
Dia memungutnya dengan penasaran dan memutuskan akan membukanya saat di hadapan istri dan anaknya.
Pak Sukamto sekali lagi melihat sekeliling, setelah yakin memang tak ada orang, dia kembali menutup dan mengunci pintu rumahnya.
Sekarang sudah masuk tengah malam, apakah barusan adalah hantu yang mencoba menganggu dia dan keluarganya?
Bulu kuduk Pak Sukamto meremang, dia bergegas mendapati istri dan anaknya yang masih duduk di ruang tamu.
Setelah memastikan Pak Sukamto telah mengambil barang tersebut, Mumu yang melihat dari bawah bayang-bayang kegelapan pun tersenyum lega. Bagaikan burung walet Mumu segera meloncati pagar dengan ringan dan berlalu dari sana.
Saat Mumu sampai di rumahnya, waktu sudah menunjukkan pukul empat dini hari.
Mau tidur pun rasanya tanggung, sebentar lagi masuk waktu subuh.
Jika tidur sebentar malah membuat kepala terasa sakit saat bangun, mending tidak tidur sama sekali.
Setelah minum air putih seteguk, Mumu memulai proses meditasinya. Hanya sebentar saja ia sudah larut dalam kekhusukan meditasinya. Ia memproses nafas naik turun dengan teratur, seperti bayi, begitu alami tanpa paksaan oleh saraf-saraf tubuh yang lain.
Saat azan subuh berkumandang, Mumu menghentikan proses meditasinya. Badannya kembai terasa segar, sangat enerjik. Tanpa Mumu sadari ada semacam aura yang keluar dari tubuhnya yang membuat orang akan merasa nyaman dan tenang saat berada di sisinya.
Mumu maraton pagi. Rencananya ia hanya berlari sekitar jalan depan rumahnya saja.
Entah mengapa tiba-tiba teringin pula ia pergi ke pantai Dorak, sehingga ia melanjutkan maratonnya menuju jalan Dorak ujung.
Udara pagi sangat menyegarkan. Mumu maraton dengan langkah yang stabil. Sesekali ia akan melewati beberapa orang yang juga sedang maraton, tapi dibandingkan dengan mereka, lebih banyak yang berolah raga pagi dengan sepeda. Sekarang sedang tren sepeda lipat, bahkan sebuah toko sepeda di jalan Pramuka membuka usaha sewa sepeda satu jam dua puluh lima ribu rupiah. Setiap pagi minggu pasti banyak yang menyewanya.
Saat Mumu sampai di pelabuhan Dorak, ada beberapa orang yang sedang duduk santai di bebatuan gunung yang sengaja disusun di bibir pantai. Bebatuan itu berguna untuk memecah ombak dan menahan gelombang sehingga pantai tidak menjadi abrasi.
__ADS_1
Ada juga beberapa orang yang berjualan es keliling, air tebu dan bakso bakar yang ditusuk pakai lidi.
Mumu duduk dengan santai di salah sebuah batu yang hampir menyentuh air laut. Kala itu air laut sedang pasang.
Kira-kira seratus meter jaraknya dari Mumu, tepatnya sebelah kanan dari posisinya saat ini, ada dua orang wanita yang juga sedang duduk menikmati pemandangan air laut.
Awalnya Mumu tak terlalu memperhatikan kedua wanita itu. Karena memang hal yang biasa bagi orang-orang yang bersantai di sini, bagaimana pun juga, kota Selatpanjang tak banyak tempat hiburan yang bisa dikunjungi sehingga pantai ini menjadi salah satu pilihan di antara yang ada.
Tapi pemikiran Mumu dengan cepat berubah saat salah seorang wanita yang menggunakan jilbab pink itu tanpa sengaja menoleh ke arahnya. Sebenarnya tidak tepat juga dikatakan menoleh ke arah Mumu karena pada dasarnya wanita itu kebetulan melihat sebuah kempang yang lewat yang kebetulan searah dengan posisi Mumu duduk.
Saat melihat wajahnya, tenggorokan Mumu mendadak kering. Ia sudah sering melihat wanita cantik, baik itu Mirna, Mala, Erna ataupun Fatma, mereka semua cantik-cantik, tapi dibandingkan dengan wanita yang berjilbab pink ini, kecantikan mereka semua seolah-olah menjadi pudar.
