
Mumu menghela nafasnya. Ada saja orang yang mencari masalah dengan memaksakan egonya terhadap orang lain. Seperti tidak ada kerjaan lain saja.
"Jangan memaksa orang, Bang. Saya sudah mengatakan apa yang perlu saya katakan Kita duduk saja sesuai nomor yang di tiket. Jika Abang masih ngotot juga Abang bisa pindah ke tempat lain, kan masih banyak kursi yang dekat jendela. Habis perkara."
Sebagian penumpang menoleh tak senang kepada Mumu karena tak mau mengalah sebagian lagi hanya melihat pemuda atletis itu dengan pandangan jijik.
"Oh jadi kamu berani sama saya ya..." Saat mengatakan kata 'berani', pemuda itu mengangkat tangan kirinya untuk mencekal kerah baju Mumu.
Jika dia sudah bertindak kasar jarang yang berani melawannya bagaimana pun juga dia adalah seorang ahli bela diri yang sudah diakui oleh saudara seperguruannya dalam hal kekuatan. Di perguruannya tak banyak orang yang bisa mampu melawannya kecuali para pelatih senior, tapi hari ini ads yang bersni menantangnya tak kenal tingginya langit dan dalamnya bumi. Dia ingin membuat orang kampung ini tahu di mana tempat dia berada.
Para penumpang menatap sedih ke arah Mumu.
'Habislah sudah' Pikir mereka.
"Jangan berkelahi! Ini ambil saja kursi saya." Seorang pria paruh baya menawarkan, mencoba meleraikan perkelahian itu. Tapi tentu saja pemuda atletis itu tidak mau mendengarkan. Tangannya tetap maju untuk mencekal kerah baju Mumu.
Dalam skenarionya, saat tangan kirinya mencekal kerah baju orang kampung ini lalu tangan kanannya akan maju dan menyerang wajahnya, jika ada perlawanan maka akan dilanjutkan dengan serangan kaki mengarah ke dada, biasanya serangan tersebut sudah cukup membuat lawannya jatuh pingsan.
Rupanya pemuda atletis itu terlalu banyak berpikir, sebelum tangan kirinya mengenai kerah baju Mumu, tiba-tiba tangannya sudah terpelintir.
"Ahkgh....!!!" Dia menjerit kesakitan sembari membalikkan badannya dan menyerang wajah Mumu menggunakan siku tangan.
Walaupun dia kesakitan tapi masih bisa melancarkan serangan, ternyata dia seorang pemuda yang bisa berpikiran tenang dalam menghadapi masalah.
Sayangnya serangannya sadis juga. Jika sempat mengenai sasaran, gendang telinga Mumu bisa rusak dan seandainya kena mulut, sudah dapat dipastikan mulutnya akan pecah dan giginya patah.
Untung saja Mumu bukan lah orang sembarangan. Walaupun belum lama berkecimpung dalam dunia bela diri tapi pengalaman bertarungnya melebihi sebagian orang yang sudah lama berkecimpung di sana.
Mendapat serangan beringas tersebut tidak lah membuat Mumu menjadi gugup, saat siku lawan datang, Mumu langsung memapasnya dengan jentikan.
Pemuda itu tersenyum sinis melihat serangan Mumu hanya berupa jentikan sebuah jari.
Seberapa kuatlah sebuah jari, 'Apakah orang ini hanya pura-pura paham tentang ilmu tata bela diri?' gumam pemuda itu.
"Aaaaakkkhhhhh.....!!!!" Seringai pemuda atletis itu berubah menjadi jeritan setinggi langit saat jentikan yang tampak sepele itu telah menyebabkan sambungan sikunya lepas.
__ADS_1
Pemuda itu langsung tergeletak tak berdaya. Tak ada yang berani menolongnya.
Para penumpang hanya mencuri-curi pandang terhadap Mumu, tak berani menatapnya langsung, apa lagi para penumpang yang awalnya menyalahakan Mumu karena tak mau mengalah.
Patutlah pemuda sederhana itu berani melawan, rupanya dia ada ilmu yang bisa diandalkan, pikir orang-orang tersebut.
Mumu mengangguk ke arah pria paruh baya yang sempat menawarkan kursinya namun tidak digubris pemuda atletis ini.
