
Tak lama kemudian Tuk Udin pun ikut bergabung dengan mereka merayakan kegembiraan atas kesehatan Siti Aisyah.
Di samping rasa haru dan bersyukur atas kesembuhan Siti Aisyah, mau tak mau mereka menatap kagum terhadap sosok anak muda yang sedang duduk di sudut memulihkan tenaganya.
Selain Tuk Udin, mereka yang ada di sini sebenarnya telah meremehkan Mumu karena tak mungkin orang semuda itu mempunyai ilmu yang mumpuni.
Akhirnya bukti lah yang berbicara sehingga mereka dengan paksa menelan penilaian mereka yang keliru tersebut.
Di saat mereka masih tenggelam dalam kebahagiaan, entah sejak kapan Mumu sudah berdiri tak jauh dari mereka dan berkata, "Mari ikut saya sebentar, Tuk! Kita membuang benda-benda yang di tanam di rumah ini sebelum mereka kembali melakukan serangan."
Bukan hanya Tuk Udin, mata orang-orang yang hadir semuanya menatap Mumu.
Bukannya mereka tak mau menyingkirkan benda yang membahayakan tersebut, cuma mereka sudah kewalahan mencari tapi tidak pernah ketemu.
Dari kata-kata Mumu, apakah dia mengetahui letak benda tersebut? Bukan kah dia baru sore tadi ke sini? Apakah semudah itu menemukan benda yang mereka sendiri tak bisa menemukannya?
Saat sekali lagi mereka melihat wajah pemuda yang masih tampak pucat itu, mereka hanya mendapati keseriusan di sana.
Ekspresi terkejut terukir di wajah mereka semua.
Apakah ilmu anak muda ini setinggi itu? Yang bisa mendeteksi benda-benda yang tak bisa dideteksi oleh ilmu Tuk Udin dan Nenek Kam? Siapa kah gurunya dan dimana lah dia belajar?
Setelah terdiam sejenak akhirnya Tuk Udin pulih dari keterkejutannya dan berkata, "Mari, Mumu. Tunjukkan jalannya."
Mumu pun melangkah ke luar dari ruangan tersebut, ternyata bukan hanya Tuk Udin yang mengikuti Mumu, Nenek Kam, Pak Lukman dan istrinya serta Siti Aisyah pun ikut serta.
Mereka sangat penasaran apa benar Mumu bisa menemukan benda-benda yang diletakkan di dalam rumah mereka.
Dengan menggunakan kekuatan spiritualnya Mumu memindai seluruh rumah tak lama kemudian ia mendekati salah satu sudut rumah dan berkata, "Tolong buka keramik ini, ada satu di bawah."
__ADS_1
Mata Pak Lukman menatap ragu ke arah Mumu kemudian berpindah ke Tuk Udin, apakah Mumu sedang membuat lelucon, bagaimana mungkin benda ada di sana tanpa ada tanda-tanda keramik pernah dibongkar.
Tuk Udin juga sedikit ragu, tapi dia lebih cepat menghilangkan keraguannya dan berkata dengan nada tegas, "Lakukan saja perintahnya."
Mendengar hal tersebut Pak Lukman langsung berlari ke gudang untuk mengambil peralatan.
Tanpa menunggu lama dia pun kembali dan langsung mencongkel keramik rumahnya.
Agak sulit memang, sepuluh menit kemudian, saat keramik itu berhasil disingkirkan, mata semua orang kecuali Mumu tentunya dikejutkan dengan sebuah benda yang dibungkus kain putih, seperti kain kafan tergeletak di sana.
Dengan membaca beberapa doa-doa Tuk Udin segera menyambar benda tersebut dan membukanya.
Ternyata di dalamnya ada sesobek kain yang Tuk Udin percaya itu adalah bagian dari tali pengikat mayat, ada tanah kuburan, tujuh jenis besi yang berukuran satu inchi dan entah barang apa lagi yang mereka semua tidak mengenalinya.
Tuk Udin dan Nenek Kam tanpa sadar menghela nafas sembari menoleh ke arah Mumu, Tak ada kata-kata yang bisa mereka ucapkan selain kekaguman yang semakin bertambah dan bertambah terhadap sosok anak muda yang kelihatan sederhana tersebut.
