
"Ahhhhh.....!!!!" Dia menjerit. Wajahnya merah padam menahan sakit sedangkan urat bertonjolan di lehernya. Setelah satu menit menahan rasa sakit yang tak manusiawi itu, orang misterius kembali menekan telapak kakinya, secara ajaib rasa sakit kembali hilang tak berbekas. Mizan berusaha mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
"Saya tak ingin bicara banyak, jika kamu masih menolaknya, saya akan membalikkan aliran darahmu. Tentu saja kali ini lebih lama. Saya harap kamu masih bisa bertahan dengan sikapmu."
Mizan menggertakkan giginya. Ada keengganan di sana, di sisi lain dia juga takut dengan metode yang digunakan oleh orang misterius ini, sakitnya luar biasa. Jangankan bertahan untuk waktu yang lama sedangkan satu menit saja sudah membuat dia terken*ing-ken*ing di celana.
"Baiklah...baiklah...." Mizan tak berdaya. Mimpi apa dia semalam?
Belum pernah dia digertak apa lagi sampai diancam orang, tapi hari ini ternyata hal yang mustahil itu benar-benar terjadi.
Mizan hanya bisa meratapi nasib si*lnya ini.
Mizan hanya bisa mem*ki di dalam hati, para penjaganya yang tak berguna itu, bisa-bisanya mereka tak tahu jika ada penjahat yang masuk ke rumahnya bahkan mengancam dan menyiksanya.
Apa gunanya mereka dia bayar dengan mahal jika tak mampu untuk menjaga selembar nyawanya ini.
Setelah tubuhnya tak kaku lagi, Mizan segera menuju salah satu sudut kamarnya, dia memencet tombol, jika dilihat sekilas tombol itu sama saja dengan stop kontak yang lain, tapi saat tombol tersebut dipencet terdengar suara gesekan.
Sebuah pintu yang menyerupai dinding tiba-tiba terbuka.
Mumu mengikuti Mizan masuk ke ruangan tersebut.
Ruangannya kira-kira berukuran 4x4 meter persegi. Tak ada benda lain di ruangan rahasia tersebut selain berbagai macam brangkas yang tertata rapi, berderet-deret.
"Mau mengambil surat perjanjian pinjaman atas nama siapa?" Tanya Mizan dengan wajah masam.
"Sukamto."
"Sukamto?" Mata Mizan sedikit bercahaya saat menyebut nama itu. Tentu saja hal itu tidak luput dari pandangan Mumu.
"Sukamto mana?" Tanya Mizan.
__ADS_1
"Apakah ada Sukamto lain?" Mumu tersenyum mengejek. Ia tahu Mizan hanya ingin memastikan dipihak mana ia.
Setelah memastikan bahwa memang benar itu adalah surat yang ia maksud, Mumu cepat-cepat keluar setelah terlebih menotok jalan darah Mizan. Kali ini selain tidak dapat begerak dia juga tidak bisa bicara. Hanya kedua bola matanya saja yang mendelik melihat Mumu pergi dengan tenang.
Untung saja orang misterius itu hanya mengambil sebuah surat perjanjian hutang, jika saja dia mengambil semuanya dan membunuh dia dan istrinya, maka Mizan tak akan bisa berbuat apa-apa.
Dia bergidik ngeri. Orang seperti ini tidak bisa dijadikan lawan. Walaupun dia kejam, tapi Mizan tahu batasnya sehingga dia tak ingin menggali kuburnya sendiri dengan menjadikan orang misterius itu musuhnya.
Karena Sukamto, direktur PT. Sagu itu ada kaitannya dengan orang misterius tadi, maka dia perlu memastikan anak buahnya untuk mencari masalah dengan Sukamto dan keluarganya lagi.
Dia yakin jika orang misterius itu datang ke rumahnya lagi, maka tentu bukan hanya selembar surat perjanjian hutang yang diinginkannya, kemungkinan besar nyawanya yang selembar tipis ini pun akan ikut melayang.
Saat memikirkan anak buahnya, Mizan kembali memaki di dalam hati.
...****************...
