
Saat suasana panas semakin memuncak, orang bengkel segera turun dari motornya dan menyela pertengkaran mulut yang sedang terjadi.
"Maaf Bapak-bapak, motor yang hilang merek apa ya, Pak?"
"Kenapa kamu nanya?" Tanya Bapak yang kehilangan motor itu tidak senang.
Dia sudah berada di atas angin, tinggal selangkah dua langkah lagi dia akan bisa menskak mat pemilik toko yang teledor tersebut tiba-tiba ada pula seseorang yang bertanya sok baik.
"Ya...mana tahu kita-kita yang di sini pernah melihatnya, Pak."
Bapak itu mendengus tapi tidak menjawabnya.
"Kenapa Bapak tak mau menjawab pertanyaan anak muda itu? Apa Bapak takut ketahuan bahwa sebenarnya motor Bapak tidak hilang tapi Bapak sengaja ingin memburukkan nama toko saya?"
Mendengar sindiran dari laki-laki pemilik toko, Bapak tersebut meradang.
"Siapa bilang saya tak mau mejawabnya hah?" Bapak itu mengeluarkan dompetnya, mengambil STNK lalu melampaikan kepada orang-orang, "Ini merek motor saya, ini nomor BM saya dan namanya juga nama saya." Ujarnya dengan nada puas. Dia melirik orang-orang yang hadir seolah-olah ingin mengatakan bahwa dia adalah pria yang jujur dan kata-katanya sangat bisa dipercaya.
Karena orang bengkel tersebut berada di depan Bapak yang kehilangan motor sehingga dia secara otomatis dapat langsung membaca informasi yang ada di STNK tersebut.
Sebelum ke sini tadi, dia telah melihat dan menghafal nomor BM motor yang dibawa Pak Amat. Ternyata nomor BMnya sama persis dengan yang tertera di STNK ini.
"Begini, Pak..."Orang bengkel tersebut lalu menjelaskan kepada Bapak yang kehilangan motornya kejadian yang sebenarnya dengan suara pelan. Sepanjang ceritanya, entah berapa kali Bapak yang kehilangan motor itu mendelik ke arah Pak Amat, oleh karena jauh-jauh hari orang bengkel yang baik hati itu sudah menjelaskan kondisi Pak Amat yang pelupa dan mohon dengan sangat agar tidak mempersulit orang tua itu, akhir Bapak yang kehilangan motor tersebut pun menerimanya walaupun dengan hati mengkal.
Pak Amat sendiri hanya cengar cengir saat ditatap oleh orang-orang.
Dia tak tahu apa yang dibicarakan oleh orang-orang itu karena sebelumnya sudah diminta untuk tidak mendekati kerumunan orang-orang tersebut.
Akhirnya masalah itu pun selesai tanpa ada perselisihan lagi.
Pak Amat langsung pulang setelah mengambil motornya yang memang masih terparkir di sudut toko.
Bapak yang kehilangan motor tersebut menjemput motornya di bengkel dengan dibonceng oleh pemilik bengkel tersebut.
__ADS_1
Sebenarnya ini bukanlah pertama kalinya Pak Amat pelupa, walaupun dia tak akan setuju jika dikatakan dia seorang pelupa.
Pernah suatu hari Pak Amat pergi undangan pesta nikah di desa Padang Kamal. Saat pulang, dia lupa membonceng istrinya.
Lebih parahnya lagi dia tak menyadarinya malah marah-marah ketika sampai di rumah tapi istrinya tidak datang untuk membukakan pintu dan menyambutnya.
Untunglah ada tetangga yang juga pergi undangan sehingga bisa memberikan tumpangan kepada istrinya saat pulang sendiri.
Karena penyakit pelupa Pak Amat kian hari kian parah, Buk Rofeah, istri beliau mengajak Pak Amat untuk berobat ke Rumah Sakit.
Pak Amat mencak-mencak karena marah. Dia tidak merasa ada penyakit kenapa harus dibawa ke Rumah Sakit.
Dia sangat marah kepada istrinya yang mempunyai pikiran yang nyeleneh karena mau membawanya ke Rumah Sakit.
Buk Rofeah sakit kepala melihat tingkah Pak Amat. Dia curhat sana curhat sini. Akhirnya dia mendapat kabar kalau di Selatpanjang ada tabib muda yang mempunyai ilmu pengobatan sundul langit.
