
Menjelang jam sebelas siang, Mumu menuntaskan pekerjaannya. Akhirnya kedua kaki Rudi sudah selesai diobati. Walaupun sudah sembuh tapi Rudi tidak serta merta bisa berjalan sebagaimana biasanya. Bagaimana pun juga kedua kakinya sudah tidak pernah digerakkan dalam jangka waktu yang lama sehingga dia hanya bisa berlatih melangkah secara perlahan-lahan.
Seperti kejadian tadi malam, semakin banyak orang-orang yang mengelu-elu dan tak henti-hentinya memuji Mumu.
Bahkan Pak Kades yang telah banyak melihat keahlian orang-orang di berbagai kota dan daerah lain pun dibuat tercengang.
Keahlian pemuda ini terlalu menakjubkan. Keahlian yang menentang alam.
Yang membuat orang-orang semakin menghormati Mumu adalah ia tetap bersikap rendah hati dah tidak sombong.
Ia tidak bersikap tinggi hati di atas pujian orang-orang.
Pada hal bagi sebagian orang, apa lagi yang usianya masih muda pasti tidak akan mampu menahan diri akibat pujian dari orang-orang sehingga mereka akan menjadi sok dan membanggakan diri. Ujung-ujungnya mereka akan merendahkan orang lain.
Ini adalah kesempatan baik bagi Pak Kades untuk lebih mengakrabkan diri dengan sosok yang luar biasa ini. Sebelum Pak Kades sempat bicara, para warga sudah berdesakan minta tolong diperiksa apakah ada penyakit di tubuh mereka.
"Tolong obati jari-jari tangan saya sering kaku sehingga tidak bisa mengenggam dengan kuat." Seorang pria kurus tinggi yang berusia empat puluhan tahun mengutarakan niatnya.
"Saya juga....saya juga...tangan saya keseleo sewaktu pulang dari ladang. Sudah seminggu lebih belum juga sembuh." Kata yang lain tak mau kalah.
"Mumu, saya sering sakit pinggang sehingga susah tidur di malam hari. Bisakah kamu mengobati saya."
"Itu alasan kamu saja supaya bisa nonton tv hingga larut malam tanpa diomeli istrimu." Sanggah yang lain.
"Kamu sok tahu."
Pak Kades segera maju menghentikan debat kusir yang tak ada habisnya itu.
__ADS_1
"Sudah...sudah...! Hentikan! Biarkan Mumu istirahat hari ini. Dia sudah sangat lelah karena baru saja selesai mengobati Rudi. Kalian kan lihat itu. Apa kalian tidak kasihan dengan Mumu?" Ucap Pak Kadis berapi-api.
Para warga terdiam dengan raut wajah kecewa.
Mumu hanya tersenyum simpul. Mengenai perkataan Pak Kades, ia tak ingin menanggapi.
Setelah menarik nafas, Pak Kades Mahardi melanjutkan perkataannya, "Saya sudah konsultasi dengan Mumu, meminta beliau untuk berkenan membuka pengobatan umum besok pagi di Aula Kantor Desa. Alhamdulillah beliau sudah bersedia." Pak Mahardi mengangguk ke arah Mumu sejenak lalu melanjutkan, "Jadi Bapak-bapak dimohon untuk bubar sekarang. Tolong sampaikan informasi ini ke tetangga-tetangga, saudara, handai taulan yang sakit untuk bisa datang besok pagi.
Ingat! Siapa yang datang pertama maka dia yang akan dilayani. Faham?!"
"Faham, Pak Kades!" Jawab mereka serempak.
Mereka pun berebutan salaman dengan Pak Kades, Mumu dan Pak Narto selaku tuan rumah, setelah itu mereka cepat-cepat pergi untuk memberi tahu saudara-saudara dan tetangga mereka.
Setelah para warganya semuanya pergi satu per satu, Pak Kades memasang senyum manisnya sambil berkata kepada Pak Narto, "Pak Narto, karena urusan Mumu di sini sudah selesai, jadi saya mengundangnya ke rumah saya. Sekalian makan siang di sana. Tadi saya sudah menelpon istri saya untuk segera masak untuk tamu agung kita. Pak Narto tidak keberatan bukan?"
