
Setelah mengantri lebih kurang setengah jam baru lah Mumu mendapatkan tiket.
Setelah itu ia langsung kembali ke rumah karena kapal Jelatik baru berangkat jam 16.00 wib.
Angin sore berhembus menerpa wajah orang-orang saat kapal Jelatik mulai begerak menjauh meninggalkan pelabuhan Selatpanjang.
Mumu berada di bilik bagian belakang kapal tingkat kedua.
Dari jendela kapal ia melihat kapal melaju dengan tenang membelah air laut abu-abu kecoklatan.
Entah berapa lama Mumu menatap pemandangan melalui jendela kapal, saat ia memalingkan wajahnya lampu-lampu kapal sudah dinyalakan, rupanya sudah hampir maghrib.
Saat Mumu turun ke lantai satu, kamar mandi berada di lantai satu, Mumu melihat seorang anak gadis yang berusia sekitar sepuluh tahun sedang duduk bersandar di sebuah bilik yang agak besar. Ternyata mereka telah menyatukan tiga bilik menjadi satu.
Kaki kanan anak gadis tersebut dibalut dari mata kaki hingga mencapai lutut. Wajahnya sedikit pucat. Di sampingnya duduk seorang wanita yang berpakaian sederhana berusia sekitar empat puluhan tahun. Sedangkan di hadapan anak gadis tersebut, seorang pria duduk memunggungi lorong kapal.
Mumu memindai kaki kanan anak gadis tersebut. Wajahnya sedikit berubah. Ternyata cedera anak gadis tersebut sangat parah, selain patah, tulangnya juga remuk sehingga tidak bisa dipulihkan dengan cara biasa.
Jika diobati secara medis, Mumu yakin anak gadis tersebut akan selamanya duduk di kursi roda atau menggunakan kaki palsu.
"Kenapa kaki anaknya, Pak?" Tanya Mumu.
Pria itu membalikkan badannya, dia menatap Mumu. Setelah mendesah dengan berat dia berkata, "Korban tabrak lari, Dik. Hingga kini tak tahu siapa pelakunya." Ada kilatan kemarahan dibalik wajahnya yang murung.
"Ooo, jadi sekarang mau berobat ke Pekanbaru ya, Pak? Kenapa tak menggunakan ambulance laut, Pak? Kan lebih cepat sampai."
__ADS_1
"Ongkos minyaknya besar, Dik. Lagi pula naik Jelatik bisa agak santai. Oh ya, siapa nama kamu, Dik? Silahkan duduk di sini." Rupanya pria yang bernama Aripin itu sangat ramah dan terbuka.
"Terima kasih, Pak. Biar berdiri saja lebih enak. Saya Mumu, Pak."
"Kalau memang tak terpaksa tak mau kami ke Pelanbaru, Dik," Pak Aripin mulai curhat. "Walaupun biaya berobat gratis karena sudah ditanggung sama pemerintah, tapi untuk biaya transportasi, belum lagi biaya makan di sana, membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi jika kita harus membeli obat di luar karena ada juga kan jenis obat yang tidak ditanggung pemerintah."
Dari pernyataan Pak Aripin tampaknya ini bukan kali pertama dia merujuk orang sakit ke Pekanbaru, dia sudah sangat paham situasi yang terjadi.
Memang berat untuk biaya makan orang yang menunggu pasien, harus beli nasi bungkus di luar.
Makan tiga kali sehari. Masih mending jika hanya satu orang dan waktu pengobatan hanya sehari atau dua hari. Jika sampai berminggu-minggu, uang dari mana untuk menanggung biaya hidup di sana.
Melihat penampilan Pak Aripin dan keluarganya, Mumu tahu mereka bukanlah termasuk orang yang berada.
Mumu sedikit terenyuh dan kasihan terhadap mereka.
Dia tak banyak bicara, saat mendengar ucapan Mumu dia hanya menganggukkan kepalanya.
"Kalau menurut dokter perawatan seperti apa yang akan diberikan kepada Tiara, Pak?" Mumu kembali mengalihkan pandangannya kepada Pak Aripin.
Pak Aripin kembali menarik nafasnya dengan berat, seperti dugaan Mumu sebelumnya, Pak Aripin pun berkata, "Jika stok kaki palsunya sudah ada, nanti Tiara akan langsung dipasang dengan kaki palsu."
