TABIB KELANA

TABIB KELANA
40.


__ADS_3

Mereka berlima tertunduk malu. Jika mereka tahu gurunya sedang mengadakan pertemuan dengan pelatih-pelatih yang lain, mereka lebih baik menunggu hingga yang lain pulang dulu baru mereka akan bertemu langsung dengan gurunya.


Sudah kasip. Mereka tak bisa mundur lagi. Setelah mengatur nafas sejenak, pria berotot memberanikan diri bicara, "Kami bertemu dan bertarung dengan lawan yang sangat licik, Guru. Karena sedikit lengah, entah bagaimana lawan telah berhasil menyegel tata bela diri kami sehingga kami tak bisa menghimpun tenaga dan menggunakan, Guru. Tolong bantu kami, Guru." Mereka membentuk sikap mohon kepada guru besarnya.


"Ha ha!" Mendengar hal itu para pelatih senior sontak tertawa terkekeh-kekeh, "Apakah kalian berlima adalah sekumpulan makhluk yang tak berguna?! Tak mampu berbuat apa-apa sampai ilmu tata bela diri kalian disegel lawan tanpa melawan." Berkata Mara dengan nada penuh penghinaan.


Mara adalah kepala pelatih. Jabatannya hanya di bawah guru besar. Sehingga berbagai urusan perguruan dia yang mengurus. Tak jarang dia membuat keputusan tanpa sepengetahuan guru besar mereka. Dia merasa bahwa ilmunya sudah setingkat dengan ilmu guru besar mereka sehingga dia menjadi jumawa dan tinggi hati.


Mendengar perkataan Mara yang penuh penghinaan, pria berotot dan temannya hanya bisa menggertakkan giginya menahan marah.


Guru besar mereka mengelus janggutnya sambil berpikir. Dia tahu tingkatan semua pelatih utama dalam perguruan yang dia pimpin. Walau pun pria berotot dan teman-temannya bukan termasuk pelatih utama yang terbaik, tapi ilmu tata bela diri mereka tidak bisa dianggap main. Tidak sembarang orang yang mampu melawan mereka.


Bahkan Mara sebagai kepala pelatih akan kewalahan melawan kombinasi serangan mereka berlima. Tapi kalau mereka melawan Mara seorang lawan seorang, Mara akan dengan mudah mengalahkan mereka.


"Sapta, lepaskan segel pada tubuh mereka!" Perintah guru besar kepada seorang pria yang berusia empat puluhan tahun. Dia mempunyai perawakan agak kecil dan kurus.


Disekujur tubuhnya tak kelihatan otot yang menonjol artinya dia bukan termasuk orang yang terkuat di sin. Walaupun begitu, semua anggota perguruan sangat menghargainya termasuk Mara.


Karena dia mempunyai spesialis urat dan tulang.


Jika ada urat yang salah atau tulang yang patah saat latihan maka mereka pasti menuju Sapta untuk minta tolong diobati.


"Baik, Guru." Sapta lalu bangkit dari kursi dan berjalan ke tengah ruangan.


"Kalian berlima ke sini." Panggilnya. "Bentuk barisan melingkar."


Sapta lalu mendekati pria yang berotot itu lalu meletakkan tangannya di punggung pria tersebut. Lalu dia mengerahkan tenaga dalamnya memasuki tubuh pria berotot itu untuk menemukan segel dan membukanya.


Sepuluh menit berlalu. Sapta masih berusaha mencari segel tersebut tapi tidak membuahkan hasil. Keringat keluar dari wajahnya satu demi satu.


Dia penasaran dan juga merasa malu atas ketidakmampuannya untuk mendeteksi segel itu.


Dia nekad mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya dan sekali lagi mencoba mencari di dalam tubuh pria berotot itu tapi belum membuahkan hasil.

__ADS_1


Pelatih lain yang berada di ruangan itu semuanya diam. Mereka menjadi sedikit gelisah.


Mara melirik ke arah guru besarnya dan melihat ada kerutan di dahi gurunya.


Siapa lawan yang telah dihadapi oleh kelima kroco di hadapan mereka ini?


Jika ilmu segelnya sekuat itu apakah dia mampu melawannya jika bertemu nanti?


Mara sedikit bergidik. Inikah orang yang dia remehkan tadi?


"Sapta, cukup!!!" Suara keras guru besarnya telah menyadarkan Mara dari lamunannya.


Dia melihat tubuh Sapta gemetar dan wajah yang sangat pucat.


