerja.


Dua puluh menit berlalu. Sudir mulai gelisah. Dia menelpon Jamal, tapi tak dijawab. Lalu dia beralih menelpon nomor Sam juga tak mendapat jawaban.


"Leman, bawa tiga orang bersama mu. Temukan mereka! Jika Jamal dan Sam ternyata buat ulah, beri pelajaran kepada mereka!" Perintah Sudir.


Tanpa mengucapkan apa-apa empat orang pria segera berdiri dan berlari dengan cepat menyusuri jalan setapak itu dan dengan waktu singkat langsung menghilang di tikungan.


Mereka kembali duduk diam menunggu tapi kali ini hati mereka tidak setenang biasanya. Hal ini berlaku terutama pada diri Sudir, Jefri sedari awal sudah mewanti-wantinya agar berlaku hati-hati dan jangan sampai gagal sehingga dia telah memerintahkan sekelompok orang yang berjumlah paling sedikit sepuluh orang untuk memastikan tindakan mereka berhasil.


Sudir memang sudah berhasil mengumpulkan dan mengerahkan orang-orangnya sebanyak sepuluh orang sesuai perintah Jefri.


Tiba-tiba sesuatu melintasi pikiran Sudir. Dia berdiri dengan mendadak. Wajahnya berubah menjadi pucat dan ketakutan.


"Ada apa, Dir? Mengapa wajah mu berubah seolah-olah telah terjadi sesuatu?" Pria botak itu bertanya dengan heran. Dua orang pria yang duduk bersisian dengan pria botak itu pun memandang Sudir dengan penuh penasaran.


"Kita telah tertipu! Kita telah masuk ke dalam perangkapnya." Jawab Sudir sambil mengingat sesuatu yang ganjil.

__ADS_1


__ADS_2