Saat Mumu keluar dari kamar Mizan, seorang gadis yang memakai baju tidur tapi anehnya dia membungkus rambutnya dengan handuk seperti turban seolah-olah baru habis mandi melihatnya dari kejauhan, "Hei, siapa kamu?" Teriaknya. "Pengawal...! Pengawal....!!! Ada maling...!"
Tiba-tiba dua orang pria menghadangnya, menutup jalan keluar.
Tak ada cara lain, Mumu tak menghentikan larinya, saat hampir sampai di hadapan kedua orang pria tersebut, sambil menghindari tendangan dan memapasi pukulan kedua pria itu dalam waktu yang bersamaan, Mumu menghadiahkan sebuah tendangan tepat di tulang kering salah seorang pria sehingga menimbulkan bunyi 'krakk' yang menandakan bahwa tulang kering pria tersebut telah patah.
Sedangkan pria yang satunya lagi juga mengalami nasib naas, saat tinju Mumu dengan telak menghantam dadanya sehingga dia terpelanting menghantam dinding.
Memanfaatkan situasi tersebut Mumu kembali berlari menuju pintu belakang yang tidak dijaga sehingga ia dengan mudah keluar, melompati tembok dan hilang di kegelapan malam.
Gadis yang berteriak tadi hanya bisa melongo melihat dua orang pria jagoan Ayahnya takluk dalam hitungan detik oleh pria misterius itu.
Saat anak buah ayahnya yang lain berlari mengejar pria misterius itu, gadis tersebut dengan tergesa-gesa membuka pintu kamar orang tuanya. Dia sangat mengkhawatirkan nasib kedua orang tuanya karena dia tahu pria misterius tadi keluar dari sini.
"Ayah! Ibu! Kalian di dalam?" Gadis tersebut memanggil sambil mendorong pintu.
__ADS_1
"Ayah, Ibu! Kalian kenapa?!" Gadis itu segera berlari mendapatkan Ayah dan Ibunya terbaring dalam posisi aneh.
Ibunya seperti pingsan sedangkan Ayahnya terbaring terlentang, matanya terbuka tapi dia hanya melihat tanpa berkata apa pun.
Gadis itu panik, dia segera berdiri, memencet tombol bel yang tersembunyi di samping tempat tidur.
Pada saat itu, Mumu sudah berada di atas motornya sedang melaju dengan pelan melewati Gg. Bambu terus maju, sesekali ia berbelok ke kiri dan ke kanan. Lebih kurang sepuluh menit kemudian ia muncul di jalan Rintis lalu berbelok ke kiri terus melaju dengan kecepatan yang stabil.
Tiba di perempatan jalan, ia berbelok ke kanan, ke arah jalan Kartini.
Sampai di depan gedung Fitness, ia memarkirkan motor di sana, lalu kembali berjalan kaki menyusuri jalan yang mulai sunyi.
Sampai di depan sebuah rumah yang megang, Mumu masuk dengan meloncati pagar lalu dengan berindap-indap ia mendekati depan rumah.
Mumu tahu rumah ini tidak dipasang kamera CCTV sehingga ia bisa bergerak dengan leluasa.
Saat itu di ruang keluarga tampak duduk tiga orang dengan wajah murung, satu orang pria dan dua orang wanita yang satu masih muda sedangkan yang satu lagi sudah dewasa.
"Aku sudah memutuskan tidak akan menyerahkan Erna apa pun yang terjadi, Besok aku akan langsung menemui Mizan di rumahnya." Ucap pria itu dengan nada berat.
"Tapi, Yah, kamu kan tahu konsekuensinya seperti apa? Mizan itu sudah sangat terkenal dengan triknya yang kejam."
"Makanya besok pagi Erna harus cepat-cepat pergi dari sini. Biar dia tinggal di Pekanbaru untuk sementara waktu."
"Tok tok tok." Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Mereka bertiga saling pandang dengan jantung berdebar.
Pak Sukamto berjalan ke depan, dia mencoba mengintip melalui jendela tapi tidak kelihatan seorang pun.
Dengan memberanikan diri, Pak Sukamto mencoba membuka pintu, dia melirik ke kiri dan ke kanan tapi tidak ada siapa-siapa.
Pada hal tadi sangat jelas suara ketukan di pintu.
__ADS_1
Saat Pak Sukamto akan menutup pintu, matanya melihat ke bawah, ada sesuatu di lantai.