TABIB KELANA

TABIB KELANA
Makan Bersama


__ADS_3

Mumu terperangah saat mendengar tawaran dari Erna. Tapi ia segera mengubah ekspresi wajahnya agar Erna tidak merasa salah tingkah.


Lagi pula tak ada alasan baginya untuk menolak permintaan kecil dari seorang gadis cantik yang sedang kelaparan tersebut, "Baik lah kalau begitu, kamu pesan saja nanti biar aku yang traktir."


"Benar kah?" Senyum merekah di bibir Erna. Matanya berbinar. "Karena aku yang menawarkan jadi aku yang traktir." Ucapnya serius.


Melihat keseriusan di mata Erna, Mumu tak ingin berdebat. Ia tak ingin gara-gara menentukan siapa yang harus bayar, malah menyebabkan Erna tersinggung. Bagai mana pun juga Mumu tidak sepicik itu yang ingin mempertahankan egonya sendiri. Oleh karena itu ia langsung berkata, "Oke...kalau begitu kamu Bosnya."


Saat mendengar jawaban Mumu, senyum Erna tambah lebar. Penilaiannya terhadap Mumu naik lagi satu digit.


Kebanyakan cowok pasti akan mempertahankan egonya supaya dia yang membayar dengan uangnya sendiri atau paling tidak si cowok yang membayar walau pun menggunakan uang si cewek.


Tapi tentu saja Erna tidak menganggap Mumu tidak mempunyai uang sama sekali. Bagai mana pun juga lewat keahlian pengobatannya Mumu bisa dengan mudah untuk mendapatkan uang.


Sambil menunggu pesanannya sampai, Mumu memandang Erna, ingin tahu apa yang sebenarnya yang ingin Erna sampaikan sehingga tiba-tiba dia ingin bertemu dengan Mumu sedangkan mereka bukan lah teman akrab.


Sambil menyandarkan dagunya di punggung tangan, Erna juga tidak berkata apa-apa. Dia hanya memandang ke arah Mumu. Jadi lah mereka saling berpandangan.


Mumu jadi salah tingkah. Sambil memaksakan dirinya untuk tersenyum, Mumu mencoba membuka pembicaraan.


"Bagai mana kabarmu, Erna?" Walau pun dalam hati ia membatin, 'Pertanyaan yang telat'. Tapi ucapan itu lah yang keluar dari bibirnya.


"Hmmm..." Erna tersenyum. Dia merasa senang saat melihat Mumu salah tingkah. Sangat alami, bukan karena dibuat-buat.


"Tentu saja aku baik-baik saja, Mumu. Kamu sendiri bagai mana? Apa kegiatan sekarang?"


"Sama, aku juga baik-baik saja. He he...seperti yang kamu lihat, Erna, aku sekarang masih nganggur."


Tak lama kemudian pesanan mereka sampai. Erna langsung menyantap makanannya.


Dia makan dengan lahap. Ternyata dia memang lapar. Yang Mumu tak habis pikir, dia tidak kelihatan risih pada hal dulu, Erna agak pemalu jika bertemu Mumu.


"Kamu sebenarnya dari mana, Erna? Kelaparan sekali nampaknya."

__ADS_1


"Erna menelan makanannya dan berkata, " Tak ada ke mana-mana, Aku dari rumah, cuma dalam beberapa hari ini memang sedang tak selera makan. Untung saja pas ketemu kamu, selera makan aku timbul lagi."


"Deg!!!" Jantung Mumu tiba-tiba berdebar agak kencang.


Ada sesuatu yang berdesir dihatinya, tapi ia tak tahu apa itu.


"Oh ya, kalau kamu masih nganggur, bagai mana jika kamu kerja di kantor Ayah aku saja? Kebetulan Ayah sedang mencari orang."


Mumu hanya tertawa masam. "Kamu jangan bercanda, Erna. Aku hanya tamatan SMA. Mana mungkin aku bisa kerja di sana. Bagai mana pun juga terima kasih ya atas tawarannya."


"Oh ya, tadi kamu mau ngomong apa sih, sampai-sampai ingin segera bertemu dengan aku?"


Erna mendadak menghentikan suapannya. Dia menatap Mumu dengan pandangan seribu arti, "Sebenarnya tak ada yang urgent, hanya saja aku ingin makan siang bersama kamu."