Pak Narto sebenarnya enggan, dia dan istrinya ingin Mumu makan siang dan menginap di rumah mereka saja. Tapi karena Pak Kades sudah bersabda, maka mau tak mau dia hanya bisa mengiyakan saja dan berkata,
"Mumu, kami sekeluarga tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Rasanya ungkapan terima kasih saja tidak cukup untuk kami utarakan kepadamu. Yang jelas kami sangat berhutang budi kepadamu. Karena pertolonganmu sehingga anak kami bisa sembuh seperti sedia kala. Jika kamu mau pulang nanti tolong mampir sebentar di rumah kami ini."
"Semuanya terjadi atas kehendak-Nya, Pak. Saya hanya sebagai lantaran saja. Insya Allah nanti saya mampir ke sini sebelum pulang. Baik lah, Pak, saya pamit dulu, tak enak sama Pak Kades jika berlama-lama di sini."
"Ha ha kamu bisa saja, Mumu. Kalau begitu mari kita berangkat sekarang."
...****************...
"Apa???!! Rudi sudah sembuh? Bagaimana mungkin?" Di dalam kamar kost, Jefri sedang berteriak dengan orang yang berada di seberang telpon seakan-akan takut bahwa suaranya tak bakalan sampai di sana.
__ADS_1
Dia sedang galau karena sudah dua bulan belakangan ini hubungannya dengan Haniah mulai renggang. Semua itu sebetulnya memang salah dia. Jefri kepergok jalan sama wanita lain saat Haniah dan teman-temannya pulang dari toko buku di suatu malam.
Jefri sudah menjelaskan kepada Haniah, wanita itu hanyalah teman satu angkatannya yang minta tolong ditemanin membeli suatu barang. Akhirnya Haniah menerima penjelasan itu. Selamat, senyum simpul tersungging di bibir Jefri. Ternyata sangat mudah memperdayai sorang gadis desa. Bagaimana pun juga Jefri termasuk anak orang berada di kampungnya dan teknik rayuannya sudah bisa digolongkan kelas atas.
Seminggu yang lalu, Jefri kepergok lagi berduaan dengan cewek lain saat nonton di Bioskop.
Walaupun Haniah masih percaya dengan alasannya, tapi hubungan mereka mulai berjarak, tidak harmonis seperti mana biasanya.
Jefri sedang mencari cara untuk memperbaiki hubungan mereka. Terus terang walaupun banyak wanita lain yang menyukainya, tapi hati Jefri masih mencintai Haniah sepenuh hati. Saat ini belum ada gadis lain yang bisa mengganti posisi Haniah di hatinya.
Mengenai persoalan dia sering jalan-jalan dengan gadis lain, itu hal yang berbeda.
Jefri adalah tipe orang yang tak penyampai hati.
Dia tak sampai hati harus menolak jika ada wanita lain yang menyatakan cinta padanya. Pada hal dia hanya sekedar mengumbar sedikit kata-kata gombal.
Lagi pula dia sangat memegang teguh kalimat pertama dari pepatah lama, 'rezeki jangan ditolak.' Sedangkan mengenai kelanjutan pepatah itu, 'musuh jangan dicari.' Tentu saja hal itu sesuai suasana hatinya.
Saat dia sedang galau tiba-tiba dia memperoleh kabar yang membuat rasa rokok yang dihisapnya menjadi payau.
'Bagaimana jika Haniah mendapat kabar yang sama? Walaupun dia yakin hubungan Haniah dan Rudi tak akan serta merta membaik, tapi tetap saja berita ini tidak baik untuknya.
Oleh karena itu dia harus segera mengatur rencana.
"Kamu kumpulkan kawan-kawan yang bisa diandalkan, untuk menjebak dan memberi pelajaran pada tabib muda yang tak tahu diri itu. Buat sampai dia menyesali sepanjang hidupnya karena pernah datang ke kampung kita dan sok memamerkan ilmu pengobatannya. Setelah selesai, kalian semua harus segera membuat Rudi lebih menderita lebih dari sebelumnya. Tentu kamu paham maksudnya kan?!" Jefri tersenyum sinis. Ada kekejaman di wajahnya.
"Siap, Bos! Berapa orang yang perlu aku bawa? Orang-orang kita hanya ada tujuh orang." Ucap suara di seberang telpon.
__ADS_1
"Mana cukup jika hanya bertujuh. Aku ingin rencana ini sukses tanpa sedikit pun kemungkinan gagal akibat hal-hal yang tidak kita duga.
"Pokoknya cari orang-orang tak boleh kurang dari sepuluh orang. Ingat itu! Se pu luh orang. Nanti aku kirim uang ke rekening kamu."