Mereka semua yakin tanpa bantuan Mumu, mungkin seumur hidup mereka tak akan pernah menemukan benda tersebut.
Di sisi lain, mata Siti Aisyah berbinar-binar melihat kehebatan sosok Mumu yang terus memberikan kejutan demi kejutan. Dia belum pernah menjumpai seorang pemuda yang luar biasa seperti pemuda yang di depannya ini. Tanpa sadar hatinya berdesir saat menatap sosok pemuda yang masih tampak kelelahan tersebut.
Ini hanya lah permulaan. Masih banyak benda yang berhasil Mumu deteksi seperti saat ini Mumu berkata, "Coba cek di dalam kamar ini! Di bagian bawah lemari." Mumu menunjuk kamar yang di depan, ternyata adalah kamar pribadi Pak Lukman, sehingga Mumu memilih untuk tidak ikut masuk ke dalam.
"Tapi tidak ada apa-apa di bawah lemarinya, kami sudah pernah mencari di situ." Walau pun Pak Lukman sudah mulai percaya terhadap Mumu tapi dia tak bisa tidak untuk berkata jujur.
Memang tidak ada apa-apa di bawah lemari kamarnya.
Menanggapi hal tersebut, Mumu hanya tersenyum dan berkata, "Coba Bapak cek sekali lagi di bawah lemari tapi bukan di lantai, cek bagian pojok lemari sebelah kaki lemari bagian atas."
Pak Lukman pun masuk diiringi dengan Buk Juwita, hanya butuh beberapa saat kemudian mereka berdua keluar dengan ekspresi terkejut yang terlukis di wajah mereka.
__ADS_1
Di tangan Pak Lukman tergenggam sebuah benda yang juga diikat dengan kain putih.
Pak Lukman dan istrinya tidak mengatakan apa-apa tapi mereka hanya menatap Mumu dengan pandangan bertanya.
Mumu faham maksud pandangan Pak Lukman tapi, ia hanya berkata, "Saya tak tahu kapan dan bagaimana orang menaruhnya di sana, Pak. Saya hanya punya sedikit kemampuan untuk merasakannya."
Tuk Udin sekeluarga hanya bisa menghela nafas mereka.
'Terus lah merendah diri seperti itu, pikir mereka dalam hati.
Tapi Mumu tak memberikan kesempatan kepada mereka untuk terus merenung, ia langsung menunjuk tempat-tempat yang menyembunyikan benda-benda tersebut hingga ke halaman rumah Pak Lukman.
Paling tidak ada sebanyak 17 benda yang mereka temui di sepanjang malam itu.
Hingga jam sebelas malam baru lah mereka menghentikan aktivitas mereka.
Mumu menyerahkan benda itu untuk sepenuhnya diurus oleh Tuk Udin sekeluarga.
Sedangkan Mumu segera berpamitan memasuki kamarnya dan beristirahat.
Bagai mana pun juga tenaga dalamnya belum sepenuhnya pulih, jika bukan karena benda-benda ini yang harus dimusnahkan secepat mungkin maka Mumu akan lebih memilih untuk memulihkan tenaga dalamnya terlebih dahulu.
...****************...
Di sebuah ruangan rapat di tingkat tiga RSUD, malam-malam begini beberapa orang masih tampak berkumpul di sana.
Seorang laki-laki gemuk yang berusia sekitar empat puluhan tahun sedang menatap drg. Saloka dengan tatapan dingin.
Begitu juga dengan laki-laki yang duduk di sebelahnya menggunakan pakaian parlente juga tampak geram bahkan wajahnya tampak memerah karena marah.
__ADS_1
"Apa dasar kamu merekrut orang antah berantah yang hanya tamatan SMA dengan gaji selangit, Pak Dokter? Jangan bilang karena dia mempunyai sedikit keberuntungan menyembuhkan beberapa pasien secara acak sehingga kamu telah membuat keputusan yang salah, Pak? Bagaimana pun juga, mengapa kami memilihmu untuk memimpin RSUD ini adalah karena kebijaksanaanmu. Tapi keputusanmu yang telah merekrut orang secara acak telah mengubah pandangan kami terhadapmu."