Ada hal lain yang membuat jantung Mumu berdetak lebih kencang, bukan hanya kecantikan wajahnya saja, tapi juga ada sisi kelembutan di sana sehingga Mumu merasa tidak puas jika hanya memandangnya sebentar.
Mumu hanya sebentar dalam posisi seperti itu, ia dengan cepat menenangkan dirinya, bagaimana pun juga tidak bisa menilai pisang hanya dengan melihat kulitnya. Begitu juga dengan wanita, Mumu tak ingin salah langkah hanya karena terpesona oleh kecantikannya.
Lagi pula wanita tersebut kelihatan agak dewasa dibanding Mumu. Mungkin umurnya sudah masuk dua puluh satu atau dua puluh dua tahun. Tapi itu hanya perkiraan Mumu saja, karena penampilan seseorang bisa saja menipu.
Dalam pada itu wanita satu lagi yang menggunakan jilbab coklat berkata kepada wanita yang berjilbab pink, "Lihatlah pemuda yang duduk di sana itu, Wulan! Dia sampai tak berkedip melihat kamu." Wanita itu terkikik geli. "Aku sudah bilang kamu harus memakai cadar, Wulan, biar para laki-laki tidak kesemsem saat melihatmu."
"Yang mana?" Wanita yang dipanggil dengan nama Wulan mengalihkan pandangannya ke arah Mumu, tapi saat itu Mumu sudah tidak melihat ke arah mereka berdua. Ia sedang melihat ke arah laut.
"Ha ha rupanya dia pemuda yang pemalu, Wulan, dia langsung mengalihkan pandangannya saat kamu memandangnya."
"Hush.....tak baik menghina orang lain, Lisa!" Ujar Wulan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Lisa.
Lisa hanya terkekeh senang menanggapi teguran sepupunya itu.
__ADS_1
"Pulang yuk, Wulan! Aku lapar."
"Sebentar lagi, Lisa, aku masih ingin menenangkan diri di sini."
"Tapi aku lapar...." Rengek Lisa manja.
"Kamu pulang saja sana! Biar kami yang menemani kakak yang cantik ini he he..." Lima orang remaja tanggung tiba-tiba datang dan langsung duduk mengelilingi Wulan dan Lisa.
"Mau apa kalian hah? Pergi dari sini!" Hardik Lisa.
Berderai tawa kelima remaja tanggung itu saat melihat Lisa marah. Bukannya takut, mereka malah tambah berani, malah salah seorang dari mereka berusaha menjawil dagu Lisa.
"Jangan kurang ajar kamu ya!" Lisa berusah mundur tapi tubuhnya langsung ditahan oleh remaja yang lain.
Sedangkan Wulan juga tak bebas bergerak saat dua orang remaja yang lain berusaha duduk di sebelah kiri dan kanannya.
"Jangan macam-macam, Dik! Kalau tidak saya akan berteriak." Ancam Wulan.
"Ha ha teriak saja, Kak. Kami kan tidak berbuat macam-macam, kami kan hanya duduk menemani kakak..." Remaja itu makin berani, malah mereka ingin memegang tangan Wulan. Wulan berusaha menghindar tapi tak bisa.
Mumu melihat jam tangannya, sudah jam tujuh pagi. Orang-orang sudah banyak yang pulang, hanya tinggal abang-abang yang jualan minuman es dan dua tiga orang yang duduk bersantai di bebatuan.
Ternyata kedua wanita itu juga masih ada. Saat Mumu menoleh ke arah mereka, ia melihat lima orang remaja yang mendekati kedua wanita tersebut. Dari tindakan mereka sudah jelas mengandung niat tak baik.
Mumu bergegas ke sana. Saat ia sampai, dua orang remaja ingin memegang tangan wanita yang berjilbab pink sadangkan remaja lain sedang menggoda si wanita berjilbab joklat.
Mumu sangat geram melihat tindakan kelima remaja tersebut, tanpa peringatan apa pun Mumu langsung melayangkan tendangan beruntun ke arah remaja itu.
__ADS_1