Mara segera memerintahkan pelatih lainnya untuk membantu Sapta. Dia pun bergegas mendekati Sapta dan diikuti oleh Guru besar mereka.


Guru besar dengan sigap mengalirkan tenaga dalamnya ke tubuh Sapta. Tak lama kemudian kondisi Sapta mulai membaik. Wajahnya mulai dialiri darah dan nafasnya tidak lagi tersendat-sendat.


"Bagaimana perasaanmu?"


"Apa yang kamu rasakan? Apakah kamu tidak menemukan segelnya?" Tanya guru besar dengan penasaran.


Sapta dikenal sebagai ahli pengobatan di kalangan perguruan bela diri. Bukan hanya di perguruan mereka, kadang ada juga perguruan lain yang meminta tolong mengobati murid mereka yang cedera parah. Tentu saja Sapta akan meminta biaya yang tidak sedikit untuk itu.


Jika ada perguruan bela diri yang meminta tolong kepada perguruan lain itu tandanya mereka sudah kewalahan.


Ini adalah kesempatan bagi Sapta untuk memperkaya dirinya.


"Aku sudah mengecek seluruhnya, Guru. Baik aliran darahnya, jantungnya, hati dan lambung tapi aku tak bisa menemukan letak segel tersebut. Aku hanya bisa merasakan sedikit energi aneh tapi tak tahu dari mana asalnya." Kata Sapta dengan wajah murung bercampur malu.


Guru besar semakin penasaran. Dia mencoba meletakkan tangannya di ubun-ubun pria berotot itu dan mulai memeriksanya.


Tak lama kemudian tangannya berpindah ke pria yang lain, hingga akhirnya kelima orang itu diperiksanya satu persatu.

__ADS_1


"Yang lain keluar dulu! Kalian berlima, Sapta dan Mara tetap di sini."


"Baik, Guru!" Jawab mereka serempak.


Sambil keluar ruangan pelatih yang lain berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke arah gurunya dan pria berotot itu.


"Coba kamu ceritakan bagaimana awal terjadinya peristiwa ini!" Kata Guru besar kepada mereka berlima.


Pria berotot itu menoleh ke arah Ijal, menyuruhnya bicara.


Tanpa bisa berbuat apa-apa, Ijal pun mulai menceritakan peristiwa itu dari awal hingga akhir.


"Apa!!!! Dia bisa sembuh setelah terkena serbuk racun perguruan kita?!" Guru besar terkejut dan kehilangan sedikit kendali atas dirinya.


Dia tidak marah jika muridnya berbuat sewenang-wenang dan menganggu orang lain. Asalkan tindakan mereka menghasilkan uang bagi perguruan dia tidak begitu peduli.


"Bagaimana dia bisa sembuh? Apakah kamu yakin serbuk racun itu benar-benar mengenai matanya?" Guru besar sangat gusar.


"Kami tak tahu, Guru. Kami pun tak menyangka saat itu."


Guru besar berjalan mondar mandir. Serbuk racun itu sangat ampuh. Jika sudah terkena serbuk itu, walau sudah diobati dengan obat penawarnya, mata orang yang terkena serbuk tersebut tidak bisa sembuh seperti sedia kala. Pandangan mereka menjadi kabur walau tidak buta sepenuhnya.


Tapi kini, dia mendengar ada orang yang bisa sembuh dari serbuk racun itu seperti tak pernah terkena apa-apa, bagaimana dirinya tidak syok?


Dia yakin kelima muridnya ini menceritakan yang sebenarnya. Karena jika mereka berbohong, dia mempunyai cara untuk mengetahuinya.


"Kalian telah membuat masalah yang sangat besar karena telah memprovokasi musuh yang salah. Sekarang kalian menerima sendiri akibatnya. Segel itu tidak bisa dilepaskan dari tubuh kalian. Itu adalah hukuman bagi kalian berlima."


Ijal dan teman-temananya hanya pasrah.


"Karena kalian tidak lagi mempunyai tata bela diri jadi mulai sekarang jabatan kalian sebagai pelatih utama dicopot!"


"Guru!" Seru mereka dengan sedih. Ini sama artinya mereka berlima sudah tidak dianggap oleh perguruan. Di mana-mana kekuatan adalah segalanya.

__ADS_1


...****************...


Walaupun sangat lelah, Mumu segera mandi begitu tiba di rumah. Tubuhnya kotor dan ada noda darah dibajunya.


__ADS_2