Yang mampu mengobati berbagai penyakit yang mustahil untuk disembuhkan.
Buk Rofeah sudah dapat nomor telpon tabib tersebut. Tapi dia masih ragu mau menelponnya. Takut tabib itu lagi sibuk, ada juga terselip keraguan di hatinya apakah tabib tersohor itu mau datang ke rumah mereka. Selain itu juga Buk Rofeah takut jika dia tak mampu membayar jasa tabib itu.
Mumu menarik dan menghembuskan nafasnya. Ia bisa merasakan bahwa tenaganya mengalir di dalam tubuhnya sesuai keinginan yang diperintahkan melalui pikiran.
Saat ini mengontrol tenaga dalamnya bagaikan menggerak-gerakkan kedua tangannya sendiri, lebih mudah.
Melalui mata batinnya, Mumu melihat aliran tenaga dalam yang mengalir di sekujur tubuhnya, memperkuat organ-organ dalam tubuh sehingga bisa berfungsi dengan lebih maksimal.
Saat Mumu sedang mengendalikan tenaga dalamnya tanpa sadar matanya melihat bintik-bintik hitam di jari tangan kirinya.
Saat Mumu memperhatikan dengan seksama, ia segera tahu apa itu. Bintik-bintik hitam tersebut adalah sisa-sisa racun yang ia keluarkan dari tubuh Bang Randi. Tak disangka bahwa sisa racun itu ternyata menempel di jari-jarinya.
Mumu segera memindai seluruh tubuhnya sekali lagi, mana tahu ada sisa racun yang luput dari pantauannya. Jika hal itu terjadi tentu bukan berita baik baginya.
Setelah memindainya sampai tiga kali untuk memastikan, ternyata tidak ditemukan sisa racun di tubuhnya, kecuali di jari tangan kirinya.
__ADS_1
'Jenis racun apa ini?' Mumu penasaran.
Ia mencoba meneliti asal muasal racun tersebut.
Setengah jam berlalu dalam sekejap. Mumu meluruskan badannya, ia menghela nafasnya dengan berat.
Dari pengamatannya barusan, ia bisa mengimpulkan bahwa racun tersebut terbuat dari getah pohon, lebih tepatnya gabungan dari berbagai getah pohon. Entah siapakah yang mempunyai kemampuan beramu getah pohon menjadi racun yang sangat kuat tersebut.
Mumu menduga ada sekitar tujuh belas jenis getah pohon yang diramu menjadi satu, tapi ia tidak bisa mengetahui jenis getah kayu apa dan berapa takaran dari masing-masing getah kayu tersebut.
Mumu segera mengendalikan racun itu dengan pikirannya. Ia ingin memusnahkan racun tersebut agar tidak membahayakan dirinya secara tidak sengaja pada masa yang akan datang.
Saat tenaga dalamnya bersiap memusnahkan racun tersebut, Mumu menghentikan tindakannya dengan tiba-tiba.
'Bagaimana jika racun ini ia manfaatkan saja sebagai senjata rahasia?'
Mumu kembali meneliti racun tersebut, apa kah ada metode yang cocok jika racun tersebut tetap disimpan di dalam tubuhnya tanpa membahayakn dirinya sendiri.
Setelah beberapa menit berpikir, Mumu kembali menggerakkan pikirannya, memerintahkan tenaga dalam yang tak kasat mata membawa sisa racun tersebut hingga berhenti di ujung jari tangan kirinya lalu ia menyimpannya dengan aman di sana.
Ini bisa menjadi modal tambahan baginya jika ingin membuat musuh hingga tak berdaya.
Tentu saja ia harus bisa menggunkan racun tersebut dengan bijak laksana.
Setelah selesai, Mumu segera keluar dari kamarnya. Tubuhnya berkeringat. Mumu memutuskan untuk duduk santai dulu baru berencana mau mandi.
"Bib....bib...bib...."
Handphonenya tiba -tiba berdering. Mumu melirik sebentar, tak ada nama, lagi-lagi nomor baru.
"Hallo dengan siapa ini?" Tanya Mumu dengan sopan.
"Dengan Nisa, Bang." Terdengar suara wanita dari seberang telpon.
__ADS_1
"Nisa?" Alis Mumu bertaut. Rasanya ia belum pernah kenal dengan wanita bernama Nisa ini....