Mumu yakin bukan itu tujuan Erna ingin bertemu dengannya tapi ia tak ingin mendesak Erna lebih jauh.


Melihat Mumu terdiam, Erna melankutkan ucapannya. "Apakah kamu merasa terpaksa datang dan menemani aku makan, Mumu?"


Mumu segera tersenyum seraya melambaikan tangannya, "Tentu saja tidak, Erna. Siapa juga yang tak ingin diajak makan gratis oleh seorang anak pengusaha, He he."


Mumu sudah pergi setengah jam yang lalu. Walau pun ia bersikeras ingin menemankan Erna di sini hingga selesai tapi Erna menolaknya dengan tegas hingga akhirnya Mumu pun pulang.


Erna menutup wajah dengan kedua telapak tangannya yang halus.


Baru kini dia merasa malu karena telah bertindak terlalu berani di hadapan Mumu tadi.


Erna bersikap seolah-olah dia sudah sangat akrab dengan Mumu, pada hal dia tidak berniat seperti itu.


Hanya saja, berbagai beban yang menyesak di dadanya membuat dia tidak berpikir dan berbuat secara rasional.


Dia merasa malu sekali. Dia tak tahu apa tanggapan Mumu terhadap sikapnya yang tak masuk akal tadi.


Untung saja tidak ada orang lain yang dia kenal di sini sehingga tak ada yang memperhatikan sikapnya yang sembrono tersebut.

__ADS_1


Makanya Erna meminta supaya Mumu bisa pergi dahulu karena dia ingin menenangkan dirinya sebentar.


Erna sedang galau. Tak ada kawan yang benar-benar dia percayai untuk menjadi kawan curhat.


Entah mengapa dia tiba-tiba berpikir tentang Mumu sehingga tanpa berpikir panjang lagi dia telah menghubungi Mumu.


Sudah terlambat untuk membatalkannya. Walau pun akhirnya dia tidak sempat curhat dengan Mumu, paling tidak dia sudah jujur dalam satu hal.


Dia memang benar-benar selera makan karena kehadiran Mumu. Walau pun mereka tak terlalu banyak bicara, dengan kehadirannya saja Erna sudah merasa nyaman sehingga dia pun makan dengan lahap.


Saat mengenang cara makannya tadi, wajah Erna menjadi merah karena malu.


Dalam pada itu, Mumu baru saja sampai di rumah. Ia tak langsung masuk ke dalam. Mumu memilih untuk duduk di teras rumahnya.


Ia kembali teringat dengan segala keanehan sikap Erna hari ini.


Mulai dari mengirim pesan ingin bertemu hingga percakapan dan sikapnya di coffe shop yang seolah-olah menganggapnya sebagai kawan lama.


Ada satu hal yang Mumu yakini, Erna memang ingin mengatakan sesuatu. Sesuatu yang bersifat pribadi. Tapi Mumu tak tahu mengapa dia tiba-tiba tak jadi mengatakan sesuatu itu kepada Mumu.


Memang benar kata orang, wanita itu paling susah untuk dimengerti.


Makanya Mumu merasa agak gugup jika harus berhadapan dengan kaum wanita.


Biar lah ia menghadapi para pejabat dan para pasien lagi, hal tersebut tidak lah membuat ia menjadi serba salah. Malah Mumu masih tetap bisa mempertahankan ketenangannya.


Sangat berbeda jika harus berhadapan langsung dengan para wanita, kadang kala, ia tidak bisa setenang biasanya.


'Siapa itu?' Gumam Mumu dalam hati saat ia melihat sekeliling halaman. Perasaan tadi seperti ada yang melihat ke arahnya.


Mumu ingat ini adalah perasaan yang sama waktu itu sehingga melihat dengan panca indra pasti tidak akan berhasil.


Oleh karena itu ia segera menerapkan kekuatan spiritualnya untuk memeriksa keadaan sekitar.

__ADS_1


Benar saja. Ada sesuatu di bawah pohon mangga di samping rumahnya.


Saat Mumu mencoba untuk lebih memperhatikan sesuatu itu, rupanya sesosok tubuh itu menyadari bahwa Mumu mampu menemukannya sehingga dengan gerakan secepat kilat, sosok tersebut kembali hilang dari pantauan kekuatan spiritualnya. Jelas sosok tersebut mengambil jarak agak jauh.


__ADS_2