Kep speed boat terus menjalankan speed boatnya. Dia tahu ada perkelahian tapi dia hanya melihat sekilas tanpa bermaksud ikut campur.
Setelah dikalahkan dengan telak, pemuda itu tak berani lagi bikin ulah, tanpa melihat ke arah Mumu dan tanpa peduli dengan pandangan para penumpang yang lain, pemuda atletis itu menyeret langkahnya menuju bagian belakang kapal, di dekat mesin.
Dia tak punya nyali untuk duduk bersebelahan dengan Mumu sehingga dia lebih baik menyingkir.
Mumu tahu bahwa pemuda itu tak akan menerima dirinya dipukuli begitu saja, nyatanya melalui kekuatan spiritualnya, Mumu bisa mengetahui bahwa pemuda atletis tersebut langsung menelpon seseorang.
Mumu tak tahu siapa yang ditelponnya, yang jelas ia tak terlalu peduli.
Ia berprinsip tidak suka mencari masalah tapi jika masalah itu datang menggedor-gedor rumahnya maka ia akan menyelesaikan masalah tersebut sampai tuntas.
Bak kata pepatah, musuh jangan dicari, kalau sudah ketemu jangan lari.
Lebih kurang satu jam kemudian speed boat merapat di pelabuhan Perawang.
Setelah keluar dari speed boat para penumpang langsung masuk ke Bus yang akan membawa mereka ke pelabuhan Buton. Nanti baru dilanjutkan lagi ke Selatpanjang dengan mengendarai Speed Boat yang lain.
Karena Mumu tidak pulang ke Selatpanjang, saat sampai di jalan besar, Mumu langsung turun dari Bus.
Setelah itu ia langsung ngojek menuju Istana Siak yang menurut tukang ojek tersebut memerlukan waktu sekitar satu jam tiga puluh lima menit.
"Berhenti, Bang! Berhenti!!"
Pemuda atletis itu terlambat menyadari bahwa Mumu ternyata turun dari Bus.
Saat dia tahu, Bus sudah jauh meninggalkan persimpangan jalan masuk ke pelabuhan Perawang tadi.
__ADS_1
Pemuda itu menendang kerikil di jalanan dengan marah saat tak ketemu tukang ojek di sekitar jalan tersebut.
Dia langsung menelpon seseorang.
"Target ternyata turun dari Bus. Dia tidak pulang ke Selatpanjang. Dia pasti langsung ke Siak kota."
"Kenapa kamu bisa lalai memantau dia? Cepat kejar dia! Kami bergerak ke sana sekarang." Suara di seberang menegur marah.
Wajah pemuda atletis itu berubah merah, tapi dia berusaha menahan amarahnya.
"Baik lah....baik lah..."
Dia menutup telponnya dengan geram dan sekali menendang kerikil melampiaskan amarahnya.
Sepuluh menit kemudian barulah ada tukang ojek yang lewat. Tapi pemuda atletis itu bingung harus mencari ke mana.
Mumu tentu saja tak tahu apa yang dilakukan oleh pemuda atletis itu. Saat ini ia sudah memasuki kawasan perkotaan Siak dan mulai memasuki kampung dalam.
Setengah jam kemudian, Mumu berdiri di depan Istana Siak Sri Indrapura yang juga dikenal sebagai Istana Matahari Timur.
Istana yang baru selesai dibangun pada tahun 1893 itu masih tampak megah.
Masjid Syahabuddin berjarak sekitar 500 meter dari Istana Siak. Mumu tidak memasuki istana tapi ia dengan langkah pelan menuju Masjid Syahabuddin karena sebentar lagi akan masuk waktu Zuhur.
Mumu memutuskan untuk sholat dan beristirahat di sana sambil mengatur rencana selanjutnya.
Terus terang ia tak tahu mau ke mana selanjutnya karena ia datang ke Siak ini tidak ada tujuan yang pasti.
Ia hanya mengikuti dorongan hati.
Sehingga ketika sudah sampai di sini ia jadi bingung sendiri.
Setelah selesai sholat zuhur Mumu tiduran sebentar di serambi masjid.
Rencananya setelah istirahat ia ingin mencari kedai makan untuk mengisi kampung tengah yang sudah mulai berontak.
__ADS_1
Saat itu lah ia melihat seraut wajah yang tampak familiar melintas di halaman masjid.
Mumu langsung berdiri dan bergegas ke sana.