Tanpa sadar Pak Aripin menatap istri dan anaknya dengan sedih dan tak berdaya.
Sebenarnya dia dan istrinya tak sampai hati melihat anaknya berjalan menggunakan kaki palsu, tapi mau bagaimana lagi, hanya itu lah satu-satunya jalan terbaik.
__ADS_1
Walaupun mereka tahu bahwa Tiara enggan menerimanya tapi tak ada jalan lain lagi.
Karena kapal Jelatik dipenuhi oleh penumpang sehingga beberapa orang yang tinggal di bilik yang bersebelahan dengan keluarga Pak Aripin, tentu saja mendengar pembicaraan mereka.
Mereka hanya melihat gadis kecil yang malang itu dengan pandangan kasihan tanpa berkomentar apa-apa.
Setelah itu mereka kembali pada aktivitas mereka masing-masing.
"Sebenarnya saya mengerti sedikit tentang ilmu pengobatan," Ucap Mumu dengan suara lirih sehingga hanya Pak Aripin dan keluarganya saja yang bisa mendengarnya, "Jika Bapak dan Ibuk percaya, saya bisa mengobati Tiara, walaupun saya tidak menjamin bisa menyembuhkannya, mungkin saya bisa mengurangi sedikit penyakit yang diderita Tiara. Bagaimana, Pak? Jika Bapak dan Ibuk setuju, lepas maghrib nanti saya akan kembali ke sini." Mumu tak mau mengatakan bahwa ia bisa menyembuhkan penyakit Tiara, karena kedengarannya nanti sangat sensasional sekali. Lagi pula ia ingin melihat sikap Pak Aripin dan keluarganya, jika mereka percaya maka ia akan berusaha yang terbaik. Jika mereka menolaknya, maka Mumu pun tidak akan memaksa mereka.
Saat mendengar pernyataan Mumu, Pak Aripin menatap mata Mumu sejenak lalu menoleh ke arah istrinya sekilas, setelah itu tanpa keraguan sedikitpun dia langsung berkata, "Jika memang Nak Mumu punya kemampuan dan bersedia mengobati anak kami, tak ada yang bisa kami katakan selain setuju dan berterima kasih karena telah sudi mengulurkan tangan untuk membantu keluarga kecil kami ini. Mengenai berapa banyak yang bisa Nak Mumu lakukan, kami tak mempersoalkan itu."
"Baik lah kalau begitu, Pak, kalau begitu nanti saya datang lagi ke sini.
Nanti pembatas bilik itu dipasang saja, Pak biar tak banyak orang yang melihat nanti."
Setelah Mumu berlalu pergi, istrinya menatap Pak Aripin dan bertanya dengan nada penasaran, "Tumben Abang langsung percaya pada orang yang baru Abang kenal? Lagi pula dia masih sangat muda, seberapa tinggilah ilmu pengobatan yang bisa dia pelajari. Jika dia sudah mulai belajar sejak dalam rahim ibunya, apakah lantas ilmu pengobatannya bisa mengalahkan para dokter spesialis yang telah belajar bertahun-tahun, Bang."
Pak Aripin menghela napasnya, "Sebetulnya Abang pun tak tahu, Dik, tapi saat pendengar perkataannya Abang hanya merasakan bahwa dia tidak sedang berbohong, bahwa dia hanya ingin menolong kita. Itu saja. Apa lagi saat Abang mencoba melihat wajah dan matanya, Abang tak ragu sedikit pun, makanya tadi Abang tak meminta pendapatmu tapi langsung menyetujuinya saja."
Istrinya tercenung, "Bagaimana pendapat mu, Tiara?"
Tiara menggelengkan kepalanya, Tiara tak tahu, Bu, sama seperti Bapak, Tiara percaya saja."
"Lagi pula kan tak ada salahnya kita mencoba, Dik. Seandainya tak berhasil pun, kita tetap akan ke Pekanbaru. Jadi tak ada yang dirugikan." Timpal Pak Aripin.
__ADS_1
"Baik lah kalau begitu kita tunggu saja kedatangannya." Ujar istrinya.
"Mari kita makan dulu, Bang. Tiara makan juga sekalian ya."